SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Antisipasi Cacar Monyet, Karimun Pantau Penumpang Asal Singapura

  • Reporter:
  • Selasa, 14 Mei 2019 | 12:14
  • Dibaca : 58 kali
Antisipasi Cacar Monyet, Karimun Pantau Penumpang Asal Singapura
ilustrasi /ricky robiansyah

KARIMUN -Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Karimun mengantisipasi masuknya penyakit menular cacar monyet atau monkeypox dari Singapura. Hal tersebut mengingat, daerah Kabupaten Karimun merupakan wilayah transit dari Singapura ke daerah- daerah lain di Indonesia.

Cacar monyet atau monkeypox merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh virus dan ditularkan kepada manusia melalui hewan, terutama di Kawasan Afrika Tengah dan Barat. Baru- baru ini, penyakit tersebut ditemukan diwilayah Singapura, dan telah dikonfirmasi kebenarannya oleh Kementerian Kesehatan Singapura, Kamis (9/5) lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Karimun Rachmadi mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi bersama KKP untuk melakukan antisipasi atau pengendalian penyakit Monkeypox.

“Kita sudah berkoordinasi membahas langkah- langkah dalam mengantisipasi masalah ini. Salah satu langkah, KKP telah menyiapkan Thermo Scanner untuk mendeteksi panas tubuh penumpang dari Singapura yang masuk ke Kabupaten Karimun,” kata Rachmadi, Senin (13/5).

Rachmadi mengatakan, penggunaan thermo scanner tersebut merupakan salah satu langkah untuk mendeteksi dini penyakit tersebut. Menurutnya, monkeypox memiliki gejala awal penyakit dengan menunjukkan demam kepada penderita yang tertular.

“Selain gejala secara fisik yang kita lihat seperti cacar, Monkeypox ini juga menyebabkan penderitanya mengalami panas tinggi atau demam. Jadi menggunakan alat pendeteksi suhu badan ini akan kita lihat kepada penumpang- penumpang asal Singapura, apabila ada kita curigai maka akan dilakukan tindakan karantina,” katanya.

Monkeypox merupakan penyakit yang baru di Asia dan pertamakalinya ditemukan di Singapura. Sementar untuk fataliti tingkat kematian dari infeksi cacar monyet ini masih tergolong rendah dibandingkan penyakit- penyakit menular lainnya seperti flu burung yang sempat heboh beberapa waktu lalu.

“Untuk penyebab kematian masih kecil, kisaran 10 persen dan tergantung penanganan. Namun demikian ini tetap harus diwaspadai, karena ini penyakit yang baru ditemukan di asia sehingga harus diantisipasi dengan cepat,” katanya.

Rachmadi memastikan sejauh ini untuk Kabupaten Karimun belum ada ditemukan penyakit Monkeypox atau cacar air tersebut. Selain deteksi dini dipintu masuk Kabupaten Karimun, pihaknya juga telah memerintahkan Puskesmas- Puskesmas untuk melakukan pengawasan di lapangan.

“Alhamdulillah sampai saat ini belum ada ditemukan, kita juga sudah perintahkan puskesmas apabila menemukan gejala- gejala ini untuk segera melaporkan kepada kita,” katanya.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Tanjungbalai Karimun Bachtiar Agus Wijaya mengatakan, pihaknya telah memasang alat thermal detector atau alat pendeteksi suhu tubuh di pelabuhan feri Internasional.

“Jadi setiap penumpang Singapura yang masuk melalui pelabuhan internasional, kita lakukan pemeriksaan suhu tubuh. Jika terinfeksi langsung dilakukan pemeriksaan khusus,” kata Kepala Kantor Kesehatan Kelas II Tanjungbalai Karimun, Bakhtiar Agus Wijaya, Senin (13/5)

Bakhtiar menyebutkan sejauh ini belum ada temuan penumpang yang terkena Monkeypox. Meski demikian pihak akan tetap melakukan pengawasan hingga isu cacar monyet tersebut tenang.

“Kita mulai dari hari Jumat kemarin, namun untuk alat thermol scamner itu sudah lama terpasang. Meski tidak kita temukan adanya penumpang yang terjangkit virus tersebut, kita tetap bersiaga dan terus memeriksa setiap penumpang,” katanya.

Sementara itu, Dokter KKP Kelas II Tanjungbalai Karimun Famelia, mengatakan, bahwa ciri-ciri terjangkit virus cacar monyet tersebut antara lain demam, sakit kepala, nyeri-nyeri otot, dan mengalami kelenjar getah bening.

“Untuk masa inkubasinya atau gejala penyakitnya mulai kelihatan 5-20 hari setelah terinfeksi virus cacar monyet tersebut dan apabila terinfeksi maka akan dilakukan penanganan khusus di rumah sakit,” kata Famelia.

Famelia juga menjelaskan untuk penyembuhannya 2-3 minggu dengan daya tahan tubuh yang kuat, namun bisa berakibat fatal apabila daya tahan tubuh dari manusia itu sendiri lemah sehingga virus tersebut dengan sangat mudah masuk dan bisa menyebabkan gagal ginjal hingga kematian.

ricky robiansyah

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com