SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

14 Kasus Kejahatan per Hari, Pencurian Marak Menjelang Ramadan

14 Kasus Kejahatan per Hari, Pencurian Marak Menjelang Ramadan
Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian. Foto Arrazy Aditya.

BATAM – Ada 1.232 kasus kejahatan di Kepri sepanjang triwulan pertama tahun ini atau ada 14 kasus kejahatan per hari. Angka ini turun dibanding tahun lalu yang mencapai 1.510 kasus. Namun kasus pencuriannya lebih tinggi dibanding tahun lalu.

===============
Pintu terali besi terpasang kokoh menutup pintu utama rumah Adra (43) di Kavling Baru Telagapunggur. Ia sengaja menambah keamanan rumahnya untuk menghindari maling yang pernah menyatroni.

Sebelum pintu besi itu terpasang, sepeda motor miliknya yang diparkir dalam rumah raib. Engsel pintu rumah dengan mudah dirusak maling. “Kalau sudah pakai pintu besi seperti ini amanlah,” katanya kepada KORAN SINDO BATAM, Minggu (30/4).

Tak hanya Adrayang makin memperketat keamanan rumahnya. Beberapa warga juga melakukan upaya antisipasi agar maling tak leluasa melancarkan aksi mereka. Selain memasang pagar rumah, motor-motor yang terparkir di luar rumah dikunci menggunakan gembok.

Demi memperketat keamanan, warga RW 19 Kavling Senjulungbaru Telagapunggur, bahkan kini membangun gapura beserta portal dan pos penjagaan. Sistem keamanan keliling (Siskamling) diberlakukan warga. “Sebelum dibangun, hampir tiap hari warga kehilangan motor,” kata Mursalim Ketua RT VI di RW 19 itu.

Sejumlah perumahan lain juga melakukan hal yang sama, terutama di perumahan yang kerap kebobolan. Di perumahan Baverly Boulevard Batam Centre, misalnya. Setiap tamu yang masuk diperiksa dan ditanya tujuan dan keperluannya oleh sekuriti. Tiap jam pengawal perumahan juga berkeliling memastikan keamanan.

“Pemilik rumah juga mulai memasang kamera CCTv untuk antisipasi lagi,” kata Dedi sekuriti di perumahan tersebut.

Pencurian Tertinggi
Pencurian memang menjadi momok utama kasus kejahatan di Kepri. Sepanjang triwulan pertama 2017 ini, ada 1.232 kasus kejahatan yang terjadi dengan 227 di antaranya adalah kasus pencurian.

Jika dibandingkan, ada penurunan kasus kejahatan dibanding tahun 2016 lalu yang mencapai 1.510 kasus. Namun, kasus pencurian tahun lalu hanya 201 kasus.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga mengatakan, dari 1.232 kasus kejahatan tersebut, separuhnya atau 611 kasus sudah diselesaikan.

“Jumlah kasus dan penyelesaian itu untuk seluruh kesatuan Polres, Polresta, maupun Polda Kepri,” kata Erlambang, Jumat (28/4).

Meski ada penurunan tindak kejahatan pada triwulan pertama tahun ini, kata Erlangga, tapi kasus pencurian biasa masih tinggi. “Tahun ini, triwulan pertamanya ada 227 kasus, penyelesaiannya baru 89 kasus,” ungkapnya.

Kasus kejahatan yang menonjol, kata dia, adalah tindak pidana pungutan liar terhadap para pedagang pasar Bintan Centre KM IX Tanjungpinang. Sementara kasus pungli di Batam belum masuk rekapan triwulan pertama.

Kasus narkotika juga mengemuka. Polsek Bintan pernah mengamankan barang bukti sabu-sabu seberat 16 kilogram dan 1.005 butir pil ekstasi. “Polresta Barelang juga mengamankan 7 orang terduga pengedar narkoba dengan barang bukti 1.266,72 gram sabu-sabu, 44 butir pil ekstasi dan 14,15 gram heroin,” ujarnya.

