SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

2030, RI Siap Masuk 10 Besar Ekonomi

  • Reporter:
  • Kamis, 22 Maret 2018 | 14:57
  • Dibaca : 395 kali
2030, RI Siap Masuk 10 Besar Ekonomi

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan program Making Indonesia 4.0 yang merupakan sebuah roadmap terintegrasi dan kampanye untuk mengimplementasikan strategi Industry 4.0 pada 4 April 2018.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, dalam peta jalan tersebut telah dipilih lima sektor yang menjadi fokus untuk memperkuat funda mental struktur industri Indonesia. Adapun kelima sektor tersebut, yaitu industri makanan dan minuman, industri automotif, industri elektronik, industri kimia, serta industri tekstil.

”Sektor-sektor prioritas tersebut merupakan sektor yang dinilai paling siap mengimplementasikan Industry 4.0. Apabila dilakukan implementasi Industry 4.0 dengan benar akan dapat membawa capaian aspirasi yang telah kita tetapkan,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Airlangga mengatakan, dari program Making Indonesia 4.0 ini pemerintah memiliki sejumlah aspirasi atau target yang akan dicapai, yaitu Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada 2030 dan mengembalikan angka net export industri 10%.

Selain itu, peningkatanproduktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibandingkan dengan peningkatan biaya tenaga kerja serta pengalokasian 2% GDP untuk aktivitas reaserch and development (R&D) teknologi dan inovasi atau sekitar 7kali lipat dari yang tersedia saat ini.

”Dalam roadmap ini diimplementasikan Industry 4.0 telah dipersiapkan berbagai inisiatif strategis untuk masing- masing sektor prioritas. Inisiatif Industry 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek industri, bahkan juga mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia,” tuturnya.

Airlangga mengungkapkan, semua negara masih mempelajari implementasi sistem Industry 4.0 sehingga dengan penyiapan peta jalannya, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci di Asia. Bahkan di banyak negara telah menyerap pergerakan ini ke agenda nasional mereka dalam merevolusi strategi industrinya agar semakin berdaya saing global.

”Seperti Thailand juga mengantisipasi revolusi Industry 4.0 dengan mempromosikan Manufacturing Thailand. Kita sama-samabersainguntuklebih dulu masuk revolusi Industry 4.0 dengan program Making Indonesia 4.0,” ungkapnya. Airlangga menuturkan, sektor industri nasional sendiri perlu banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era Industry 4.0.

”Jadi, langkah dasar yang sudah diawali Indonesia, yakni meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program link and match antara pendidikan dengan industri,” ujarnya. Terkait hal ini, pemerintah sedang menggodok insentif bagi dunia usaha yang me lakukan investasi di bidang vokasi maupun riset dan pengembangan (research and development) akan diberikan insentif dalam bentuk Pajak Penghasilan (PPh).

”Kami sudah sampaikan insentif untuk vokasi 200% dan R&D 300%. Ini masih ada pembicaraan dengan Kementerian Keuangan apakah permintaan 300% diberikan atau disamakandenganvokasi,” ungkapnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara mengatakan, penerapan Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama membutuhkan kompetensi tinggi. Karena itu, dibutuhkan transformasi keterampilan bagi SDM industri di Indonesia yang mengarah pada bidang teknologi informasi.

”Studi yang dilakukan terhadap industri yang ada di Jerman menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan hingga 96%, khususnya di bagian R&D dan pengembangan software,” ungkapnya. Ngakan menuturkan, penerapan Industry 4.0 memang akan mengakibatkan terjadi shifting pekerjaan.

Di sisi lain, dengan penggunaan teknologi terkini dan berbasis internet, muncul pula permintaan jenis pekerjaan baru yang banyak, seperti pengelola dan analis data digital serta profesi yang bisa mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri.

”Bahkan, ada beberapa potensi keuntungan yang dihasilkan seperti menciptakan efisiensi yang tinggi, mengurangi waktu dan biaya produksi, meminimalkan kesalahan kerja, serta peningkatan akurasi dan kualitas produk,” tuturnya.

Ngakan menambahkan, untuk menjamin keberlangsungan sistem Industry 4.0 berjalan optimal, ada beberapa prasyarat harus dipenuhi industri. Kebutuhan penunjang itu di antaranya ketersediaan sumber daya listrik yang melimpah, murah, dan kontinu, serta ketersediaan infrastruktur jaringan internet dengan bandwidth yang besar dan jangkauan luas (wide coverage ).

oktiani endarwati

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com