SINDOBatam

Opini+

Jungkir Balik+

Ambisi China Wujudkan Kota Spons

  • Reporter:
  • Selasa, 2 Januari 2018 | 17:04
  • Dibaca : 129 kali
Ambisi China Wujudkan Kota Spons

BEIJING – Jakarta dan kota-kota besar di Tanah Air yang selalu berurusan dengan banjir, perlu meniru apa yang dilakukan kota-kota di China.

Untuk menghadapi ancaman bencana hidrologi itu pemerintah Ne ge ri Tirai Bam bu saat ini tengah menerapkan konsep ”kota spons”. Konsep kota spons sebenarnya hampir sama dengan kota hijau. Dalam konsep kota spons, sirkulasi air hujan akan diimitasi. Air hujan akan dibiarkan ter serap ke dalam tanah atau tum buhan.

Satu di an tara caranya ialah menanam tum buhan di permukaan bangunan, memper banyak pori-pori termasuk di jalanan, dan menggali pa rit di sisi jalan raya sehingga air hujan dapat tertam pung. Selain itu, kota juga dilengkapi da nau atau em bung untuk menyimpan air.

Pemerintah China serius me wu judkan kota spons. Sejak diluncurkan pada 2015, Chi na menarget konsep kota spons di te rap kan di 30 ko ta seperti Shanghai, Wuhan, dan Xia men. Pada 2020 mendatang China ber ha rap 80% wilayah ur ban akan menyerap dan meng gu na kan sedikitnya 70% air hujan.

Seperti dilansir China Daily, sampai sekarang kotakota itu telah menerima anggaran lebih dari USD12 miliar (Rp162,8 triliun). Dana yang dikeluarkan pemerintah pusat sekitar 15- 20%, sisanya berasal dari pemerintah lokal atau perusahaan swasta. Nanhui New City di Pu dong, Shanghai, akan menjadi kota spons paling besar.

Dalam dua tahun terakhir pe merintah kota mengha biskan USD119 juta untuk menanam tumbuh-tumbuhan di atap gedung, membangun tanah basah untuk gudang air hujan, dan mengonstruksi jalan ber pori yang dapat ditembus air (permeable). Shanghai menerapkan konsep itu dengan skala mencapai 4,3 juta kaki persegi. Pada April perusahaan utilitas Suez Environment mulai me masang sistem drainase baru sepanjang tujuh mil persegi di Chong qing.

Otoritas terkait pemerintah lokal dapat mengawasi got dan gorong-gorong secara real time untuk me mi ti ga si ri s iko banjir melalui sensor yang di pasang. Hal itu di ung kap kan Suez di situs resmi mereka. Sebagian besar proyek pembangunan di China kini tidak bo leh keluar dari konsep ”hi jau”.

Ta nah basah dan bioswales menja di suatu kewajiban. T a man Yan weizhou di Jinhua, Chi na Timur, yang dibuka pada 2014 juga me miliki konsep anti-banjir. Taman itu ber fung si sebagai tempat penadah air hujan sehingga ko ta tidak banjir. Dalam foto yang di publikasikan Business Insider, Taman Yan weizhou tampak digenangi air ketika Jinhua mengalami hu jan yang sangat deras, sedang kan kota di sekitarnya dapat terbebas dari genangan air.

De ngan struktur yang terdiri atas tanah dan pepohonan, air ter sebut akan terserap seiring de ngan bergulirnya waktu. Namun, proyek kota spons ti d ak sepenuhnya berjalan mulus. Berdasarkan China Institute of Water Reseources and Hy dropower Research, institusi di bawah Kementerian Sumber Daya Air, proyek itu menghadapi tantangan seperti kurang nya material hijau. Model pe rencanaan juga terlalu homo gen dan tidak spesifik.

Selain itu, China sedang berada di tengah pe r tum buh an kri sis utang di daerah-dae rah se hingga aliran dana un tuk proyek itu sedikit ter ham bat. Namun, mereka tetap op ti mis tis. ”Mes kipun banyak tan tang an, pe luang untuk mem ba n gun ling kungan ur ban yang lebih aman, hijau, dan ho listis tetap ada,” ungkap ins ti tut tersebut.

Konsep kota spons lahir dari persoalan banjir yang mendera kota-kota di China. Dengan meningkatnya kemajuan wi layah urban dan perubahan iklim, banjir semakin tidak dapat dihindari dan memburuk di setiap tahun. Beberapa kawasan bahkan menjadi sangat ren tan dan sulit diselamatkan. Pada 2010, peristiwa longsor akibat hujan deras dan banjir menewaskan sekitar 700 orang di China.

Sebanyak 300 orang lainnya juga hilang. Pada Ju li silam, hujan deras disertai angin kencang juga menerjang se latan China hingga mengakibatkan banjir bandang. Sebanyak 56 orang tewas dan ratusan rumah luluh lantak. Pada Abad XX, musibah ban jir sudah menjadi rutinitas ta hunan. Seperti dilansir The Eco nomist,jumlah kota yang dilanda banjir di China meningkat dua kali lipat sejak 2008.

Pada 2013, lebih dari 200 kota digenangi air hujan. Hal ini di karenakan pembangunan kota yang cepat tidak diimbangi pem bangunan drainase. Situasinya semakin membu ruk karena pembangunan ko ta di China berkembang le bih pesat daripada pem ba ngun an in frastruktur pen du kung.

Sungai dan danau juga di ubah men jadi daratan. Luas lahan tanah di China pun bertambah dua kali lipat sejak 1998. Hanya sa ja, sebagian be sar kawasannya ditutupi beton dan aspal.

muh shamil

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com