Ada juga kasus penculikan warga Malaysia yang diungkap Bareskrim Polri dan Polda Kepri. “Kami juga mengamankan 5 orang terduga pelaku curas pecah kaca mobil di wilayah Polresta Barelang,” ucapnya.

Dari Maling hingga Rampok
Kasus perampokan di siang bolong yang dialami Yuli (26) di Simpang Franky, Batam Centre, Kamis (27/4), masih samar. Meski sudah empat hari berlalu, pelakunya tak kunjung terlacak.

Wajah salah satu pelaku terekam jelas di benak Yuli, karyawan bagian keuangan taksi berargo Silver Cab. Pasalnya, saat mengambil tas usai memecahkan kaca mobil, rampok tersebut sempat bertatapan dengan Yuli.

“Waktu kaca dipecahkan, saya terkejut dan bingung, tak bisa berbuat apa-apa,” kata Yuli.

Sepekan sebelumnya, Alfamart di Ruko Air Mas Batam Centre juga dirampok, Rabu (19/4) sekira pukul 05.00. Tiga perampok bersenjata parang mengancam dua karyawan Alfamart dan membawa kabur uang Rp18 juta dari meja kasir dan brankas. Seperti pada kasus Yuli, perampokan di Alfamart juga belum terungkap.

Selain dua kasus perampokan, kasus pencurian dan pencurian sepeda motor banyak terjadi di Batam. Sebagian ditangkap polisi, sebagian sempat ditangkap massa sebelum polisi datang.

Seperti Sony Saputra (33) yang ditabrak korbannya saat merampas handphone Tan Jaw Hong di Top 100 Bengkong, pekan lalu. Ironisnya, Sony merampas HP saat membonceng istrinya.

“Saya butuh uang, istri saya tidak tahu apa-apa,” kata Sony kepada KORAN SINDO BATAM, Rabu (19/4).

Butuh uang karena sedang menganggur, juga jadi alasan Frendly (23)saat hendak mencuri sarang walet di kawasan Carina, Batuaji, Kamis malam (9/2). Ia ditangkap warga karena ketahuan pemilik ruko.

Tak hanya rumah, mobil juga jadi sasaran maling. Banyak tas berisi uang yang ditinggal pemiliknya dibawa lari garong dengan memecahkan kaca mobilnya terlebih dahulu. Seperti yang dialami Heri Santoso (48) saat memarkirkan mobil Grand Livina BP 1464 DL di parkiran Masjid Nurul Islam.

Usai salat, Heri tak langsung kembali ke mobilnya, tapi makan dulu di kantin masjid. Saat hendak kembali ke perusahaan tempatnya bekerja yang juga berada di dalam kawasan Batamindo, ia mendapati kaca depan sebelah kanan telah pecah dan uang yang baru saja diambil di bank sebanyak Rp70,35 juta telah hilang. “Uang saya simpan di bawah jok dan dibungkus plastik warna hitam,” ujarnya.

Polisi juga bekerja cukup keras untuk mengungkap kejahatan di Kepri. Beberapa di antara pelaku bahkan ditembak karena melawan. Bulan lalu misalnya, ada empat orang yang ditembak.

Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian mengungkapkan empat yang ditembak ini merupakan bagian dari lima orang sindikat pelaku pembobolan mobil. “Mereka telah beraksi puluhan kali di berbagai tempat,” kata Sam saat ekspos perkara di Mapolresta Barelang, Rabu (29/3).

Kelima pelaku pecah kaca ini, kata Sam, adalah Ahmad (29), Hegi (28), Novi (43), Anwar (39) dan April (35) yang merupakan seorang perempuan. Mereka diringkus berkat kerja sama anggota Reskrim Polresta Barelang, Polsek Batam Kota dan Polsek Sagulung.

Sam menyebut sebanyak 12 laporan kasus ini telah masuk ke meja kepolisian. Lima laporan di Polsek Batam Kota, dua laporan di Polsek Nongsa, Polsek Nongsa dan Batuampar masing-masing satu laporan dan dua laporan di Polsek Sagulung.

