SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Aktivitas Warga Binaan di Lapas Klas II A Batam, Berbisnis Cuci Baju Hingga Berjualan Kue

  • Reporter:
  • Senin, 14 Mei 2018 | 14:06
  • Dibaca : 266 kali
Aktivitas Warga Binaan di Lapas Klas II A Batam, Berbisnis Cuci Baju Hingga Berjualan Kue
Suasana Masjid Attaubah di Lapas Batam, akhir pekan kemarin. /aini lestari

Bisnis bisa dijalankan di mana saja dan siapa saja termasuk di dalam penjara. Di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Batam, warga binaan punya macam-macam usaha mulai dari laundry sampai jualan kue.

Aini Lestari, Batam

Pintu besi berwarna abu-abu itu tampak tertutup rapat di Lapas Batam pekan kemarin. Tidak ada celah sedikitpun untuk bisa melihat aktivitas di dalam gedung berukuran cukup besar itu. Hanya ada bel kecil di sisi kiri pintu besi yang dapat digunakan pengunjung supaya pemilik bangunan tersebut bersedia membukakan pintu.

Masuk ke dalamnya, tampak sebuah mesin x-ray terletak di sebelah kiri sebuah ruangan. Mesin itu digunakan untuk memeriksa barang bawaan pengunjung Lapas. Di depannya, seorang petugas berseragam lengkap tampak duduk di balik meja yang memiliki tinggi sekitar satu meter. Dia meminta pengunjung mengenakan tanda pengenal bertuliskan tamu yang ia sodorkan.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Permasyarakatan (KPLP) Yan Patmos berkantor di lantai dua.

“Kegiatan warga binaan di sini cukup banyak. Mereka berkebun, membuat kue, belajar agama, dan ada juga yang nyambi usaha laundry di sini. Pelanggannya sesama warga binaan juga,” ujar Yan saat ditemui sembari mengajak berkeliling.

Pagi itu, salah satu kegiatan warga binaaan yaitu membangun kantin koperasi. Beberapa orang pria tampak berkumpul di sebuah bangunan setengah jadi berukuran 4 x 6 meter.

Seorang pria lainnya tampak berada di atas papan untuk memasang batu bata dinding bangunan tersebut. Seorang pria lainnya tampak memberikan batu bata dari bawah. “Semuanya yang kerja warga binaan,” sambung Yan.

Warga binaan di lapas ini berjumlah sebanyak 1.247. Mereka memiliki berbagai keahlian. Otoritas Lapas memberikan fasilitas untuk mengisi keseharian mereka.
Beberapa di antara mereka menikmati hari-hari dengan berkebun di lahan kosong di samping kiri Lapas. Di sana, mereka menanam cabe rawit, kacang panjang, sawi, daun seledri dan lainnya.

Setiap hari, mereka bisa berada di lokasi ini sekitar 3 hingga 5 jam untuk bercocok tanam. Tidak main-main, sekali panen, kebun warga binaan ini bisa menghasilkan 5 ton cabe rawit.

Tak hanya berkebun, beberapa warga binaan lainnya menjalankan usaha laundry di dalam Lapas. Mereka memiliki pelanggan yang juga merupakan warga binaan. Laundry di Lapas ini dinahkodai oleh Catur, salah seorang warga binaan yang sudah mendekam di sini selama 5 tahun belakangan.

Catur mengaku memiliki 11 anggota. Setiap hari, mereka mencuci pakaian warga binaan lainnya yang menggunakan jasa mereka. “Perkilogramnya Rp7.000 untuk cuci dan setrika,” ujar Catur.

Cerita berbeda datang dari ruangan di sebelahnya. Beberapa warga binaan tampak berkreasi di ruangan yang disebut workshop tersebut. Di ruangan ini, mereka membuat berbagai miniatur, beberapa kerajinan hingga lemari. “Saya pernah dibuatkan lemari oleh mereka,” ujar Yan.

Dari workshop, Yan membawa KORAN SINDO BATAM melihat poliklinik yang ada di sisi kanan gedung Lapas. Beberapa warga binaan langsung menyambut kedatangan kami. Salah satunya Tengku Muhammad Rizki Agustian, warga binaan yang harus mendekam di sini karena tersangkut kasus narkotika.

Rizki memiliki latar belakang sebagai perawat. Oleh pihak Lapas, pria yang harus menghabiskan waktu selama 17 tahun ini diperbantukan sebagai tenaga medis di Poliklinik Lapas. Sehari-hari, Rizki berada di Poliklinik untuk memeriksa kondisi kesehatan warga binaan yang membutuhkan penanganan medis.

Selama berada di Lapas 3 tahun belakangan, Rizki mengaku mengalami banyak perubahan. “Saya lebih tahu makna hidup,” kata Rizki.

