SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Antara Benci dan Cinta

  • Reporter:
  • Senin, 23 April 2018 | 15:03
  • Dibaca : 99 kali
Antara Benci dan Cinta

LONDON– Sedih rasanya mendengar Arsene Wenger tak akan lagi berada di Arsenal musim depan. Bingung rasanya membayangkan masa depan The Gunnerssetelah tidak lagi ada The Professordi bangku cadangan.

Bukan, ini bukan sedang mewakili perasaan pendukung Arsenal, tapi perasaan ini menjadi milik mereka yang mengikuti perjalanan karier Wenger dan sepak bola Inggris setelah kedatangannya. Wenger layak mendapatkan banyak pujian dibandingkan cacian, kritikan yang diterima dalam dua musim terakhir. Wenger harus diakui sudah mengubah wajah sepak bola Inggris. “Tanpa ragu, dia adalah salah satu manajer terhebat di Liga Primer dan saya senang pernah bersaing dengan dia, rekan sekaligus teman dengan seorang pria yang luar biasa,” kata mantan Pelatih Manchester United (MU) SirAlex Ferguson. Dalam buku Arsene Wenger: The Inside Story of Arsenal Under Wenger diceritakan bagai mana tidak mudahnya jajaran direksi Arsenal memilih mantan pelatih Monaco ter sebut.

Semua diawali dari kon disi The Gunnersyang meng alami tur – bu lensi di internal tim. Ter – utama setelah pelatih tersukses mereka, George Graham, dipecat karena bungs scandal (diduga mendapatkan 400.000 poundsterling dari agen selama menjadi pelatih Arsenal). Saat itulah Arsenal mulai mencari pelatih. Wakil Presi den Arsenal Mike Dean ingat bagaimana dirinya berusaha melakukan pendekatan kepa da Wenger pada 2 Januari 1989. Dean memberi tahu ba nyak hal tentang Arsenal dan semua sejarahnya. Pertemuan informal sebagai sesama te man yang menyukai sepak bola. Pendekatan terus dilakukan dengan sangat hatihati. Termasuk mengajak Wenger menyaksikan laga antara Arsenal melawan Tottenham, setelah mendampingi timnya dari Turki. Dari boks tribune dari direksi, Wenger menyaksikan The Gunnersmembantai Tottenham dengan skor 2-0.

Puncaknya saat Wenger bertemu Presiden Arsenal Peter Hill-Wood di restoran Italia favoritnya, Ziani, yang tak jauh dari Stadion Highbury. Dalam pertemuan tersebut Hill-Wood mengaku terkesan dengan Wenger. Masalahnya, masih menurut buku tersebut, Wenger adalah pelatih asing, di mana saat itu sepak bola masih belum terbiasa dengan arsitek tim di luar Inggris Raya ditambah Wenger belum lancar berbahasa Inggris. “Saya masih belum merasa nyaman dengan pelatih asing saat itu,” tutur Hill-Wood, dalam buku tersebut. Apalagi, lanjutnya, Arsenal memiliki masalah yang rumit dan beberapa di antara mereka memiliki persoalan pribadi. “Jadi, kami belum siap untuk Wenger,” ujarnya.

Karena itu, Hill-Wood kemudian memberi jalan kepada pelatih asal Skotlandia Bruce Rioch yang rela meninggalkan Bolton Wonderers untuk ke Arsenal. Tapi, Rioch ternyata gagal menangani perilaku pelatih bintang. Rioch me – miliki masalah dengan Dennis Bergkamp, Marthin Keown, dan Ian Wright yang merupa – kan pemain pujaan suporter dan top skor The Gunners. Satu sisi, karier Wenger bersama Monaco juga mengalami pasang surut. Tapi, lebih banyak kecewa karena Monaco tidak pernah bisa melewati Marseille. Kekecewaan paling besar karena Marseille terlibat dalam pengaturan skor. Dia merasa dicurangi Presiden Marseille Bernard Tapie melalui pemain, ofisial, dan regulasi. Semua kecurangan yang membuat Marseille melangkah ke final Piala Europa pada 1993 melawan AC Milan beberapa hari sebelum mereka bisa mengunci gelar Ligue 1.

Semua kisah yang akhirnya membawa dia meninggalkan Prancis dan memilih Jepang untuk menukangi Nagoya Grampus Eight. Setelah ber – putar ke Jepang, dia akhirnya mendarat di Arsenal. Saat diperkenalkan, media banyak mempertanyakan Wenger. “Arsene Who?” tulis salah satu media menyambut kedatangan Wenger. Lebih satir, media juga mempertanyakan bagaimana cara mengucapkan nama Wenger yang benar. Jika Prancis, namanya menjadi Arsenn Won-jair. Jika Jerman, Arsehn Ven-ger, dan semua pertanyaan yang terkesan meremehkan. Tapi, pada akhirnya Wenger memperlihatkan bagaimana dirinya membangun Arsenal, yang lebih banyak mengalami masa irit finansial. Gelar diberikan, meski tidak selalu sesuai keinginan. Jika dalam tiga atau dua musim terakhir ada suporter yang me minta mundur, mungkin dia tidak mengerti jasa pelatih berusia 68 tahun itu.

Nanti malam menghadapi West Ham United menjadi satu dari tiga pertandingan ter akhirnya di Stadion Emirates, yang menurut beberapa pihak layak diganti menjadi Stadion Emirates Arsene Wenger se bagai bentuk apresiasi kepada dia. “Semua pemain pasti me rasa kaget karena baru per tama men dengar,” kata Jack Wilshere, di situs resmi. Keka get an yang juga dirasakan se mua orang, termasuk Anda.

Ma’ruf

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com