SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Ambisi Sutradara Muda Berbuah Oscar

  • Reporter:
  • Selasa, 18 April 2017 | 10:15
  • Dibaca : 235 kali
Ambisi Sutradara Muda Berbuah Oscar
Damien Chazelle

Wajar bila Damien Chazelle menarik perhatian publik ketika film Whiplash meraih Oscar, pada 2014. Sutradara muda ini dikenal bak orang gila ketika bekerja. Biasanya satu produksi film hanya 25-30 kali pengaturan kamera, Chazelle bisa 100 kali ganti per hari. Makanya tak heran, di usia 32 tahun, Chazelle dianggap sutradara terbaik era ini.

Film Whiplash menceritakan ambisi remaja Andrew Neimann untuk menjadi drumer. Yang menarik, Andrew digembleng dengan bengis oleh Fletcher, konduktor orkes jazz sekolahnya. Beberapa sesi latihan, Fletcher tak segan meneror mental muridnya. Ada adegan Andrew terbesit senar drum sampai berdarah. Bukannya kasihan, Fletcher malah menunjukkan muka marah. Whiplash menuai tiga Piala Oscar 2014. Sayang, penulis naskah dan sutradara Whiplash, Damien Chazelle hanya masuk nominasi penulisan naskah terbaik.

Tapi, Chazelle tiga tahun kemudian menuai lebih banyak piala. Bahkan, ia menjadi orang termuda yang merebut Oscar. Kali ini untuk kategori sutradara terbaik dari film La La Land. Nyaris serupa dengan Whiplash, latar belakang La La Land juga soal ambisi. Film ini menceritakan ambisi Mia (Emma Stone) menjadi aktris dan Sebastian (Ryan Gosling) menjadi pianis jazz. Banyak yang mengkritik La La Land karena premisnya klise dan sering difilmkan, terutama latar belakang Hollywood.

Tapi, rupanya La La Land menjadi favorit banyak orang. Di Academy Awards, film ini meraih 14 nominasi sekaligus menyamai rekor Titanic, pada 1997 silam. Chazelle meraih enam piala, lebih banyak dari Whiplash. Ia juga dinobatkan sebagai sutradara terbaik pada usia 32 tahun 1 bulan, lebih muda dari pemegang rekor sebelumnya, Norman Taurog (32 tahun, 8 bulan) atas film Skippy (1931). Selain soal ambisi, kedua film Chazelle juga bertema musik Jazz. Pada film pertamanya juga soal jazz, yakni Guy and Madeline on A Park Bench (2010).

Chazelle ketagihan jazz karena pengaruh Bernard Chazelle, ayahnya. Chazelle memilih bermusik jazz ketika SMA di Princeton, sekalipun film adalah kecintaannya. Ia malah jadi drummer di band sekolah yang rajin ikut kompetisi itu. Band sekolahan itu menjadi tiket menuju ketenaran di antara anak muda sebayanya, bahkan mahasiswa di kampus-kampus. Dalam kesempatan wawancara, Chazelle mengaku konduktor band dalam Whiplash bertabiat mirip dirinya. Chazelle tak ingin menyenangkan penonton, tapi sang konduktor.

Setelah lulus SMA, Chazelle kembali ke trek film. Sejak kecil ia memang bercita-cita membuat film. Ia lalu memilih mendaftar ke Harvard Film School, bareng sahabat sekaligus teman satu bandnya, Justin Hurwitz. Salah satu karya mereka, film panjang Guy and Madeline on a Park Bench. Film hitam-putih itu, selain sebagai proyek tugas akhir, juga diikutsertakan ke Tribeca Film Festival dan ditayangkan di bioskop-bioskop kecil. Film itu tidak menghasilkan uang, tapi Chazelle mendapat kontrak dari Gersh Agency karena kualitas ceritanya dianggap mumpuni.

Chazelle lantas pindah ke Los Angeles, pusat industri film AS. Di tempat baru ini, ia menulis beberapa naskah. Salah satu naskahnya adalah Grand Piano (2013), yang dibintangi Elijah Wood. Awalnya, Chazelle hendak menyutradarai sendiri film itu. Namun, ia diminta untuk fokus menulis film drama musikal impiannya sejak kuliah, yang kelak diberi judul La La Land. Ia frustrasi karena naskah itu tak kunjung selesai. Orang-orang di sekitarnya juga seperti meremehkan ”dongeng Hollywood” rekaannya tersebut.

Chazelle lalu memutuskan menyusun naskah lain, yang disebutnya sebagai cerita kecil namun fokus. Maka, ia mulai menulis pengalamannya sebagai pemain drum orkes jazz sekolahan, yang ia beri judul Whiplash. Naskah itu kelar dalam waktu 10 hari saja. Chazelle menyimpan naskah itu selama setahun, untuk merenungkan kritik dan masukan yang ia terima. Film pendek Whiplash berdurasi 18 menit itu diikutkan pada festival film pendek Sundance 2013, dan menang.

Dari kemenangan itu, Chazelle dapat tambahan dana USD3,3 juta dari Bold Films, untuk membuat versi panjang seperti idamannya. Chazelle dan timnya menggelar syuting selama 19 hari. Ia bekerja seperti orang gila, terutama pada hal-hal detail. Setiap hari, bisa seratus kali ganti pengaturan (setup) kamera.
Produksi film umumnya hanya 25 hingga 30 kali setup. Pada pekan terakhir masa syuting, Chazelle mengalami kecelakaan mobil. Ia tetap datang ke lokasi syuting keesokan harinya.

Setelah itu, ia segera merampungkan proyek ambisiusnya: La La Land. Jalannya lebih mudah. Ia mendapat modal USD30 juta, demi menuntaskan ambisi membuat film seperti The Umbrellas of Cherbourg (1964), kesukaannya itu. Sejak dilepas 25 Desember 2016, La La Land telah menghasilkan uang sebanyak USD141 juta. Tak cuma Oscar, film ini menempatkan Damien Chazelle sebagai salah satu sutradara muda terbaik Hollywood saat ini.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com