Saat sedang asyik berbincang dengan Rizki, Hendry, salah seorang warga binaan yang merupakan Warga Negara Inggris menghampiri kami. Dengan ramah, ia menyapa dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Pria berusia 70 tahun ini merupakan warga binaan yang tersangkut kasus perlindungan anak.

Kasusnya sempat menggemparkan Batam, tahun 2011 silam. Perbuatan keji yang dilakukannya 7 tahun silam diakui oleh Hendry. “Kehidupan saya sebelumnya sangat buruk. Saya juga merupakan peminum alkohol yang cukup berat. Tuhan menghukum saya dengan memberi saya sakit hingga akhirnya mengubah hidup saya,” ujarnya dalam Bahasa Inggris yang sekali-kali dicampur dengan Bahasa Indonesia.

Sedikit bercerita, Hendry mengaku masuk ke Lapas Batam dalam kondisi lumpuh. Ia tidak bisa berjalan karena penyakit osteoporosis yang menyerang kakinya. Namun, setelah berada di Lapas Batam selama lebih kurang 1,5 tahun, Hendry mengalami banyak perubahan. Kini, ia sudah bisa berjalan. Setiap hari, ia menghabiskan paginya untuk berjalan mengelilingi lapangan yang berada di tengah-tengah Lapas. “Setiap hari, saya berjalan 2 kilometer. Berat badan saya juga sudah turun. Dulu, saya memiliki berat badan 135 kilogram, tapi sekarang hanya 85 kilogram,” ujar dia.

Hendry mengaku, kehidupannya di Lapas Batam sangat menyenangkan. Ia memulai kesehariannya dengan salat subuh berjamaah di Masjid At Taubah, yang berada di sebelah Blok F atau tak jauh dari lokasi kami berbincang. Ia juga terus menjaga kondisi kesehatan dengan mengunjungi fitnes center. “Setelah fitnes, saya mandi lalu saya menulis tentang perjalanan hidup saya selama di Indonesia. Setiap 3 bulan sekali, saya mendapat kunjungan dari pihak konsulat yang menanyakan kondisi saya di sini. Tidak ada masalah apapun di sini, terutama tentang HAM. Satu tahun di sini, petugas melatih saya untuk berjalan dan sekarang saya sudah bisa berjalan,” papar dia.

Hendry juga bercerita tentang makanan yang dikonsumsinya selama di Lapas. Menurut cerita Hendry, makanan di Lapas bersih dan sehat. Ia juga mengaku kerap membeli roti yang diproduksi dan dijual oleh warga binaan lainnya. “Saya suka makan rawon, rendang dan ayam masak kari. Saya juga sering beli roti dan epok-epok (pastel) di sini,” kata dia.

Tak hentinya bercerita, Hendry yang memiliki 2 orang anak dari istrinya yang WNI mengaku ingin kembali ke kehidupan normalnya setelah bebas dari Lapas. Pria yang dijatuhi hukuman 8 tahun penjara ini memiliki cita-cita ingin membangun sekolah tentang konstruksi engineering. “Saya ingin mengajarkan keahlian saya. Di Indonesia, saya akan membangun sistem produksi listrik yang baru, solusi listrik gratis tanpa polusi. Nilai investasinya 3 juta dolar (Amerika Serikat),” ujar dia.

Perbincangan Koran Sindo Batam dengan Hendry selesai. Sebagai penutup, kami sempat mengabadikan gambar bersama, namun Hendry meminta agar gambar tersebut tidak dipublikasikan. “Saya tidak ingin keluarga saya menjadi malu setelah banyak orang melihat foto saya,” tutupnya.

Selesai berbincang dengan Hendry, kami melanjutkan berkeliling di dalam Lapas melewati jalan depan Blok F. Di sebelahnya, Masjid At Taubah berdiri. Seorang penceramah tampak tengah serius memberikan siraman rohani kepada puluhan warga binaan. Beberapa warga binaan yang duduk paling belakang tampak menoleh ke arah kami. Sedangkan lainnya tampak tetap serius mendengarkan ceramah sang ustad.

“Di sini, kami menyediakan fasilitas keagamaan untuk setiap warga binaan. Di sini ada masjid untuk yang beragama Islam. Di sana ada gereja dan vihara juga,” ujar Yan sembari menunjuk ke arah seberang masjid.

Sebelum tiba di depan gereja dan vihara yang terletak bersebelahan, kami melewati salah satu gedung yang di depannya terdapat pagar tinggi. Di balik pagar, tampak puluhan warga binaan tengah berkumpul. “Kita jangan masuk ke sana, ya. Bisa bahaya,” ujar Yan sembari bercanda.

Kami yang terus berjalan seketika tiba di depan ruangan yang berada di sebelah kanan atas jalan. Berdampingan dengan sebuah blok tahanan, di ruangan ini tampak beberapa warga binaan yang tengah sibuk membuat kue. Salah satunya Ijul. Ijul yang mengaku sudah berada di Lapas Batam selama 6 tahun selalu disibukkan dengan rutinitas membuat kue. Bersama beberapa rekan lainnya, Ijul membuat berbagai jenis roti dan kue, seperti donat, kue pao, roti isi kacang, sayuran dan lainnya. Kue ini dijual kepada warga binaan maupun petugas Lapas Batam. “Harganya Rp2.000 saja untuk satu kue,” katanya.

