SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

32 Jurnalis Luncurkan Buku tentang KPK

  • Reporter:
  • Minggu, 11 Februari 2018 | 14:39
  • Dibaca : 48 kali
32 Jurnalis Luncurkan Buku tentang KPK

JAKARTA – Semangat juang para jurnalis dalam menjalankan tugas mengawasi, mengawal, dan menjaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terangkum dalam buku Serpihan Kisah Jurnalis Tiang Bendera.

Buku itu diluncurkan dan di bedah dalam Sara sehan Pustaka yang digelar KPK bekerja sama dengan Tempo Publishing di Aula Serba Guna Gedung Penunjang, Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (9/2). Acara juga bertepatan dengan Hari Pers Nasional.

Buku yang diterbitkan Penerbit Tempo Publishing (Februari 2018) ini ditulis oleh 32 jur nalis dan eks-jurnalis yang ma sih dan pernah meliput di KPK dan Pengadilan Tipikor Jakarta. Mereka bahkan ada yang bertugas sejak KPK masih di kantor lama, yakni di Jalan Veteran hingga di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

Buku yang terdiri atas 34 tulisan tersebut dieditori Muhammad Taufiqorahman dan diberi pengantar oleh Najwa Shihab, jurnalis sekaligus founder Narasi.tv. Buku itu dibedah oleh tiga pembicara, yakni Ketua KPK Agus Rahardjo, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Pusat Abdul Manan, dan perwakilan 32 jurnalis penulis, termasuk wartawan KORAN SINDO, Sabir Laluhu.

Sementara Juru Bicara KPK Febri Diansyah bertindak sebagai moderator. Secara umum buku tersebut memotret hal-hal terkait perjalanan dan keberadaan KPK selama 15 tahun (bila diukur dari UU No 30/2002 tentang KPK).

Pertama, proses, cara, dan perjalanan para jurnalis meliput di KPK dan Pengadilan Tipikor Jakarta serta pengawalan KPK.

Kedua, cara dan hasil kerja KPK secara kelembagaan.

Ketiga, per sonel KPK yang menjalankan tugas penindakan serta pencegahan. “Posisi jur nalis dekat dengan narasumber dan pos liputan, tapi juga kritis. Kita boleh dekat dengan KPK, tapi juga harus ada jarak yang dijaga,” ungkap Sabir. Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, keberadaan jurnalis dan pers sa ngat penting dalam penegakan hukum, ter masuk pemberantasan korupsi, terutama yang di lakukan KPK.

Agus menilai, cerita-cerita yang ada dalam buku ini menggam barkan kecintaan jurnalis terhadap KPK. Karenanya, segala kritik, saran, dan masukan me rupakan bagian yang sangat ber harga dalam keber langsung an keberadaan KPK. “Peran wartawan sangat pen ting dalam pemberantasan ko rupsi. Terima kasih sudah meng kritik dan memberikan ma sukan kepada KPK.

Terus awa si KPK dan memberikan pen cerahan kepada masyarakat,” ujar Agus. Dia me nu turkan, di sisi lain KPK tetap berharap agar media massa dan para jurnalis konsisten dalam memberikan jalan keluar dan te rus menggemakan bidang pen cegahan serta perbaikan sistem.

Sebab, kalau berbicara ko rupsi, tidak hanya bicara pe nindakan seperti menang kap orang atau menetapkan orang se bagai tersangka. Namun, ba gaimana setelah ka sus tersebut terjadi, kemu dian adanya perbaikan lewat pencegahan yang terus-menerus. Karena kerusakan akibat korupsi di ber bagai sektor atau bidang acap kali sangat besar.

Bahkan merugi kan masyarakat luas. “Saya ingin jurnalis untuk selalu mengingatkan, mengajak, dan menyadarkan rakyat un tuk ikut berkontribusi mencegah korupsi. Paling tidak agar mendorong korupsi bisa di minimalkan,” ucapnya.

Abdul Manan berpandangan, buku ini sangat menarik karena menunjukkan batas dan profesionalitas para jurnalis dengan KPK. Secara umum, hubungan jurnalis dengan penegak hu kum termasuk KPK adalah simbiosis mutualisme. “Buku ini memadukan pengetahuan dan skill.

Namun, ma sukan saya, seharusnya buku ini lebih detail lagi teknis dan cara meliput di KPK atau Pengadilan Tipikor Jakarta. Karena ba gi saya, buku bisa menjadi pan duan bagi wartawan yang mau meliput di KPK dan Pengadilan Tipikor,” ujar Manan. Dalam acara ini para jurnalis penulis juga menyampaikan kisah-kisah dan isi tulisan yang dibuat masing-masing.

Ada yang menyampaikan dengan cara jenaka, serius, unik, dan lucu. Dari generasi wartawan era pimpinan KPK pertama hadir Suriya Mohamad Said (KORAN SINDO dan Sindonews.com). Said mengatakan, dia me ra sa kan betul saat nge posdiKPKsa at masihdiJalan Veteran pada 2005. Menurut Said, sejak era pimpinan KPK pertama memang KPK sudah mulai ditakuti para ko ruptor.

Pada era pertama tersebut, tidak ada sekat antara para jurnalis dan narasumber di KPK, baik juru bicara yang saat itu dijabat Johan Budi Sapto Pribowo, para penyidik, direktur penyidikan, maupun sekelas pimpinan. Selain Sabir dan Said, ada 30 jur nalis lain yang menyumbang kan tulisan.

Di antaranya Abba Gabrilin (Kompas.com), Aghnia Adzkia (Beritagar.id), Agus Dwi Prasetyo (harianJawa Pos), Antony Lee (harian Kompas), Aulia Pane (iNews TV), Bayu Primanda (Akurat.co), De di Muhsoni (Jak TV), Desca Lidya Natalia (LKBN Antara), Dhani Irawan (Detik.com), Dimeitri Marilyn (RRI ), Elverina Hidayat (Metro TV), Fathan Qorib (Huku m online.com), Ira Vera Tika (Ha rian Umum Pikiran Rakyat), dan Katrina Inandia (mantan jurnalis Beritasatu TV dan CNN Indonesia TV ).

Kemudian, Kuswandi (Jawa-pos.com), Mahendra Bungalan (harian Suara Merdeka), Maria Sarjana (CNN Indonesia TV), Mario Pasaribu (Metro TV), Maya Ayu Puspitarsari (Tempo), Moksa Hutasoit (Era.id), Muhammad Rizki Kurniawan (Kumparan.com), Okky Madasari (kini sastrawan), Oscar Ferry (CNNIndonesia.com), Putri Annisa (Jawapos.com), Riana AIbrahim (harian Kompas), Rita Ayuningtyas (Liputan6.com), Supriyan to Rudatin (Radio El shinta), TriSuharman(MetroTV ), VenyF Sinuraya (Kompas TV ), dan Wahyu Seto Aji (MNC Media ).

sabir laluhu

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com