SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Asian Games 2018 sebagai Amanah Raja Sriwijaya

  • Reporter:
  • Minggu, 11 Maret 2018 | 15:11
  • Dibaca : 183 kali
Asian Games 2018 sebagai Amanah Raja Sriwijaya
DR NAJIB ASMANI, Staf Khusus Gubernur Sumsel bidang Perubahan Iklim, dosen di Universitas Sriwijaya, Koordinator Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumsel, dan Direktur Eksekutif Dewan Pembangunan Hijau Sumatera Selatan

MELIHAT sejarah Kerajaan Sriwijaya yang lebih dari 500 tahun menjayakan Nusantara, menjadi salah satu kerajaan termakmur di Asia, maka penyeleng garaan Asian Games 2018 di Palembang yang merupakan ibu kota Kerajaan Sriwijaya, sangatlah wajar.

Mengapa? Karena para pemimpin Sriwijaya selalu ber pikir terbuka, global, dan mengutamakan kepentingan semua manusia di alam semesta ini. Penanda dari proses ini, yakni sikap para pemimpin Sriwi jaya yang terbuka terhadap masuk nya berbagai ilmu pengetahuan ataupun produk budaya dari berbagai belahan dunia, termasuk beragam ajaran agama, masuk ke dalam masyarakat Sriwijaya.

Hal ini terbaca dari beragam penemuan artefak dari kerja kawan-kawan arkeolog yang terkait dengan kehidupan masyarakat Sriwijaya, seperti per hiasan, perahu, peralatan rumah tangga, koin, peralatan ibadah, yang menandakan beragam suku bangsa di dunia; dari Tiongkok, Timur Tengah, Afrika, serta Eropa Selatan.

Sementara produk pengetahuan dari tanah Nusantara, terutama dari kekayaan alamnya yang dikelola secara lestari, juga menyebar ke berbagai penjuru dunia. Terkait ajaran agama, Kerajaan Sriwijaya juga bersikap terbuka, yang mungkin dipahami sejauh tidak menyengsarakan mak hluk hidup dan merusak alam semesta sehingga Palembang menjadi salah satu pusat pendidikan agama Buddha di dunia.

Bahkan, ketika ajaran Islam berkembang, seorang raja Sriwijaya bernama Sri Indrawarman, pada 718 Masehi berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Ummayah. Sebelumnya, dia juga mengirim surat kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan, khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Inti surat tersebut, Raja Sri Indrawarman mengharapkan sang khalifah mengirimkan seorang guru agama Islam ke Kerajaan Sriwijaya. Surat ini terarsipkan Bani Umayyah. Sikap yang sama juga terhadap beragam ajaran agama lainnya, seper ti Hindu dan Nasrani.

Buktinya, umat Hindu diperbolehkan membangun rumah ibadahnya, termasuk di wilayah pemerintahan Kerajaan Sriwijaya, seperti hadirnya Candi Bumi Ayu yang berada di Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali). Sikap terbuka ini juga masih terbaca pada masyarakat Palembang di masa Kesultanan Pa lembang.

Misalnya dari sisi kuliner, kerajinan kain, dan arsitektur. Kuliner misalnya, masyarakat Palembang mampu mengelola beragam bumbu dan teknik pem buatan makanan dari Tiong kok, Timur Tengah, dan Eropa dalam wujud makanan baru, seperti pindang, beragam kue, pempek, yang kemudian menjadi khas tersendiri Palembang atau tidak ditemukan di wilayah lain.

Begitu pun dengan arsitektur, yang terlihat dari bangunan Benteng Kuto Besak yang memadukan arsi tektur Eropa dan lokal, atau Masjid Agung yang memadukan arsitektur Eropa, Timur Te ngah, Tiongkok, dan lokal.

