SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

ATB Tekan Kebocoran hingga 16,6 Persen

  • Reporter:
  • Kamis, 8 Agustus 2019 | 13:46
  • Dibaca : 91 kali
ATB Tekan Kebocoran hingga 16,6 Persen
Manajer Produksi ATB menjelaskan sistem SCADA. Teknologi SCADA memungkinkan petugas melakukan kendali dan pengawasan jarak jauh terhadap proses produksi dan distribusi di setiap IPA, sehingga mampu menekan angka kebocoran. f dok atb

BATAMKOTA – Penerapan inovasi teknologi terbukti mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan kebocoran air di Batam. Dengan implementasi preasure management dalam Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), PT Adhya Tirta Batam (ATB) mampu menekan angka kebocoran hingga 16,6 persen.

“Walaupun sudah cukup rendah, kami tetap berupaya menekan angka kebocoran hingga 15 persen. Tentunya ini butuh usaha keras dari kami,” kata Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus.

Menekan angka kebocoran menjadi pekerjaan rumah bagi semua perusahaan air di Indonesia. Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) mengungkapkan, tingkat kebocoran air di Indonesia cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Tahun 2015, rata-rata kebocoran air nasional adalah 32,47 persen. Peningkatan terus terjadi pada 2017 hingga mencapai 32,80 persen. Hingga pada tahun 2018 silam, rata-rata kebocoran nasional naik menjadi 33,16 persen.

Kenaikan tingkat kebocoran ini bertolak belakang dari target yang dicanangkan oleh BPPSPAM. Lembaga di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini menargetkan kebocoran air nasional bisa ditekan hingga di bawah 20 persen.

Manajemen pengelolaan kebocoran yang modern membuat ATB menjadi satu-satunya perusahaan air bersih yang mampu menekan angka kebocoran hingga 16,6 persen. Tingkat kebocoran air ATB adalah yang terendah untuk kelompok pelanggan lebih dari 250 ribu.

Sistem Preasure Management merupakan sistem terkoordinasi antara produksi, distribusi, dan kebocoran. Teknologi SCADA memungkinkan petugas melakukan kendali dan pengawasan jarak jauh terhadap proses produksi dan distribusi yang berlangsung di setiap Instalasi Pengolahan Air (IPA). Petugas bisa mendeteksi kekuatan aliran dan tekanan air, debit air, kapasitas dan kualitas air yang diproduksi.

Melalui sistem ini, ATB dapat mengatur agar produksi dan distribusi air yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan riil pelanggan di Batam. Dengan demikian, potensi kebocoran akibat tekanan tinggi air yang melimpah bisa ditekan.

Saat ini 60-70 persen sistem pendistribusian dan pengawasan kebocoran air sudah dikontrol menggunakan sistem digital. Sistem ini didukung dengan ratusan peralatan otomasi yang tersebar di titik-titik penting di Batam.

Integrasi SCADA dengan Geographic Information System (GIS) memungkinkan kontrol menjadi lebih mudah. GIS membantu menyajikan pemetaan jaringan, lokasi loger, lokasi aset dan lokasi produksi. Sehingga memudahkan monitoring proses dan analisa lokasi dalam SCADA.

“Sudah ada peralatan-peralatan modern yang mengukur dan mengirimkan data tekanan air di ratusan titik di Batam. Jika ternyata tekanan berlebihan, kontrol buka tutup valve bisa dilakukan secara otomatis,” jelasnya.

Selain mengandalkan teknologi, tim yang kuat juga menjadi kunci ATB menjaga tingkat kebocoran. ATB memiliki tim Leak Finding yang bekerja untuk menemukan kebocoran setiap harinya. Tim ini bekerja menggali informasi dari setiap sumber yang melaporkan kebocoran.

Selain itu, ada pula tim Ilegal Disconection yang bekerja menanggulangi kebocoran komersial. Tim ini aktif bergerak untuk mendeteksi kehilangan air akibat pencurian, perusakan meteran, dan aktifitas sejenisnya.

“ATB punya tim yang lengkap dalam hal penanggulangan kebocoran,” katanya.

Di sisi lain, masih ada PR besar yang harus diselesaikan untuk menekan angka kebocoran ini. Menurut data yang dihimpun ATB, terdapat sekitar 400 sampai 500 titik kebocoran yang terjadi setiap bulannya. Sekitar 70 persen dari kebocoran tersebut diakibatkan oleh pihak ketiga.

“Kebanyakan akibat kontraktor yang mengerjakan proyek infrastruktur,” jelasnya.

Menurut Maria, biasanya ada rapat koordinasi yang dilakukan sebelum pekerjaan dimulai. Namun implementasi di lapangan berbeda dengan koordinasi yang dilakukan saat awal. Tidak ada koordinasi yang dilakukan saat akan melakukan pekerjaan di titik gali yang terdapat pipa ATB.

“ATB sudah bekerja keras menjaga kebocoran. Kami berharap semua pihak bekerjasama untuk menjaga agar air kita bisa terdistribusi dengan baik. Jangan ada yang terbuang sia-sia,” pintanya. ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com