SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Agen Wisata Ilegal Manfaatkan Medsos

Agen Wisata Ilegal Manfaatkan Medsos
Wisman yang baru datang ke Batam. Foto Teguh Prihatna.

BATAM KOTA – Teknologi informasi yang semakin maju dinilai ikut mempengaruhi perkembangan travel agent (agen wisata) tak berizin. Mudahnya promosi malalui media sosial (medsos) juga membuat banyak orang memanfaatkan hal ini untuk menarik wisawatan asing datang ke Batam.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Batam, Udin P Sihaloho mengatakan, di era yang maju saat ini segala sesuatu mudah didapat melalui online. Karena itu tidak heran jika agen wisata berkembang dan tumbuh dengan pesat, termasuk bagi mereka yang tidak memiliki izin dari pemerintah. “Wisatawan memesan agen wisata banyak yang tidak tahu mana yang resmi dan tidak resmi,” ujarnya, Senin (15/5).

Namun, selain kemajuan teknologi juga ada berapa hal yang membuat semakin banyaknya agen wisata tidak berizin. Menurut dia, salah satunya juga karena ketidaktahuan para pemilik agen wisata, sehingga butuh pembinaan bagi mereka yang belum memahami mekanismenya.

Karena itu, pihaknya menyarankan kepada Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Kepri untuk memberikan workshop kepada agen wisata yang belum punya izin sehingga bisa mengarahkan untuk mengurus perizinan. “Kemungkinan saja mereka masih pemula, jadi belum tahu aturan-aturannya,” katanya.

Sehingga apapun yang menjadi kendala di lapangan ASITA sebagai induk organisasi bisa ikut membantu. Dengan pelatihan juga bisa langsung dilakukan pendataan dan mungkin bisa diajak langsung bergabung dengan wadah tersebut.

Keberadaan ASITA di Kepri, khususnya Batam sangat memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Dia menilai, di satu sisi memang perlu penyeragaman di antara agen wisata. “Era sekarang ini memang sulit untuk dihindari. Sama seperti halnya transportasi yang ada saat ini. Ada yang transportasi online dan reguler,” kata Udin.

Optimalkan Pariwisata
Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kepri rekomendasikan pengembangan pariwisata untuk mengangkat kembali perekonomian Kepri. “Ketika growth (pertumbuhan ekonomi) dua persen, kita harus optimalkan pariwisata,” kata Kepala BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra.

Menurut dia, pariwisata Kepri masih bisa diandalkan meski ada beberapa hal perlu perbaikan atau peningkatan. Pertama yaitu dari segi objek wisata. Karena berdasarkan hasil penelitian BI Kepri di tahun 2016, kunjungan wisatawan masih seputar pelaksanaan meeting, incentive convention, and exhibition (MICE). “Berdasarkan hasil survei, wisata utama MICE. Berlibur masih rendah dari MICE,” ujarnya.

Survei dengan responden wisatawan ini dilakukan dalam rangka penelitian “Dampak Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) terhadap pariwisata Kepri”. Penelitian dilakukan oleh Analis Keuangan BI Kepri, Wahyu Setyoko sepanjang 2016 lalu.

Berdasarkan hasil penelitian, MEA belum berdampak positif bagi pariwisata Kepri. Setidaknya persepsi pelaku bisnis pariwisata di Kepri menyatakan hal tersebut.
Sebanyak 60 persen responden mengatakan, MEA tidak berdampak pada pariwisata. Kemudian 50 persen responden mengatakan kenaikan bisnis yang terjadi pasca diberlakukannya MEA hanya 10 persen.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa tamu domestik masih lebih banyak dari wisman dengan perbandingannya 60:40. Masalah lain dari pariwisata Kepri adalah lama kunjungan rendah. Rata-rata hanya dua hari, maksimal tiga hari. Sejalan dengan waktu rata-rata pelaksanaan MICE. “Long stay belum ada. Length of stay ini juga perlu dibenahi. Perlu atraksi, event yang sudah terjadwal dengan jelas, promosi jangan dilakukan mendadak, harus jauh hari sebelumnya,” kata Gusti.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat juga perlu dilakukan. Seni budaya Melayu, rumah panggung tepi pantai, kuliner khas daerah biasanya menjadi incaran turis ketika berkunjung ke Kepri. Masyarakat harus sadar bahwa pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan.

Wahyu menambahkan, 62 persen wisman telah datang ke Kepri lebih dari dua kali. Alasannya murah, urusan bisnis, indah, dan keramahan masyarakatnya. “Meski hanya 14 persen tapi keramahan masyarakat ini juga jadi suatu hal yang diperhitungkan wisatawan,” ujarnya dalam presentasi hasil penelitian.

iwan sahputra/ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com