SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Anak Suku Akit Meranti Banyak Jadi Penghafal Alquran

  • Reporter:
  • Senin, 3 Juli 2017 | 09:50
  • Dibaca : 416 kali
Anak Suku Akit Meranti Banyak Jadi Penghafal Alquran
ilustrasi

MERANTI- Anak-anak Suku Akit, suku asli di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah banyak yang hafal Alquran, hingga 20 juz. Padahal, tidak sedikit para orang tua di suku tersebut yang masih menganut kepercayaan animisme, atau percaya kepada hal-hal ghaib (ruh para leluhur).

Beberapa anak Suku Akit penghafal Alquran itu saat ini sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren (ponpes) Nuu Waar Bekasi. Di antara meraka ada Putra, anak Suku Akit yang mengaku tak akan pulang ke kampung halamannya jika belum hafal Alquran hingga 30 juz. Saat ini, ia sudah hafal Alquran 20 juz.

Ketua Yayasan Fitrah Madani Ahmad Fauzi, orang tua Putra baru-baru ini menjadi pemeluk agama Islam. Sedangkan Putra sudah lebih dahulu mendapat hidayah. Mengingat potensinya yang cukup baik, Putra kini dipindahkan ke Ponpes Darul Fikri Brebes.

Selain Putra, ada pula Muhammad Alfatih Alung Tsaqif. Anak Suku Akit asal Desa Sokop itu sudah menghafal Alquran hingga 14 juz. Ia sebelumnya tinggal di Tanjungpal dan masuk Islam tahun 2014, lalu pindah serta sekolah di Sokop.

“Pertama berangkat, rata-rata mereka belum bisa mengaji. Dia anak yatim piatu,” kata Ahmad di Selatpanjang, Minggu (2/7).

Anak Suku Akit lainnya adalah Riko, remaja 17 tahun itu tumbuh menjadi anak kesayangan Ustaz Fadlan Gramatan di Ponpes Nuu Waar Bekasi. Ia pun sudah memiliki nama baru yakni Sultan Maghribi Gramatan, yang saat ini sudah hafal Alquran 10 juz. Suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat Alquran sempat membuat jemaah Masjid Agung Selatpanjang dan Masjid Agung Pekanbaru meneteskan air mata.

“Dia ini pernah tampil di acara buka puasa bersama Pemkab Meranti di Pekanbaru,” kata Ahmad.

Kemudian, ada Muhammad Ridho asal Desa Sonde yang telah hafal Alquran 8 juzz. Orang tuanya saat ini masih menganut animisme. Selama ia pulang ke kampung halaman saat Ramadan, Ridho kerap diminta menjadi imam untuk salat tarawih.

Selain mereka, lanjut Ahmad, ada anak-anak Suku Akit lainnya, yang rata-rata telah hapal Alquran 3 juz. Mereka dikirim ke Ponpes Nuu War pada tahun ajaran 2015/ 2016. Saat mereka pulang kampung, Yayasan Fitrah Madani yang memberi pendampingan. Mereka dipantau melalui guru mengaji yang sudah ditempatkan di desa masing-masing.

“Kami diminta tolong memantau salat, ibadah puasa, dan setoran menghafal Alquran, agar apa yang mereka amalkan selama di ponpes terus diamalkan meski mereka di desa kelahiran,” ujarnya.

Ahmad mengatakan, Yayasan Fitrah Madani ke depan akan mengupayakan agar anak-anak Suku Akit yang dikirim ke ponpes di luar Meranti bisa melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammad Natsir di Kecamatan Tambun, Bekasi Timur.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com