SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

166 Warga Terserang DBD

  • Reporter:
  • Jumat, 15 Maret 2019 | 10:41
  • Dibaca : 77 kali
166 Warga Terserang DBD
Warga melakukan pengasapan (fogging) di kawasan Bengkong Sadai, belum lama ini. Hingga Februari, Dinkes Batam mencatat 166 kasus DBD. f teguh prihatna

SEKUPANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat 166 kasus demam berdarah dangue (DBD) di awal tahun 2019. Di Januari lalu ada sebanyak 89 penderita DBD. Sedangkan di Februari, tercatat 77 penderita yang tersebar di wilayah Kota Batam.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, banyak faktor menyebabkan kasus DBD cukup tinggi di Batam, meski mulai ada penurunan. “Turun, tapi masih ada terus. Karena banyak faktor tidak hanya musim hujan saja, perilaku hidup sehat juga,” ujarnya, Kamis (14/3).

Menurut dia, berbagai langkah sudah dilakukan lebih intens di semua Puskesmas yang ada di Batam. Misalnya membentuk juru pemantau jentik (Jumantik) dan penerapan perilaku hidup sehat, seperti memberantas sarang nyamuk di lingkungan keluarga. “Dinkes sudah mulai melakukan langkah-langkah untuk mengatasi, namun juga membutuhkan bantuan warga . Sedangkan Maret masih sedang pendataan, semoga mulai berkurang” harapnya.

Untuk menekan penularan penyakit yang disebarkan nyamuk aedes aegypti,, Wali Kota telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh lurah untuk mengaktifkan pembasmian sarang nyamuk.

Masyarakat diimbau untuk menggiatkan gotong royong membersihkan rumah dan lingkungan agar terbebas dari jentik nyamuk. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program pengasapan (fogging) untuk membasmi nyamuk dewasa. “Pengasapan sifatnya sudah ada. Sebenarnya yang penting itu, membasmi sebelum menjadi nyamuk,” katanya.

Masyarakat juga diingatkan untuk mengaktifkan 3M plus yakni menguras, menutup, mengubur barang-barang yang bisa menjadi tempat air tergenang, disertai dengan menaburkan bubuk abate dan menghindari menggantung baju.

Kepala Puskesmas Sekupang, Desi Atri mengaku sudah membentuk kader Jumantik khusus pelajar yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sekupang. Pelajar diberikan pendidikan mengenai DBD dan dampaknya. Selain itu, mereka juga dibekali ilmu memberantas sarang nyamuk, termasuk memantau jentik di tempat yang sangat berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Sudah kami beritahu semua. Dan mereka nanti juga diajarkan untuk membuat laporan mengenai pemantauan yang mereka lakukan. Lokasi terdekat ada tempat tinggal mereka,” jelasnya.

Jumantik ini, kata dia, bisa menjadi upaya mencegah nyamuk berkembang biak. Siswa yang menjadi Jumantik bisa menjadi perpanjangan tangan Dinkes dalam menekan penyebaran DBD. “Jadi nanti mereka bisa menularkan ilmunya ke kawan-kawan juga. Pesan tersampaikan, meskipun tidak semua yang ikut sosialisasi,” kata Desi.

Ia menyebutkan, tahun 2018 lalu terdapat lebih dari 60 kasus DBD di wilayah Sekupang. “Kalau Februari ada tujuh untuk di daerah sekupang saja kalau tidak salah,” katanya.

Masuk Siklus Epidemologi

Jumlah kasus DBD mengalami peningkatan di sejumlah daerah, termasuk Kepri. Hal ini dikarenakan awal tahun 2019 masuk dalam siklus epidemologi. Siklus epidemologi adalah siklus dimana keganasan virus aedes aeygipti tengah berada di puncaknya. Siklus ini terjadi setiap lima tahun sekali. Pada siklus ini, penderita DBD akan meningkat tajam dikarenakan daya imun atau kekebalan tubuh lebih rendah dibandingkan dengan keganasan virus tersebut. Hal ini juga mengakibatkan ancaman kematian meningkat tajam.

Dari data yang ada diketahui, kasus DBD di Kepri mencapai 234 kasus pada Januari 2019 dengan 2 orang penderita yang meninggal dunia. Jumlah ini meningkat dari Desember 2018, di mana tercatat 113 kasus DBD. “Dari seluruh kota dan kabupaten di Kepri, Batam merupakan kota dengan kasus DBD tertinggi yakni 83 kasus. Disusul oleh Tanjungpinang sebanyak 74 kasus, Karimun 42 kasus, Bintan 30 kasus dan Lingga sebanyak 6 kasus,” kata Kepala Dinkes Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana, belum lama ini.

Tingginya angka penderita DBD ini harus mendapatkan penanganan yang lebih serius. Bahkan, penanganan ini telah diinstruksikan mulai dari tingkat menteri hingga ke lingkungan petugas kesehatan terkecil di puskesmas-puskesmas. “Kami terus melakukan penyuluhan, melakukan fogging dan pemusnahan sarang jentik-jentik serta langkah lainnya,” ujarnya.

Tjetjep menambahkan, peran masyarakat sangat penting dalam menentukan menentukan keberhasilan penanggulangan virus DBD ini. Pasalnya, pemerintah melalu Dinkes hanya dapat melakukan proses pencegahan melalui obat dan kegiatan fogging secara bertahap. “Karena foging hanya bersifat sementara. Kalau telur nyamuk ini sudah menetas dan menyerang, penyebaran akan sangat mudah,” katanya. cr1/aini lestari

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com