SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Asia Timur Rumah Ribuan Startup

  • Reporter:
  • Senin, 7 Mei 2018 | 15:24
  • Dibaca : 180 kali
Asia Timur Rumah Ribuan Startup

JAKARTA–Sejumlah kota di kawasan Asia Timur menjadi rumah bagi ribuan startup baru. Kota-kota tersebut didukung ekosistem teknologi informasi (TI) yang memadai, mulai dari tingginya kecepatan internet hingga biaya operasional yang relatif terjangkau.

Kondisi demikian membuat kemunculan perusahaan-perusahaan baru disektor teknologi kini tidak lagi berkiblat ke SiliconValley di Amerika Serikat (AS) yang menjadi markas raksasa perusahaan berbasis internet. China, Korea, Jepang, danTaiwan kini menjadi pilihan para startup untuk berkreasi.

Contoh teranyar adalah Xiaomi, produsen smartphone dari Negeri Panda yang segera melepas sahamnya di bursa Hong Kong dengan target meraup USD10 miliar (Rp140 triliun). Ini adalah penawar an saham perdana (initial public offering / IPO) terbesar di dunia dalam empat tahun terakhir.

Sebelumnya raksasa ritel online Alibaba, yang juga dari China, melepas saham di bursa New York dengan nilai USD25 miliar pada 2014 silam. Satu lagi startup dari China yang fenomenal adalah Tencent. Perusahaan yang didirikan Ma Huateng alias Pony Ma itu kini menjadi raksasa baru di industri internet dengan puluhan anak usahanya mulai dari bisnis games, media sosial WeChat, entertainment hingga bisnis pembayaran online.

Valuasi pasar Tencent kini telah mencapai USD540 miliar, setingkat di atas Facebook yang hanya berada di kisaran USD500 miliar. Kisah sukses kewirausahaan di Asia Timur yang terus tumbuh seiring dengan besarnya peluang bisnis yang ada didukung populasi penduduk yang besar.

Kondisi politik di Asia Timur juga terbilang stabil sehingga roda bisnis berputar optimal. Di Beijing misalnya. Ibu kota China itu menjadi kota dengan skala dan valuasi startup terbesar di Asia Timur, bahkan di seluruh Asia.

Seperti dilansir CNBC, sebanyak 7.000 startup dan lebih dari 40 unicorn bisnis dengan valuasi lebih dari USD1 miliar (Rp14 triliun) telah meramaikan bisnis di Beijing. Potensi pasarnya masih besar dan SDM-nya melimpah. Kawasan seperti Zhongguancun, yang berada di barat laut Beijing, memiliki 300 coworking space untuk menampung maraknya startup.

Adapun area yang lebih luas seperti Distrik Haidan tetap menjadi pusat perusahaan besar dan sukses seperti Xiaomi Inc dan Baidu Inc. Kota China lainnya, Shanghai, juga menjadi wilayah dengan pertumbuhan startup yang signifikan. Meski berada di belakang Beijing, angka keberhasilan dan ekspansi bisnis di Shanghai tak terbantahkan dan masuk dalam perhatian global.

Jumlah startup di salah satu kota paling padat di dunia tersebut berkisar antara 2.000 hingga 3.000. Kota Shenzhen juga tidak ketinggalan. Berawal dari desa kecil dengan penduduk 175.000, Shenzhen kini menjadi wilayah metropolitan dengan penduduk mencapai 12,5 juta lebih hanya dalam tiga dekade.

Transformasi besar itu memupuk bibit-bibit startup seperti OnePlus dan Tencent Holding Limited, perusahaan konglomerasi internet dan investasi. Shenzen menjadi surga bagi pengembang perangkat keras dan menjadi kota dengan volume investasi penelitian terbesar di China.

“China tidak seperti negara lainnya, skala pertumbuhannya sangat cepat mengingat pasar dan pemerintah berjalan beriringan,” ujar Direktur Startup Grind, Erik Walenza-Slabe, tahun lalu seperti dikutip scmp.com. Kota-kota di Jepang juga subur bagi startup.

Kota pelabuhan Fukuoka telah meningkatkan reputasinya sebagai hub startup. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Siochiro Takashima, pengusaha lokal diberi kesempatan pinjaman hingga USD232.000. Warga asing juga untuk pertama kali diberi visa startup selama enam bulan pertama.

Meski warga Fukuoka yang mencapai 1,5 juta relatif hidup sederhana, Fukuoka menjadi kota dengan pertumbuhan paling cepat di Jepang di luar Tokyo. Fukuoka juga menjadi kota dengan sumbangan generasi berusia 15-29 tahun terbanyak. Kecepatan rata-rata internet di Fukuoka juga sangat tinggi, yakni mencapai 46 mbps.

