SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Akun Palsu Merajalela, Masyarakat Harus Waspada

  • Reporter:
  • Minggu, 11 Februari 2018 | 12:31
  • Dibaca : 172 kali
Akun Palsu Merajalela, Masyarakat Harus Waspada

JAKARTA – Temuan mencengangkan diungkapkan Facebook. Media sosial terbesar di dunia tersebut menyebut Indonesia merupakan salah satu negara sarang akun palsu atau duplikat.

Negara lain yang mendapat catatan merah dari perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini adalah India dan Filipina. Berdasar data Facebook, akhir Desember 2017 akun palsu atau duplikat sebanyak 200 juta akun.

Pada kuartal IV/2017 Facebook memperkirakan akun palsu atau duplikat mencapai sekitar 10% pengguna aktif bulanan (MAU) di penjuru dunia. Hingga 31 Desember 2017 situs media sosial itu memiliki 2,13 miliar MAU.

“Kami yakin persentase akun tiruan itu lebih tinggi di pasar negara berkembang seperti India, Indonesia, dan Filipina, dibandingkan de ngan pasar negara maju,” papar pernyataan Facebook dalam laporan tahunan terbarunya awal bulan ini, di kutip The Hindu. Besarnya akun palsu atau duplikat hampir dipastikan searah dengan ancaman kejahatan dunia maya, termasuk hoax.

Direktorat Cyber Mabes Polri Brigjen Pol Fadil Imran Brigjen Pol Fadil Imran membenarkan penyebaran hoax tidak lepas dari banyak pengguna media sosial yang menggunakan akun palsu atau anonim. Mereka secara tidak bertanggung jawab menggunakan media sosial untuk melakukan provokasi dan fitnah untuk kepentingan ter tentu.

Menurut dia, awalnya jumlah akun anonim di media sosial masih sangat sedikit. Namun, setelah polisi mulai melakukan penangkapan ter hadap pemilik akun yang menyebarkan hoax di media sosial, mereka yang beralih ke akun anonim semakin banyak. “Belakangan setelah kita lakukan penindakan, mereka jadi semi anonim.

Namanya enggak benar, tapi gambarnya masih benar,” kata Fadil. Fadil mengungkapkan, po lisi sebenarnya tidak kesulitan untukmenemukanpemilikakun anonim. Namun, akan lebih baik jika sejak awal di buat regulasi untuk meminimalisasi akun anonim yang ada.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara meminta agar semua kalang an masyarakat tidak terjebak da lammenyebarkan infor masi yang kebenarannya diragu kan, termasuk dari akun palsu. “Jangan mau sebarkan informasi yang belum tentu kebe narannya.

Kalau ragu, harus tabayun,” ujarnya dalam kete rangan tertulisnya di Yogyakarta kemarin saat meng hadiri Deklarasi Indonesia Antihoax. Rudiantara mengingat kan, secara agama dan sosial ekonomi, membuatakunpalsu, menyebarkan informasi yang diragukan kebenarannya ada lah perbuatan tak berguna dan berdosa. Begitu juga secara sosial dan ekonomi adalah pem bodohan publik dan pemborosan pulsa.

“Pemerintah terus ber upaya menekannya melalui sosialisasi dan imbauan ke pada masyarakat agar tidak ikut andil dalam penyebarannya. Seharusnya teknologi digital dapat men jadi wadah aktualisasi yang positif guna kepentingan ilmu pengetahuan, promosi potensi, pariwisata, kreativitas, dan lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Pem bangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani meminta masyarakat, terutama generasi anak muda, untuk mem budayakan literasi dan ber media sosial secara sehat. Hal itu penting agar pe nyebar hoax ataukabarbohong, ter masuk dari akun palsu, bisa di mi ni malisasi di era digital sekarang ini di mana akses dan penebaran informasi begitu mudah.

“Jadilah generasi yang mampu menggunakan inter net dan media sosial secara cerdas untuk mewujudkan Indonesia hebat,” ujar Puan dalam diskusi publik “Me lawan Hoax dengan Budaya Literasi dan Bermedia Sosial yang Sehat” di Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Jakarta (09/02).

Akun palsu dibagi menjadi dua kategori,

pertama, yakni saat pengguna membuat akun pribadi untuk bisnis, organisasi, atau entitas nonmanusia seperti binatang peliharaan.

Kedua, akun yang tidak diinginkan, yakni pengguna membuat akun untuk melanggar syarat layanan Facebook seperti spamming.

Akun tiruan atau duplikat merupakan akun yang dibuat pengguna sebagai tambahan untuk akun utamanya. “Perkiraan akun salinan dan palsu itu berdasarkan reviu internal contoh akun dan kami melakukan penilaian dalam menentukannya,” ujar laporan Facebook. Jumlah perkiraan akun palsu atau salinan itu mung kin tidak akurat untuk me wakili jumlah sebenarnya akun se macam itu.

Akun salinan atau du plikat juga sangat sulit di ukur pada jumlah tersebut. Ada juga kemungkinan jum lah sebenarnya akun salinan itu bisa sangat berbeda dari perkiraan itu. Keberadaan akun palsu atau duplikat yang sering di manfaatkan untuk kejahatan di media sosial secara luas memicu keprihatinan dunia.

