SINDOBatam

Terbaru Metro+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Angkot Ugal-ugalan Ancam Keselamatan

  • Reporter:
  • Senin, 22 Oktober 2018 | 10:40
  • Dibaca : 437 kali
Angkot Ugal-ugalan Ancam Keselamatan
Angkot Bimbar terbalik di kawasan Baloi, beberapa waktu lalu. Dishub Batam diminta menindak tegas, selain banyak yang tak laik jalan, sopir angkot juga kerap ugal-ugalan di jalan raya. f arrazy aditya

SAGULUNG – Masyarakat mengeluhkan angkutan kota (angkot) Bimbar tak laik jalan namun bebas beroperasi. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan penumpang dan pengendara lainnya, sebab sopir angkot juga sering ugal-ugalan di jalan raya.

Sudah tak terhitung kecelakaan lalu lintas yang disebabkan aksi ugal-ugalan angkot Bimbar ini di jalanan. Sopir angkutan ini sesuka hatinya berhenti di pinggir jalan, menerobos lampu merah sehingga memicu kecelakaan lalu lintas.

Terakhir Bimbar nopol BP 7282 DU terbalik di tanjakan Bukit Daeng, Tembesi, karena sopir membawa mobil sesuka hati tanpa memikirkan keselamatan penumpang. Penumpang bernama Veranita Tarigan mengalami patah kaki dalam peristiwa ini. Usai kejadian sopir angkot kabur meninggalkan penumpangnya yang terluka. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam diminta untuk segera menertibkan angkutan-angkutan seperti ini.

Evi Sinaga, salah seorang warga menghela nafas saat turun dari Bimbar. Ia berusaha menenangkan diri di persimpangan sebelum melanjutkan perjalan menuju rumahnya di Sagulung, Minggu (21/10). Ibu dari dua anak ini masih trauma setelah supir angkutan berwarna biru jurusan Tanjunguncang-Jodoh tersebut ugal-ugalan tanpa memperhatikan keselamatan berkendara.

“Dari start di Jodoh sampai ke sini (Sagulung), memang sudah beradu cepat dengan Bimbar yang lainnya. Kami (penumpang) sangat ketakutan,” kata Evi.

Dalam perjalanan, sambungnya, Bimbar yang dinaikinya beradu kecepatan dengan Bimbar berwarna merah tua jurusan Dapur 12-Jodoh. Tidak perduli dengan rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalan. Penumpang yang ingin turun, harus berteriak agar sopir mendengar dan menepikan angkutan di pinggir jalan. Jika tidak, penumpang akan diturunkan jauh dari simpang perumahannya.

“Mereka sudah biasa seperti itu. Padahal sudah sering diingatkan sama penumpang. Tapi tidak juga didengar,” ujarnya.

Tidak hanya itu saja, Evi menambahkan, kondisi Bimbar juga sangat memprihatinkan. Selain kaca belakang ditempel plastik dan tempat duduk yang tidak ada busanya lagi, ban mobil juga sering copot saat kendaraan beroperasi. Padahal, sesuai dengan aturan, kendaraan seperti itu tidak layak jalan dan bisa dipastikan tidak lolos uji KIR di Dishub Kota Batam.

“Tidak ada lagi rasa aman dan nyaman untuk kami (masyarakat) ketika naik Bimbar. Tapi, ya gimana lagi, angkutan itu yang murah. Kalau naik Trans Batam mau ke Jodoh harus transit lagi di Batam Centre,” jelasnya.

Senada disampaikan Charles Hutagalung, warga Nongsa. Ia mengatakan kondisi angkutan umum jurusan Nongsa-Jodoh juga sangat memprihatinkan. Penumpang, kata dia, sering membantu menahan pintu angkutan agar tidak lepas saat kendaraan sedang beroperasi. Hal itu sangat berbahaya bagi penumpang dan pengendara lain.

“Pintu saja bisa lepas. Bagaimana kalau lepas di jalan dan kena pengendara lain,” kata Charles.

Menurut dia, sering terjadi kecelakaan di jalan karena supir ugal-ugalan dan kondisi angkutan yang sudah tidak layak jalan. Pemerintah daerah diminta agar selektif dalam memberikan izin operasi dan menertibkan angkutan umum yang masih beroperasi tetapi tidak mengantongi izin.

“Ini demi keselamatan bersama dan mendukung Batam yang akan menuju kota smart city. Harus dimulai dengan hal yang begini. Apalagi ini soal trasnportasi kota, tidak bisa dianggap sepele. Tinggal pemerintahnya saja, serius atau tidak menyelesaikan ini,” katanya.

Kepala Dishub Kota Batam Rustam Efendi mengatakan, pihaknya sedang mendata angkutan umum yang layak jalan dan melakukan kajian pemilahan daerah operasional serta mencari pangkalan bagi angkutan tersebut. Tahun depan, angkutan yang melebihi usia operasional tidak bisa lagi mengaspal di jalan utama.

“Sedang melakukan kajian. Nanti akan ditertibkan semuanya,” kata Rustam.

Nantinya, kata dia, angkutan umum tidak lagi melayani penumpang dengan trayek jauh. Namun hanya akan beroperasi yang menghubungkan antar perumahan atau lingkungan di suatu wilayah. Menurutnya, penerapan kelak akan diawali pada beberapa titik percontohan terlebih dahulu. Daerah percontohan kini sedang masuk dalam kajian.

“Sample-nya kayak daerah Bengkong juga Marina,” katanya.

Rustam mengimbau kepada masyarakat dan juga pengguna kendaraan, baik roda dua dan roda empat agar menjalankan budaya tertib parkir, dan mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang sudah ada sebagai penunjuk arah. Dan tak berhenti dibahu jalan supaya tak menganggu arus lalu lintas.

“Jadi, saya minta saling menghormati antar sesama pengguna jalan dan budaya tertib berlalu lintas,” katanya.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Batam, Syafrul Bahri menjelaskan izin operasional angkutan umum trayek utama itu untuk usia kendaraan maksimal 18 tahun. Sedangkan untuk trayek cabang usia kendaraan 15 tahun. Hal ini tertuang dalam Keputusan Wali Kota Batam nomor 15/2003 tentang usia operasional kendaraan umum.

Trayek utama membawahi sembilan badan usaha dengan jumlah kendaraan 617 unit. Sebanyak 312 unit masih layak jalan, usia kendaraan di bawah 18 tahun. Sedangkan 305 lainnya tidak layak beroperasi.

“Dari 305 ini masih ada yang beroperasi juga. Upaya kita, dengan cara razia gabungan. Ada beberapa unit yang dikandangkan. Kami sampaikan supaya diperbarui. Ada juga beberapa yang dihitamkan platnya, ada puluhan,” katanya.

Sementara untuk trayek cabang jumlahnya 1.745 unit. Kendaraan yang layak operasi 483 unit, dan sisanya 1.262 unit tak layak. “Ada yang masih operasi juga tapi enggak sampai seribuan ini, mungkin ada seratusan. Ada yang sudah discrap juga,” kata Syafrul. iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com