SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Arsitek Perempuan Desain Kawasan Wisata Batam Centre

  • Reporter:
  • Selasa, 26 Juni 2018 | 15:02
  • Dibaca : 630 kali
Arsitek Perempuan Desain Kawasan Wisata Batam Centre
Ilustrasi. /DOK SINDO BATAM

BATAM KOTA – Arsitek perempuan Indonesia yang berkarya di Belanda, Daliana Suryawinata akan turut ambil bagian dalam perencanaan kawasan wisata di wilayah Batam Centre. Hal ini terungkap setelah ia bersama suami, Florian Heinzelmann, melihat dua lokasi yang akan ditata, Senin (25/6).

Lokasi yang ditinjau bersama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam ini adalah Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan Cammo Industrial Park. Serta lahan di depan Edukits Jalan Raja H Fisabilillah Batam Centre.

“Lokasi yang di Simpang Frengki (depan Cammo), disiapkan untuk pusat kuliner. Kita minta desain dari konsultannya,” kata Wali Kota Muhammad Rudi.

Ia menjelaskan pada perencanaan besarnya, kawasan Batam Centre akan dijadikan sebagai pusat Kota Batam. Namun tidak boleh bertumpu pada satu titik. Oleh karena itu perlu disiapkan beberapa lokasi dengan peruntukan yang berbeda-beda.

“Kalau Simpang Frengki daerah kuliner, maka satunya (depan Edukits) untuk perdagangan. Nantinya suatu waktu kita berharap ini jadi pusat perbelanjaan yang eksklusif. Untuk itu perlu kita perindah. Maka kita minta desainnya dulu,” sebutnya.

Kedua lokasi ini juga sudah terhubung jalan baru yang bernama Jalan Bakal. Sehingga wisatawan bisa mengunjungi kedua tempat dengan akses yang mudah.

“Jadi setelah lelah belanja di sini (depan Edukits), mereka (wisatawan) lapar mau makan, bisa kulineran di Simpang Frengki,” tutur Rudi.

Dia berharap nantinya dua lokasi ini menjadi pusat perdagangan yang mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu pihaknya akan mempercantik lokasi agar dapat menarik minat masyarakat.

“Kalau begini aja orang enggak mau. Kita minta desain tamannya ini. Taman ini jadi, ruko ini jadi, saya kira bisa menjadi pusat perbelanjaan eksekutif yang berkelas,” katanya.

Menurut dia, pusat perdagangan ini juga bisa dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Ia mencontohkan kedua titik ini akan seperti mal Vivo City di Singapura yang menjadi pusat pergerakan ekonomi.

“Maka (konsultan) kita bawa ke lapangan. Dengan luas tanah sekian dibuat desain. Bagaimana sore hari orang mau datang ke sini. Kalau di Jakarta saya belum pernah ketemu. Saya sudah keliling Jakarta belum ada manusia kumpul sampai 200 hingga 400 ribu, tak ada,” jelasnya.

Dia mengatakan, perencanaan tersebut dibangun untuk generasi muda sekarang. Seluruh pembangunan infrastruktur untuk menyiapkan generasi muda yang kreatif.

“Kita bangun untuk anak muda. Karena hari ini yang harus kita bangkitkan anak-anak muda. Kita menyiapkan untuk mereka. Di satu daerah bisa dilihat yang belanja pasti anak muda semua,” ujarnya.

Sedangkan untuk wisata kuliner, kata dia, akan menjual seluruh ragam masakan dari berbagai daerah di Indonesia. Tapi harus memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan kuliner di luar negeri, tidak asal menyajikan saja kepada pembeli.

“Mudah-mudahan tahun ini desainnya selesai. Tahun depan sudah bisa bangun. Batam Centre betul-betul jadi kota. Apalagi yang belakang ini mudah-mudahan Allah ngizinkan nanti sepakat kita dudukkan akan kita pindahkan,” katanya.

Kepala Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Pembangunan Daerah Kota Batam, Wan Darussalam menambahkan lahan di depan Edukits ini akan dibangun menjadi taman dengan desain kekinian sesuai selera anak muda. Dan bangunan di belakangnya diharapkan menjadi toko yang menjual barang bermerk.

“Tamannya style anak muda, bisa untuk nongkrong juga. Yang di belakang, style-nya toko-toko yang branded (bermerk),” kata Wan.

Wan mengatakan pada peninjauan ini wali kota sudah menyampaikan langsung kepada Daliana garis besar penataan yang pemerintah inginkan. Namun desain detailnya nanti diserahkan kepada konsultan arsitek yang dikenal dengan perencanaan kota (urban planning) ini.

Daliana merupakan perempuan kelahiran Jakarta yang belajar arsitektur di Universitas Tarumanegara Jakarta dan Berlage Institute Rotterdam Belanda. Bersama suami, ia membangun kantor konsultan arsitek yang diberi nama Suryawinata Heinzelmann Architecture and Urbanism (SHAU). Kantornya ini berdiri pertama kali di Rotterdam Belanda dan Munich Jerman. Namun kini sudah membuka kantor di Jakarta dan Bandung.

Konsep penataan kota yang dibuat Daliana sudah digunakan di beberapa lokasi di Indonesia. Sepak terjangnya sebagai diaspora yang berkontribusi bagi pembangunan di Indonesia membuahkan berbagai penghargaan. Seperti The Indonesian Diaspora Award for Innovation 2012 dan Archinesia Award for Architecture Exhibitions 2012, serta banyak penghargaan lainnya.

iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com