SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bakar Kejahatan di Dalam Diri

Bakar Kejahatan di Dalam Diri
Umat Hindhu di Batam gelar pawai Ogoh-ogoh. Foto Agung Dedi Lazuardi.

BATAM – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, ratusan umat Hindu Batam menggelar pawai ogoh-ogoh di halaman Pura Agung Amertha Buana, Baloi, Senin (27/3) sore. Ada tiga jenis ogoh-ogoh yang diarak dalam pawai tesebut, mulai dari wujud raksasa menyeramkan hingga ogoh-ogoh berpose selfie, lengkap dengan tongsis dan smartphone.

Suasana sore itu cerah, tidak panas seperti terjadi beberapa hari belakangan. Ratusan umat Hindu berkumpul di lapangan parkir Pura Agung Amertha Buana dengan udheng khas Bali terikat di kepala. Konsentrasi massa tertuju pada satu titik, tiga ogoh-ogoh raksasa dengan wajah menyeramkan. Ogoh-ogoh setinggi 2,5 meter itu memiliki taring yang tajam, lidah menjulur, dan mata melotot.

Ogoh-ogoh terunik berada di tengah dengan warna kulit merah muda. Dia seperti sedang tergantung di batang pohon bambu dengan lidah menjulur panjang dan mata melotot tajam. Yang unik, tangan kiri ogoh-ogoh tampak memegang tongsis, lengkap dengan smartphone tiruan untuk selfie.

“Ogoh-ogohnya selfie,” ujar sejumlah pengunjung yang menumpang berfoto di depan ogoh-ogoh tersebut.

Pemangku Pura Agung Amertha Buana, Putu Satria Yasa mengatakan, ogoh-ogoh selfie tersebut merupakan sumbangan sekelompok umat Hindu yang ingin menambah variasi ogoh-ogoh yang dihadirkan dalam pawai. Tidak ada pesan tertentu yang ingin disampaikan melalui ogoh-ogoh selfie ini.

Wujud ogoh-ogoh identik dengan makhluk menyeramkan, melambangkan sifat kebatilan yang dilarang agama. Sehingga, harusnya manusia takut melakukan hal-hal yang dilarang agama. “Kalau ogoh-ogoh didesain cantik, malah kesannya orang suka mendekati dosa dan kejahatan,” ujarnya.

Pembina Parisada Hindu Dharma Indonesia Kepri, I Wayan Catra Yasa menambahkan, sebelum memulai pawai ogoh-ogoh, umat Hindu Batam melaksanakan upacara Tawur Agung Kesangga. Upacara yang bermaksud membersihkan dan mengembalikan keseimbangan Bhuana Agung (Alam Semesta Beserta Isinya) dan Bhuana Alit (diri manusia) ini dilaksanakan tepat pukul 12.00.

“Ritual ini untuk mendorong umat Hindu senantiasa melestarikan lingkungan, karena kesejahteraan manusia sangat bergantung pada kesejahteraan alam dan lingkungannya,” ujarnya.

Selain itu, juga dilaksanakan upacara Pasupati, sejenis upacara pemberkatan ogoh-ogoh yang sudah rampung dibuat. Tujuannya agar ogoh-ogoh memiliki kekuatan magis positif untuk mengusir roh jahat yang disebut buta kala. Ogoh-ogoh yang telah rampung kemudian diarak ramai-ramai, diiringi sekaatruni yang membawa obor di depannya.

Menurut Wayan, ogoh-ogoh yang diusung dalam menyemarakkan malam pengrupukan, sehari menjelang Hari Suci Nyepi, memiliki peran dan fungsi yang tidak bisa lepas dari aktualitas ritual, yakni sebagai upacara buta yadnya. Korban suci bermakna untuk menyucikan keseimbangan alam semesta.

Ogoh-ogoh yang diusung kemudian diarak keliling dengan iringan musik tradisional gamelan yang bertalu-talu serta tingkah riuh sorak yang mengandung makna mengusir roh-roh jahat dan menetralisasi alam semesta. Selama pawai, ogoh-ogoh dibuat seperti menari di tengah jalan. Matanya yang diberi lampu led tampak menyeramkan.

Setelah diarak sepanjang sekitar 1,5 kilometer mulai dari Pura Agung Amerta Bhuana hingga SPBU Taman Kota, ogoh-ogoh itu kemudian dibakar. Pembakaran ini mempunyai maksud dilebur dan dimusnahkannya roh buta kala, baik di alam semesta dan yang terpenting pada diri sendiri.

“Sederhananya, arakan ogoh-ogoh bermakna menangnya dharma melawan adharma,” jelasnya.

Selain bermakna spiritual, ogoh-ogoh juga mengandung makna seni budaya yang khas. Ogoh-ogoh sebagai bagian dari wujud visual digolongkan dalam bentuk patung berkualitas seni di Bali, berperan untuk mengkomunikasikan gagasan dan fungsi seni rupa.

Unsur artistik dari tradisi dari patung ogoh-ogoh memiliki nilai jual pariwisata yang patut diperhitungkan. Kendati sudah masuk kalender wisata Pemko Batam, namun tampaknya dukungan pemerintah masih minim dalam penyelenggaraa festival ini.

“Kami masih berharap pemerintah menaruh perhatian lebih dalam kegiatan ini. Karena potensinya sebagai salah satu agenda wisata unggulan masih sangat besar,” tuturnya.

sarma haratua siregar/m ilham

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com