Hasil sur vei yang dilakukan Edelman Trust Barometer 2018 menun juk kan hampir 70% orang di dunia khawatir bahwa berita palsu digunakan sebagai senjata. Sebanyak 59% orang yang disurvei menyatakan mereka tidak yakin dengan apa yang mereka lihat di media itu benar atau salah. Hampir tujuh orang dari 10 orang yang menyatakan khawatir berita palsu diguna kan sebagai senjata.

Melek Media

Facebook memiliki cara untuk mengidentifikasi akun palsu atau duplikat. Akun duplikat diidentifikasi melalui penggunaan sinyal data seperti alamat IP dan atau nama pengguna. Akun palsu diidentifikasi dengan melihat namanama yang muncul tampak palsu atau perilaku lain yang tampak tidak wajar bagi para reviewer. Namun, Facebook juga mengakui, dengan skala pengguna yang sangat besar, mengidentifikasi akun-akun duplikat sangat sulit.

Selama pengumuman laba Facebook kuartal III/2017, Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg menyatakan perusahaan telah membangun alat kecer dasan buatan (AI) baru untuk memberantas konten buruk dan para aktor buruk dengan fokus pada akun-akun palsu.

Zuckerberg juga menjelaskan, melawan berita palsu, bohong, atau hoax menjadi fokus utama Facebook. Media sosial itu sekarang memiliki sekitar 14.000 orang yang be kerja lintas komunitas dalam operasi online dan mening kat kan upaya keamanan untuk mengidentifikasi konten negatif.

“Mereka telah membuat kemajuan dalam mengurangi berita-berita palsu di News Feed, menurunkan lalu lintas artikel negatifhingga80%, danmerusak insentif eko no mi yang dihasilkan sebagian besar spammer dan troll farm yang menghasilkan artikel-artikel palsu itu di posisi pertama,” ucap Zuckerberg.

Dan di Supriadi SSos MA (SUT), pengamat media sosial dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, mengakui keberadaan akun-akun palsu menghadirkan ancaman serius diduniamaya. Dia mencontohkan, pada pemilihan presiden Amerika Serikat lalu ternyata banyak dipengaruhi penyebaran pesan palsu dari akun yang berasal bukan dari dalam negeri Amerika, me lain kan dari KotaVeles, Macedonia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dia melihat pemerintah sebenarnya telah berbuat banyak. Hal ini seperti dilakukan Kemeninfo yang melakukan pemblokiran ter hadapakunakun berita abal-abal, memberlakukan undang-undang ujaran kebencian un tuk mengurangi sebaran fit nah, dan menangkapi orang-orang di belakang penipuan online.

”Namun, menurut saya, tindakan resmi pemerintah tidak akan pernah bisa meng hilangkan fenomena ini ka rena ini berhubungan dengan sikap mental masyarakatnya. Apalagi, dukungan perangkat hukumnya masih sangat samar-samar, berhubung undang-undang cybercrime yang lengkap belum ter sedia.

Saat ini baru UU ITE yang dapat diandalkan,” ungkapnya. Dandi lantas menuturkan, satu-satunya cara untuk mengurangi efek bahaya kemunculan akun-akun palsu ini adalah membuat masyarakatnya lebih melek media dan lebih terbiasa dengan budaya lite rasi.

Budaya literasi itu bukan saja budaya membaca, namun lebih jauh lagi, budaya untuk lebih kritis dengan mencari kebenaran informasi sedalam mungkin. ”Perhatian kita harus ditujukan ke generasi yang lebih mu da. Untuk mereka, hal ini harus secara sistematis tertanam dalam kurikulum pendidikan sejak awal.

Sulit untuk meng ubah kebiasaan generasi lama yang sudahterlampauterbiasade ngan budaya oral. Maka yang paling utama adalah mem bangun gene rasi baru Indo nesia yang lebih literate dankritis. Inisangat krusial karena jendela informasi semakin terbuka melalui teknologi in formasi dalam jaringan,” papar dia.

Adapun dosen komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Raden Narayana Mahendra Pastya mengaku tidak mudah mengatasi akun palsu dan dampak yang ditimbulkannya. Meski demikian, masyarakat bisa bersama-sama mencegah hal ini. “Ma syarakat dan publik bisa sama-sama mengamati.

Jika ada akun yang tidak benar, kita bisa ramairamai melaporkannya dengan mekanisme reportspam agarakun tersebut di tutup,” jelasnya. Kesadaran masyarakat terhadap pengguna internet sehat juga harus dide ngung kan. Masyarakat harus diberi kan literasi yang cukup agar tidak mudah mempercayai hoax yang banyak beredar di inter net.

Narayana mengusulkan agar ada pendidikan internet sejak dini yang dilakukan pemerintah. “Sudah saatnya pen didikan tentang internet sehat dimasukkan da lam kurikulum pendidikan dasar dan mene ngah dari kelas satu hingga kelassembilan,” terangnya.

syarifudin/ oktina endarwati/ rahmat sahid/ agus warsudi/ainun najib

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com