SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Anak Muda Bisa Menjadi Pencipta Lapangan Kerja

  • Reporter:
  • Senin, 9 April 2018 | 14:37
  • Dibaca : 125 kali
Anak Muda Bisa Menjadi Pencipta Lapangan Kerja
ilustrasi. Foto Arrazy Aditya,.

Bekerja tidak selalu harus menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Di era kecanggihan teknologi saat ini, tidak ada alasan generasi muda masa kini tidak menjadi entre preneur, terutama di bidang digital yang semakin mudah.

Setiap tahunnya se ra tus lebih usaha rintisan atau startup dibantu modal dan dibina oleh Kemenristek Dikti.Ada delapan bidang yang bisa turut serta. Paling banyak ditemui dalam tiga tahun terakhir ialah teknologi informasi, kemudian pangan dan kesehatan atau obat. “Untuk teknologi informasi kebanyakan jasa hampir sama semua.

Kalau sudah bentuknya marketplace , saya alihkan saja ke Bekraf. Startup digital harus sadar percepatan teknologi, sedikit tertinggal bisa tidak laku,” ujar Retno Sumekar, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Kementrian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), saat ditemui KORAN SINDO di Gedung BPPT, Thamrin, Jakarta Pusat.

Yang dibantu kebanyakan lebih ke program atau hardware yang mendekati bidang lain seperti pertanian, pertahanan keamanan ataupun psikologi. Misalnya pendeteksi cuaca, pendeteksi tanaman kurang nitrogen atau tidak. Retno mencontohkan sebuah aplikasi yang kini tengah ramai dikunjungi remaja yang ingin meneruskan tempat kuliah, yakni Youthmanual.

“Sebenarnya aplikasi ini sederhana, sama seperti yang lain, tetapi uniknya memakai pendekatan psikologi. Pengunjung aplikasi ini diberi hampir seratus pertanyaan yang sudah dibuat psikolog, hasilnya dapat menentukan jurusan kuliah yang tepat bagi mereka,” papar Retno.

Selain memberi modal dan membina atau sekarang kerap disebut sebagai inkubator, Kemenristek Dikti juga menjembatani startup ini untuk bertemu dengan pihak industri agar terus maju bersaing dengan produk dari perusahaan yang sudah lebih dulu eksis. Retno mencontohkan inovasi pangan dari anak muda lulusan IPB, biskuit Claricas yang berbahan dasar daging ikan lele.

Claricas akan menyuplai tepung biskuit ikan lele yang kaya protein ini ke Kimia Farma. “Fungsi pemerintah bukan hanya membantu saja, tetapi membantu supaya naik kelas. Mediasi dengan perusahaan, tetapi kami pilih masih perusahaan milik pemerintah. Jadi oleh pemerintah untuk pemerintah,” urai Retno.

Sebelumnya ada sepeda listrik dari mahasiswa ITS yang dibeli WIKA atau Healty Sweet untuk menu run kan gula darah yang dibeli Kimia Farma. Terbaru yang akan diresmikan Menteri Mohamad Nasir juga ada ka pal pelat datar buatan anak UI. Terobosan kapal ne layan yang terbuat dari pelat baja, bukan fiber atau kayu se per ti biasa.

Waktu pembuatan juga cukup singkat, ha nya sebulan. Retno ingin kompetisi dari pemerintah sebagai inkubator untuk startup ini dijadikan motivasi bagi ge nerasi muda lainnya untuk berlomba-lomba menjadi entrepreneur .

Maka dia pun ingin memberi kesempatan bagi startup dari seluruh Indonesia. Diakuinya me mang inovasi dan kreativitas masyarakat di Jawa lebih besar, tetapi semua pihak harus diberi kesempatan. “Pernah di Aceh ada proposal masuk budi daya lele dengan teknologi. Di Jawa itu sudah biasa, (jadi) hampir gugur.

Namun kami menyadari lagi, inovasi ini di daerahnya mungkin sangat dibutuhkan,” Retno bercerita. Benar saja, setelah diberi bantuan modal, budi daya lele maju di daerahnya. Yang terpenting banyak anak muda lainnya bersemangat untuk membuat inovasi lainnya, lalu didaftarkan kepada kami.