“Para pelaku mengaku telah 20 kali membobol mobil, kemungkinan masih ada korban lain yang belum membuat laporan ke kami,” ujarnya.

Selain pelaku pembobolan mobil, polisi juga mengungkap sejumlah kasus pencurian sepeda motor. Seperti empat pelaku pencurian sepeda motor antarpulau yang dibekuk oleh jajaran Unit Reskrim Polsek Sagulung. Belasan unit kendaraan hasil curian turut diamankan polisi dari komplotan ini.

Empat pelaku yang ditangkap yakni Ramadan (37), Zainal (22), Firman (26) dan Jon (22). Mereka sudah beraksi sejak Desember 2016 lalu dan berhasil mencuri 22 unit sepeda motor. “Motor curian ini dijual ke Pulau Moro dan Tembilahan,” kata Kapolda.

Faktor Ekonomi
Pengamat Sosial Kota Batam Amrullah Rasal mengatakan, kondisi perekonomian di Batam yang sedang menurun merupakan faktor utama tingginya angka kriminal di Batam. Masyarakat diimbau agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya menjelang Ramadan dan Lebaran karena aksi kriminalitas semakin meninggkat.

“Apalagi nanti seperti di bulan Ramadan, saya kira ini merupakan penyakit tahunan,” ujarnya kepada KORAN SINDO BATAM, Minggu (30/4).

Dia mengatakan, meningkatnya jumlah pengangguran akibat rendahnya investasi dan tidak adanya lapangan kerja tetap menjadi alasan dalam melakukan perbuatan yang negatif. Pemerintah daerah diminta segera mencari solusi atas kondisi tersebut dengan membangkitkan kembali program padat karya.

“Ditambah lagi dengan naiknya bahan pokok dan tarif listrik. Pemerintah harus menyadari kondisi ini dengan mendatangkan investor untuk berinvestasi di Batam,” katanya.

Amrullah mencotohkan, kepala keluarga harus memenuhi kebutuhan keluarganya yang besar, tapi pekerjaannya tidak tetap. Akhirnya, ia mengambil jalan pintas dengan melakukan kejahatan situasional. Selain itu, tradisi pulang kampung bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan. “Melihat orang mengumpulkan uang untuk pulang kampung juga memicu tindak kejahatan. Mereka tergiur untuk menjarah hasil jerih payah masyarakat,” ujarnya.

Faktor sosial kehidupan modern kini, kata dia, membuat seseorang fokus pada kepentingan ekonomi masing-masing. Akibatnya, membuat seseorang kehilangan kerabat yang bisa memberi dukungan terutama ketika mengalami kesulitan. Dampaknya, psikologis seseorang akan terganggu sehingga mudah stres dan frustrasi.

“Setiap orang sibuk berkompetisi secara ekonomi, untuk memenuhi kehidupan modern yang sangat tidak murah,” ujarnya.

Dosen Fisipol Universita Riau Kepulauan itu mengatakan, kepolisian memiliki cara tersendiri untuk mengatasi berbagai kasus tahunan tersebut sebagai upaya pencegahan dan meminimalisir kriminal di Batam. Menurut dia, butuh sinergi antara masyarakat dan kepolisian untuk menekan tingkat kriminalitas, seperti perampokan, perampasan, atau pencurian. “Ada peluang karena lemahnya pengawasan,” katanya.

Kapolresta Barelang AKBP Hengky meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Angka kejahatan di Batam, katanya, tak terlalu tinggi. Namun, kasus pencurian tetap mendominasi.

Ia mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga keamanan mereka, misalnya dengan tidak meninggalkan rumah sembarangan, sepeda motor digembok dan diparkir di lokasi resmi. “Juga jangan pakai perhiasan yang berlebihan,” katanya.

Hengky juga meminta perumahan mengaktifkan sistem keamanan lingkungan mereka. “Aktifkan Siskamling di RT/RW, Satpam harus aktif, patroli,” katanya.

muhammad ilham/teuku bayu/m arief/iwan sahputra/tommy purniawan

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com