Amanah Raja Sriwijaya

Berdasarkan uraian ter sebut, penyelenggaraan Asian Games 2018 di Palembang dapat dikatakan sebagai wujud dari penerapan amanah Raja Sriwijaya dalam membangun masyar katnya. Yakni mendorong masyarakat untuk berpikir terbuka dan global demi ke pentingan bersama.

Hal ini dimengerti karena penyelenggaraan Asian Games bukan semata proses kompetisi olahraga, juga proses silatu rahmi antarbangsa Asia dengan latar belakang budayanya pada saat ini. Mulai dari ilmu pengetahuan, teknologi, tradisi, ataupun nilai-nilai kemanusia an.

Atau dalam bahasa saya se bagai “reuni budaya”, yang ma na ratusan tahun lalu para leluhur kita melang sung kan nya. Bedanya, silaturahmi budaya pada hari ini dengan tema olahraga. Sebagai silaturahmi atau peristiwa budaya, tentunya kita membaca dan menandainya bu – kan sebatas peristiwa olahraga.

Kita juga harus melihatnya dari sisi ekonomi, ilmu pe ngetahuan, seni, dan lainnya. Dalam pemahaman semiotik; perilaku, penampilan, dan prestasi seorang olahragawan merupakan cermin ilmu pengetahuan, nilainilai kemanusiaan, teknologi, dari sebuah bangsa.

Pembangunan Hijau Berkelanjutan

Salah satu narasi yang diusung pemerintah Sumatera Selatan, yakni “pem bangun an hijau ber ke lanjutan”. Pembangunan hijau berkelanjutan ini sesuai dengan amanah raja Sriwijaya dalam Prasasti Talang Tuwo, yang intinya mengajak manusia menjaga alam semesta sebagai ruang hi dup semua makhluk dan keturunannya sehing ga kehidupan mereka sejahtera, bahagia, baik di dunia maupun akhirat.

Oleh karena itu, menjelang Asian Games 2018, pemerintah Sumatera Selatan mendukung semua skema yang mendorong pelestarian lingkungan hidup, baik dari pemerintah Indonesia maupun internasional, di dalam kerangka kemitraan semua pihak; masyarakat, pemerintah, NGO, pekerja budaya, pelaku usa ha, yang tergabung dalam De wan Pembangunan Hijau Sumatera Selatan.

Dijaga Alam Semesta

Apa yang menjadi dasar pengikat dari semua cita-cita ter sebut? Sesuai dengan amanah raja atau pemimpin Sriwijaya semua nya dikembalikan kepada alam semesta; diberkahi atau dikutuk.

Ini terbaca dalam Prasasti Telaga Batu, yang artinya kira-kira seperti ini, yang saya kutip dari Wikipedia: “Semoga berhasil. Kamu semua berapa pun banyaknya; putra raja, bupati, panglima, tokoh lokal terkemuka, bang sawan, bawahan raja, hakim, pemimpin para buruh, pengawas pekerja rendah, ahli senjata, kumaramatya, tentara, pejabat pe ngelola, karyawan toko, perajin, nakhoda, pedagang, pelayan raja dan budak raja.

Kamu se mua akan mati karena kutukan ini, jika kamu tidak setia padaku, jika kamu berlaku sebagai peng khianat, ber komplot dengan orang-orang dalam kejahatan.”

Dalam pemahaman bebas saya, jika seorang pemimpin mem perjuangkan sebuah citacita yang baik, demi keselamatan semua makhluk secara berkelanjutan, dan ada yang menghalanginya atau melakukan kejahatan terhadap cita-cita tersebut, mulai dari penyelenggara pemerintahan, pelaku usaha hingga rakyat, maka dia akan terkena dampak negatifnya.

Kini, dengan cara terbuka, saya berharap kita mampu memahami keinginan pemerintah Sumsel yang dipimpin Alek Noer din untuk menelurkan pembangunan hijau berke lan jut an tersebut, apakah sebagai se buah niat baik atau jahat. Jika niat jahat, tentunya amanah raja Sriwijaya tersebut tidak berlaku. Dan sebaliknya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com