“Paling tidak menjadi semangat bagi yang lainnya. Jangan lupa, Indonesia negara kepulauan, banyak yang perlu dijangkau. Kita tidak hanya berkompetisi secara murni, tetapi berfungsi membina sebagai pemerintah,” ungkap Retno. Pakar pemasaran Asnan Furinto menyebut generasi muda semakin banyak tertarik membuat startup digital.

Ini pun menjadi fenomena global, bukan hanya di Indonesia. Ekosistem digital sudah terbentuk, infrastruktur serta operator sudah lengkap sehingga sangat mudah membuka bisnis baru. “Era 10 tahun lalu bikin usaha harus ada tempat, modal, akses, networks , harus banyak bangun komunikasi personal.

Sekarang untuk berbisnis saja bisa di marketplace sudah seperti punya toko,” ujar Asnan. Dia menambahkan, strategi startup yang terus tumbuh cepat dapat menjadi sumber motivasi meningkatkan kinerja perusahaan. Istilah yang populer dipakai untuk menyebut startup yang valuasinya sudah melebihi USD1 miliar ialah u nicorn .

Istilah itu pertama kali diperkenalkan pendiri Cowboy Ventures Aileen Lee pada 2013. “Hal tersebut sejalan dengan semakin terbukanya akses terhadap permodalan teknologi dengan sistem crowd funding yang diberikan Ventura sehingga membuat unicorn berkembang pesat,” papar dosen strategi pemasaran Universitas Bina Nusantara itu.

Mayoritas unicorn berasal dari Amerika Serikat dan China dengan asal industri bervariasi, mulai perdagangan online , transportasi, teknologi fi nan sial, perawatan kesehatan hingga media. Se men tara itu Kemenkominfo menargetkan Indo nesia memiliki 44 unicorn pada 2020 dengan tolok ukur nya calon u nicorn harus mampu melewati tahapan seed control .

Kalau sudah lewat tahapan ini, startup dianggap sudah memiliki pasar yang pros – pektif dan berkelanjutan. Kemkominfo juga men ja lan kan program penciptaan seribu startup pada 2020. Startup lokal yang baru saja menyandang predikat unicorn ialah Bukalapak.

Ketika ditanya mengenai persaingan, Corporate Communication Manager Bukalapak Evi Andarini mengatakan, persaingan di dunia bisnis itu sudah biasa, tetapi Bukalapak melihat kompetitor bukan sebagai pesaing, melainkan justru sebagai partner untuk bersama-sama memajukan perekonomian di Indonesia.

Salah satunya Bukalapak terus berinovasi mengembangkan pelayanan lebih luas untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Bukalapak saat ini sudah lebih dari sekadar marketplace . Kami merupakan perusahaan teknologi yang memberdayakan serta berupaya untuk menaikkelaskan UKM melalui inovasi-inovasi yang kami lakukan.

Kami ingin memutar roda perekonomian Indonesia bukan hanya melalui kegiatan jual beli online , tetapi juga dengan berbagai inisiatif baru yang membantu dan memudahkan masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam satu platform,” papar Evi.

Harapannya Bukalapak ingin menjadi aset terbaik bangsa Indonesia. Mereka ingin menjadi pemberi pekerjaan terbanyak di Indonesia, menjadi sumber kesejahteraan UKM di Indonesia, dan pembayar pajak terbesar di Indonesia. “Kami tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis kami, namun kami juga ingin terus tumbuh bersama para UKM di seluruh Indonesia.

Kami mendorong mereka untuk terus berkarya dan memproduksi kerajinan-kerajinan secara kreatif dan memasarkannya melalui marketplace dengan tujuan memperluas jangkauan pemasarannya,” sambung dia. Pasalnya UKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia.

Selain itu, menurut Evi, Bukalapak selalu ber upaya memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk berkarya bagi bangsa dengan memberikan kon ten-konten positif yang membangun seperti Buka Talks, BukaMusik, dan tentunya inisiatifinisiatif baru lainnya.

