SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Balindo Noor Berimajinasi Lewat Shibori

Balindo Noor Berimajinasi Lewat Shibori
Foto Arrazy Aditya.

Seperti Indonesia, Jepang juga punya batik. Namanya shibori. Batik Jepang lebih sederhana dan mudah dipelajari. Hanya butuh imajinasi, ketelitian, dan keuletan. Seperti yang dilakukan Balindo Noor.

Balindo Noor punya minat tinggi terhadap shibori. Sehari-hari ia sibuk membuat shibori. Menciptakan motif-motif baru, berimajinasi, dan menggunakan alat-alat bantu yang ada di sekitarnya. Di studionya yang mungil di Jalan Tengku Umar Blok N Nomor 216, Lubukbaja, karyanya terlihat di mana-mana. Gorden, sarung bantal, alas sofa, bahkan sprei di kamar tidurnya menggunakan shibori.

“Kesukaan saya membuat shibori sudah lama. Dulu saat kuliah sudah suka sama tie dye. Teknik pembuatannya nyaris sama. Bedanya tie dye ngetop sebagai batik ala Amerika sedangkan shibori ala Jepang,” katanya, Rabu (22/3).

Bedanya lagi, shibori punya lebih banyak corak dan motif. Sedangkan tie dye cenderung spiral. Pewarnaan tie dye banyak menggunakan warna terang. Shibori memakai pewarna alam (indigo) dan hanya punya satu warna, yaitu biru. “Kalau ingin main di warna lain juga bisa. Pakai pewarna indigosol. Harus diracik sendiri pakai bahan kimia,” katanya.

Indigo maupun indigosol tak luntur meski dicuci berkali-kali. Itu yang membedakan dengan tie dye yang menggunakan cat dylon. Menekuni shibori, bagi Balindo menjadi kepuasan tersendiri. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini menyebut, shibori bisa jadi wadah untuk mengekspresikan diri, berimajinasi, dan berkreasi.

“Senang rasanya bisa menciptakan sesuatu yang limited edition. Sebuah karya yang tak pernah sama antara satu dengan yang lainnya, sekaligus bermanfaat. Tak hanya jadi pelengkap fesyen, karya shibori saya aplikasikan dalam home living,” katanya.

Lelaki kelahiran Batam tahun 1985 itu mengaku, saat kuliah sering ‘main’ dengan mahasiswa jurusan tekstil. Dia jadi ketularan menyukai fesyen. Tie dye buatannya sering digunakan untuk melengkapi kostum panggung teman-temannya.

Tamat kuliah Balindo kembali ke Batam. Meski di sini tie dye tak dikenal namun dia tetap meneruskan hobinya. Sesekali teman-temannya di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung memesan tie dye buatannya. Dua tahunan lalu, Balindo merasa stagnan dengan teknik ini. Mulailah ia mengeplorasi corak dan motif lain.

“Di Jakarta, Bandung dan Bali lalu mulai ngetren shibori. Saya mulai coba juga, belajar otodidak, menggunakan alat-alat yang ada di sekitar saya, ternyata hasilnya memuaskan,” katanya.

Membuat shibori tak rumit. Hanya perlu kain katun putih atau krem. Ukurannya tergantung kain akan dibuat apa. Bisa juga bahan dasar kaos yang sudah jadi. Syaratnya kain harus berserat, katun paling cocok.

Kain lalu dibuat motif. Pembuatan motif dilakukan dengan cara diikat. “Ada empat teknik, namanya kumo, itajime, arashi dan abstrak,” terangnya. Kumo adalah motif bulat atau polkadot. Cara membuatnya dengan alat bantu bentuknya bulat. Biasanya ia pakai kelereng, batu, atau tutup botol. Itajime menggunakan bantuan kayu sebagai penjepit. Ukuran dan bentuk potongan kayunya macam-macam. Segi empat atau segitiga.

Arashi, teknik membuat motif dengan pipa. Motif abstrak biasanya cukup dengan tali atau karet gelang. Setiap pengrajin shibori dibebaskan mengikat alat bantu tersebut di kain. “Nah di sinilah imajinasi kita bermain,” katanya.

Balindo suka bereksperimen dalam membuat motif. Barang-barang disekitarnya dipakai sebagai alat bantu, korek ap, kawat, penjepit kertas dan lain-lain. Penjepit kertas bisa menjadi motif cantik mirip kupu-kupu.

Membuka Kelas Shibori
Balindo juga menularkan hobinya kepada orang-orang yang tertarik dengan seni pewarnaan khas Jepang. Di studionya, Balindo membuka kelas setiap Sabtu atau Minggu. “Kebanyakan teman-teman yang belajar ke sini. Daripada nganggur hari Minggu nggak ngapa-ngapain mending belajar membuat shibori,” katanya.

Selain orang dewasa, anak-anak pun sering datang ke studionya untuk belajar. Shibori bisa jadi wadah untuk menuangkan kreativitas anak-anak. Daripada coret-coret tembok, lebih bagus jika diaplikasikan dengan membuat shibori. “Anak-anak sekarang lebih suka gadget, kurang aktivitas fisik. Shibori bisa jadi salah satu alternatif buat anak-anak mengisi waktu luang,” tuturnya.
Balindo juga kerap diundang ibu-ibu arisan untuk mengajar shibori. Ke depan, ia ingin berpartisipasi di sekolah. Misalnya mengisi kegiatan esktra kurikuler.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com