Tokyo masih menjadi pusat bisnis di Jepang dan ekonomi terbesar ketiga di dunia. Namun Tokyo sedang berjuang mempertahankan dominasi global menyusul populasi yang menua. Meski Tokyo memiliki salah satu investor terbesar di dunia, Softbank, investasi terhadap startup terbilang rendah bila dibandingkan dengan di kota besar lainnya di dunia.

Berbeda dengan Tokyo, Kota Seoul sangat gencar membangkitkan startup melalui kebijakan ekonomi kreatif. Pemerintah pusat dan kota sangat antusias mendukung startup lokal. Kota yang dihuni separuh dari total 50 juta penduduk Korea Selatan (Korsel) itu memiliki 3.500 startup dan 100 akselerator, mayoritas di Distrik Gangnam.

Faktor pendukung lainnya dari pesatnya perkembangan startup di kawasan ini adalah kecepatan internet yang sangat tinggi. Dalam hal ini Seoul, Korsel, menjadi juara karena kecepatan internet di kota ini mencapai 47 mbps.

Sebagai perbandingan, di Fukuoka mencapai 46 mbps, Hong Kong 38 mbps, Taipe 23 mbps, Shenzhen 11 mbps, dan Beijing 6 mbps. Sementara di Jakarta, kecepatan internet berdasarkan data speedtest Global Index pada 2017 adalah sebesar 9 mbps.

Perlu Kembangkan Ekosistem

Lalu bagaimana dengan perkembangan startup di dalam negeri? Menurut Pengamat TI Heru Sutadi, saat ini kondisi startup di Indonesia belum mendapat perhatian. Padahal, selain soal dana, pemerintah sebenarnya bisa masuk memberikan bantuan untuk infrastruktur.

“Misal penyediaan kantor bersama, hosting, dan lain-lain agar biaya operasional lebih rendah. Termasuk dukungan keuangan dari perbankan,” kata dia saat dihubungi tadi malam. Heru menuturkan, pemerintah pasti sudah tahu kendala startup si Indonesia, tetapi hanya sebatas menyampaikan dan tidak ada langkah konkret.

“Kita ini sudah terlambat melangkah dan masih sebatas memetakan masalah. Harusnya segera ada upaya sebagai solusi untuk membantu pengembangan startup, baik regulasi, dukungan infrastruktur maupun keuangan,” tegasnya.

Menurut Heru, saat ini keberadaan startup di Indonesia seperti bergerilya dan tidak dibentuk pemerintah. Contohnya u nicorn yang ada di dalam negeri itu karena mereka berusaha sendiri, bukan dibangun pemerintah dari awal. “Padahal potensi startup di Indonesia sangat besar. Namun, disayangkan, dukungannya yang kurang besar dan kuat,” sebutnya.

Dia menyarankan agar ekosistem TI dikembangkan untuk mendukung para pelaku usaha startup sehingga tidak banyak yang berguguran. “Sekarang banyak berguguran karena beratnya operasional,” ujar dia. Merespons kemunculan sejumlah startup di Tanah Air, pemerintah tidak tinggal diam.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pernah menyatakan untuk terus mendorong lahirnya perusahaan rintisan baru. Dukungan tersebut diimplementasikan dengan tidak adanya perizinan khusus bagi mereka yang ingin membuat startup.

Adapun terkait dengan permodalan, dalam waktu dekat akan difasilitasi pertemuan para startup lokal dengan investor dari perusahaan vanture capital di Bali pekan depan. Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan-kesepakatan bisnis sehingga menciptakan unicorn baru di sektor bisnis berbasis digital.

“Kami akan membuka diskusi dengan mengundang khusus startup yang telah menjadi unicorn global. Selanjutnya kita akan memfasilitasi kemungkinan-kemungkinan penjajakan antara startup Indonesia dan unicorn global. Kita harapkan lahir kerja sama atau sharing investasi,” ungkap Chief Coordinator of Nexticorn Promotional Road, Donald Wirahardja, Jumat (4/5).

Mengenai investasi di sektor startup, data yang dikutip Techinasia menyebutkan, sepanjang tahun lalu startup di kawasan Asia Tenggara mendapat suntikan sebesar USD7,86 miliar, tertinggi dalam sejarah. Jumlah tersebut tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang sebesar USD2,52 miliar.

Singapura dan Indonesia menjadi negara yang paling banyak menyita perhatian investor. Investor-investor tersebut membenamkan modalnya di bisnis fintech sebesar USD3,18 miliar, ecommerce USD2,87 miliar, dan gaming USD553 juta. Beberapa startup yang mendapatkan suntikan di antaranya Grab, Tokopedia, Lazada, Traveloka, AirTrunk, dan iflix.

“Asia tenggara merupakan pasar lebih baru yang relatif. Kami menyaksikan hal yang sama terjadi di industri ventura China,” kata Thomas Tsao dari Gobi Partners seperti dilansir techinasia.com.

muh shamil/kunthi fahmar sandy/ichsan amin

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com