Hal yang sangat disyukuri oleh startup buatan Ahmad Zaky ini ialah peluang untuk mereka masih sa ngat besar. E- c ommerce adalah industri yang masih da lam tahap awal di Indonesia. “Tapi sebentar lagi, lima ta hun nanti, kalau kami tumbuh dengan kecepatan se per ti ini, kami bisa tumbuh lebih jauh dari market place fisik (menjadi) seperti hypermarket ,” ucap Evi optimistis.

Sementara di Bandung yang selama ini terkenal akan produk industri kreatif terus bermunculan kreasi anak muda. Beberapa produk kreatif bahkan mampu menggebrak pasar, merebut hati konsumen. Sebut saja keripik singkong Ma Icih yang sempat menjadi pelopor produk penganan yang menjadi hits.

Sejak saat itu terus bermunculan produk makanan inovatif lainnya. Tak hanya itu, Bandung pun sempat menggebrak melalui konsep factory outlet (FO) untuk sektor fashion . Berbagai gebrakan itu menempatkan Bandung sebagai kota fashion dan kuliner.

Hingga kini berbagai upaya terus dilakukan Pemkot Bandung untuk menggerakkan industri kecil dan menengah (IKM) agar terus berkembang dan produknya dikenal di kancah regional dan internasional. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bandung Erick M Attauriq, di Kota Bandung tercatat ada 30 sentra industri yang sampai saat ini masih memproduksi berbagai produk unggulan.

Dari 30 sentra, 7 sentra menjadi prioritas Pemkot Bandung. Misalnya di Cihampelas (sentra penjualan fashion dan kuliner), Sentra Kaus Suci, Sentra Rajut Binongdjati, Sentra Sepatu Cibaduyut, dan sentra boneka di Kopo. “Menurut data BPS, total UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) di Kota Bandung mencapai 330.000. Itu data terakhir dari BPS,” papar Erick.

Menurut dia, Pemkot Bandung terus melakukan pembinaan secara proaktif kepada para pelaku usaha. Targetnya meningkatkan daya saing pelaku usaha beserta produknya. “Misalnya melakukan pelatihan dan pembinaan teknologi. Dari sisi produksi kami lakukan pelatihan pengemasan produk, kemudian sisi promosi dilakukan pelatihan pemasaran,” jelasnya.

Langkah konkret Pemkot Bandung untuk memperkenalkan produk IKM adalah melalui program Little Bandung . Program ini memfokuskan diri pada branding dan promosi produk. Program Little Bandung dibagi menjadi beberapa bagian agar lebih spesifik.

Pertama , Little Bandung Mobile . Program ini mengajak pelaku usaha bergerak dari satu pameran ke pameran lain. Sasarannya untuk dalam negeri dan regional.

Kedua , Litle Bandung Wall yang lebih menargetkan produk Bandung untuk diperkenalkan ke segmen pasar internasional. Memang masih perlu penjajakan di sejumlah negara.

Ketiga , Litle Bandung Store , yaitu memfasilitasi produk Bandung untuk dijual secara online . Terakhir, program Little Bandung Katalog .

Pada 2017, tercatat ada 150 produk Bandung yang sudah dikurasi dan disusun menjadi sebuah katalog. “Kalau yang sudah dikurasi dan masuk katalog, kami bawa ke Little Bandung Mobile dengan pameran go interna t ional ,” sebut dia. Katalog itu juga telah disebarkan ke beberapa atase internasional.

Kami promosikan di kalangan Asia dan ASEAN. “Saat ini mereka sudah kenal produk kita. Litle Bandung Wall sudah ada di Malaysia, Aus tra lia, Korea Selatan, Soul, dan Busan,” urai Erick.

Pemkot Bandung, lanjut dia, juga memiliki program menyertakan pelaku usaha itu ke berbagai kegiatan seminar. Misalnya Inakraft. Namun me re ka diikutkan seminar dan pameran melalui sistem berjenjang. Untuk startup promosi di ting kat regional. Sementara IKM dengan produk ber kua litas diikutkan ke grade yang lebih besar lagi, misalnya pameran Inakraft.

ananda nararya/ arif budianto

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com