SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

24 Tahun ATB Mengabdi, Mengaliri Sampai Nanti

  • Reporter:
  • Sabtu, 9 Maret 2019 | 15:33
  • Dibaca : 277 kali
24 Tahun ATB Mengabdi, Mengaliri Sampai Nanti
Pegawai ATB sedang mengecek pengolahan air di Dam Mukakuning, beberapa waktu lalu. f agung dedi lazuardi

PERJALANAN panjang telah dilalui PT Adhiya Tirta Batam (ATB), 24 tahun sudah perusahaan swasta ini mengabdi dan melayani masyarakat di Pulau Batam. Sejak tahun 1995 lalu, ATB terus berkomitmen untuk menyediakan suplai air bersih yang terjamin kuantitas, kualitas, dan kontinyuitasnya. Guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Batam kini dan sampai nanti.

AHMAD ROHMADI, Batam

Suara air mengalir terdengar di Water Treatment Plant (WTP) Duriangkang, dari sana lah proses pengelolaan air baku menjadi air bersih dimulai. Banyak tahapan yang harus dilalui sebelum air bersih tersebut didistribusikan kepada pelanggan. Kelihatanya memang mudah, tapi sebagai pulau yang yang tidak memiliki sumber mata air pegunungan membuat Batam sangat bergantung dengan air hujan.

Dari air hujan itu lah air ditampung dalam waduk, sebelum nantinya diolah menjadi air bersih. Ada beberapa tahapan pada proses pengolahan air, pertama adalah intake, yakni mengambil air baku dari waduk dengan cara di pompa. Untuk di Duriangkang sendiri antara waduk dengan WTP berjarak sekitar 300 sampai 400 meter. 

“Proses yang ke dua adalah Aerator. Proses ini berfungsi untuk mengurangi bau seperti bau lumpur, lumut dan lainya. Kemudian juga penambah oksigen pada badan air, dan mengoksidasi kandungan di badan air,” kata Estiyudo Listiyadi Manager Produksi ATB, Sabtu (23/2/2019).

Setelah itu masuk dalam proses koagulasi, dimana merupakan sebuah proses koagulan dicampur dengan air baku selama beberapa saat hingga merata. Setelah pencampuran ini, akan terjadi destabilisasi koloid yang ada pada air baku. Kemudian masuk dalam tahap pulsator merupakan suatu unit yang berfungsi sebagai flokulator dan sedimentasi. 

Sedimentasi sendiri merupakan pemisahan partikel secara gravitasi setelah endapan terbentuk dari proses koagulasi flokulasi. Pada bak sedimentasi dilengkapi tube settler yang bertujuan mempercepat proses pengendapan. Setelah proses sedimentasi, proses selanjutnya adalah filtrasi. Unit filtrasi ini, disini adalah proses finishing, yang dikontrol lagi, untuk memastikan bebas bakteri.

“Selain itu juga ada proses reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih yang telah disaring melalui filter. Air ini sudah menjadi air yang bersih yang siap digunakan dan harus dimasak terlebih dahulu untuk kemudian dapat dijadikan air minum,” katanya.

Estiyudo mejelaskan ada delapan proses yang harus dilalui dalam pengelolaan air baku menjadi air bersih dan sampai didistribusikan kepada konsumen. Untuk delapan proses tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Karena itu ketika air hujan turun menurut dia tidak serta merta langsung menjadi air bersih, melainkan harus diolah di WTP.

“Kita beroperasi selama 24 jam satu minggu. Artinya jika tidak ada kendala kami terus beroperasi,” katanya.

Presiden Direktur ATB, Benny Adrianto mengatakan setiap tahapan pengelolaan air baku menjadi air bersih dan didistribusikan kepada pelanggan dilakukan dengan profesional. Karena kepuasan pelanggan menurut dia adalah nomor satu, dan akan terus dilakukan. Ia juga menegaskan pihaknya tidak akan menurunkan pelayanan meskipun jelang konsesi berakhir pada 2020 mendatang.

Benny juga menjelaskan dengan cakupan pelayanan mencapai 99,5 persen dan tingkat kebocoran air terendah di Indonesia untuk kategori PDAM besar, membuat ATB menjadi rujukan perusahaan air minum nasional maupun internasional. Kemudian, dalam tiga tahun terkahir sedikitnya ATB kata dia sudah menerima 22 penghargaan dari berbagai bidang. Hal ini dinilai membuktikan bahwa ATB memiliki prestasi yang kosisten dan sulit ditandingi oleh perusahaan air lainnya di Indonesia.

“Tapi kami tidak boleh terlena dengan penghargaan. Kami ingin penghargaan ini benar-benar memacu kinerja menjadi lebih baik ke depan,” kata Benny.

Kemudian, dalam proses operasional ATB memanfaatkan teknologi SCADA, GIS dan mobile application untuk mendukung setiap pekerjaan. Teknologi SCADA memungkinkan petugas ATB melakukan kendali dan pengawasan jarak jauh terhadap proses produksi dan distribusi yang berlangsung di setiap Instalasi Pengolahan Air. Lewat perangkat SCADA operator dapat mendeteksi kekuatan aliran dan tekanan air, debit air, kapasitas dan kualitas air yang diproduksi dari satu tempat.

Integrasi GIS dengan SCADA memungkinkan sistem SCADA menjadi lebih baik, karena GIS membantu menyajikan pemetaan jaringan, lokasi logger, lokasi aset dan lokasi produksi sehingga memudahkan dalam memonitor proses dan analisa lokasi dalam SCADA. GIS (Geographic Information System) yang dibangun oleh ATB mengalami perkembangan fungsi dan keunggulan untuk mendukung produktifitas dan efisiensi terutama dalam penurunan jumlah kebocoran NRW.

“Teknologi ini sebagai salah satu upaya kita untuk terus meningkatkan pelayanan kepada kepada pelanggan,” katanya.

Sejak tahun 1996 ATB terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Batam, jumlah pelanggan yang waktu itu hanya 20.349 terus meningkat setiap tahunnya. Menurut dia pada tahun 2018 jumlah pelanggan ATB sekitar 281.584 sambungan dan diperdiksi terus tumbuhnya jumlah penduduk di Batam, jumlah pelanggan juga akan terus meningkat.

“Tahun 2019 memang kami tidak ada investasi karena menjelang akhir konsesi. Namun kami akan menjamin pelayanan ATB akan terus baik sampai akhir konsesi,” jelasnya. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com