Keseharian Ijul dan ribuan warga binaan lainnya membuat mereka tetap semangat menjalani hidup. Meskipun berada jauh dari keluarga, banyak perubahan yang terjadi para diri setiap warga binaan. Bahkan, tidak sedikit dari warga binaan ini yang sudah hafal Alquran dan hadits. Tak ada keputusasaan dalam diri mereka. Termasuk 4 orang warga binaan yang sewaktu-waktu harus dieksekusi karena menerima vonis hukuman mati. “Kalau sesekali mereka tampak murung, itu hal yang wajar. Tapi kami di sini selalu memberikan dukungan dan semangat kepada mereka. Dengan berbagai kegiatan yang ada, mereka terkadang lupa bahwa mereka sedang menjalani hukuman di sini,” ujar Yan.

Senada dengan Yan, Kepala Lapas Klas II A Batam, Surianto mengatakan, emosi warga binaan harus dapat dijaga dengan baik. Untuk hal itu, pemahaman agama menjadi salah satu cara agar warga binaan tidak mengalami stres selama berada di Lapas. Selain memberikan bimbingan rohani, Surianto juga menerapkan sistem yang unik bagi warga binaan baru.
“Biasanya, warga binaan baru akan masuk ke dalam ruangan percobaan selama tiga hari. Dan untuk bisa dipindahkan dari ruangan itu, saya kasih ujian ke mereka, seperti harus hapal syahadat, surat Alfatihah dan ayat pendek bagi warga binaan yang beragama Islam. Tidak sedikit dari mereka yang syahadatnya saja salah-salah. Padahal mereka muslim,” kata Surianto.

Selain itu, lanjut Surianto, ia dan seluruh jajaran di Lapas Klas II A Batam selalu berusaha untuk menampung setiap keluhan dari warga binaan yang ada. “Mereka diperbolehkan mengirim surat cinta kepada kami yang isinya keluhan-keluhan mereka. Dan semua keluhan itu kami tampung dan kami carikan solusinya. Hal ini untuk menghindari timbulnya permasalahan yang serius di dalam Lapas. Karena, masalah kecil saja yang terjadi di dalam Lapas, dapat menimbulkan dampak yang besar,” katanya.

Permasalahan malas mandi, misalnya, dapat menjadi satu masalah yang cukup besar. Kebanyakan, warga binaan menggunakan modus tidak mandi agar mendapatkan tempat tidur yang cukup luas. “Lapas kita ini kan over kapasitas. Satu kamar yang seharusnya diisi 5 orang bisa diisi dua kali lipat. Akibatnya, mereka di dalam harus tidur berdempetan. Nah, tidak jarang, warga binaan ini sengaja tidak mandi berhari-hari, hingga akhirnya badannya bau dan teman-temannya tidak ada yang mau mendekat. Hasilnya, dia dapat tempat yang lebih luas. Sampai hal-hal kecil seperti inilah yang harus kami pahami untuk menjaga Lapas ini tetap kondusif,” kata Surianto.

Tak hanya itu saja, keselamatan jiwa setiap warga binaan juga menjadi tanggungjawab yang sangat besar. Pihak Lapas juga harus menuruti permintaan dan keinginan tertentu dari warga binaan demi menjaga keselamatan mereka. Salah satunya dengan cara memeriksa secara detail setiap barang bawaan pengunjung, termasuk makanan.

“Mereka yang bawa makanan kami minta untuk mencicipi setiap makanan itu terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada warga binaan. Karena tidak ada yang tahu seberapa amannya makanan itu untuk dikonsumsi. Bisa saja ada yang berniat jahat dan mencampurkan racun pada makanan itu. Tidak itu saja, ada juga warga binaan yang tidak ingin dikunjungi oleh orang-orang tertentu. Bahkan yang tidak ingin dikunjungi istrinya juga ada. Nah, kami harus menghargai hal ini,” kata Surianto.

Kendati semuanya telah berjalan dengan baik, lanjut Surianto, ia mengaku akan terus meningkatkan pelayanan di Lapas Batam. Ia ingin, setiap warga binaan yang berada di Lapas Batam terus berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik saat ia bebas nanti. Ia juga ingin agar warga binaan juga bisa mendapatkan pendidikan yang layak. “Program yang sudah berjalan sekarang ini adalah penerapan paket C untuk warga binaan. Dan sekarang, kami tengah mencoba untuk menjalin kerjasama dengan Universitas Terbuka agar keluar dari sini, warga binaan ini juga merupakan seorang sarjana,” kata dia.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com