SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Baru Pegang Kamera, Hasil Jepretan Akan Dipamerkan

  • Reporter:
  • Selasa, 6 Juni 2017 | 15:58
  • Dibaca : 403 kali
Baru Pegang Kamera, Hasil Jepretan Akan Dipamerkan
Anak-anak disabilitas belajar fotografi. Foto Teguh Prihatna.

Ketika Anak Disabilitas Diajari Memotret

Anak penyandang cacat atau disabilitas kerap dianggap sebagai beban bagi keluarga. Tidak bisa bekerja, selalu butuh bantuan saat beraktifitas. Yayasan Maria Monique Lastwish mengubah pemikiran itu untuk menjadikan anak disabilitas produktif dengan dorongan keluarga.

Anak usia 14 tahun itu duduk di tangga halaman Kantor Wali Kota Batam. Dia Azizah, penyandang tunanetra. Namun, ia akan membidik gambar dengan ditemani Aulia Ihsan dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri sebagai mentor.

Mereka duduk bersama, mulai dari perkenalan antar keduanya, hingga belajar mengoperasikan kamera digital single lens reflector yang disingkat DSLR. Dengan perlahan, satu persatu tombol diperkenalkan hingga tiba saatnya Azizah membidik objek untuk diabadikan.

Jepreetttt… suara jepretan keluar dari kamera yang digenggam anak berkerudung hitam itu. Pada jepretan pertama ia diarahkan membidik panorama terbenamnya matahari di
Dataran Engku Putri. Saat itu memang waktu menjelang berbuka puasa. Hasil gambar tak memuaskan, masih belum fokus. jepretan ke dua masih objek yang sama, tampak gambar lebih baik.

Pada jepretan ke tiga, tanpa aba-aba, Azizah mengarahkan kamera lebih rendah dari bidikan pertama dan keduanya. Tepat di depannya dengan latar belakang Astaka Engku Putri
seorang ayah menemani istrinya yang sedang menggendong anak. Momen itu tepat waktu ia abadikan.

“Nah ini bagus,” Kata Aulia sang mentor yang akrab disapa Icank itu.

Sembil tersenyum, Icank mencoba memberi tahu Azizah yang tak bisa melihat apapun. Ia menguraikan satu per satu apa yang sudah ia abadikan dalam gambar yang baru ia ambil.
Sambil tersenyum Azizah pun merespons seolah ingin tahu bagaimana hasil bidikan dia.

Usai belajar dan mempraktikkan kamera, siswi kelas V Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Batam itu kembali berkumpul dengan teman-temannya. Ia mengungkapkan kegembiraannya setelah dibimbing selama 30 menit untuk mengoperasikan kamera.

“Udah, udah bisa. Bagus ya?” Azizah penasaran dengan hasil bidikannya.

Aizizah mengaku baru pertama kali memegang kamera, ia hanya mengoperasikan apa yang diarahkan oleh mentornya. Bahkan bentuk kamera saja ia baru tahu saat memegangnya langsung.

“Kayak teropng,” kata Azizah sambil tersenyum.

Sementara itu, Icank yang dari awal menjadi pembimbingnya mengatakan, hal itu merupakan pengalaman pertamanya mengajari fotografi bagi mereka yang tak bisa melihat.

“Memang mengajari mereka harus dari hati,” kata Icank.

Dengan sabar, ia mencoba mencari tahu sejauh mana pengetahuannya terhadap benda yang ada, hingga akhirnya meminta penderita tuna netra itu untuk memegang kamera
yang ia pegang sebelumnya.

“Saya kasih tahu semua bagian kamera, suruh pegang dan coba pencet. Dan hasil yang bagus tadi ada objek gendong anak,” kata dia.

Selain Azizah, ada Melisa tuna daksa, Eno, Aulia, Alif Danil dan Naura tunarungu. Selain itu Indri Sindrom Down, Sultan Anuha Low vision atau gangguan penglihatan yang tidak dapat dibantu dengan menggunakan kacamata. Mereka semua mengikuti kegiatan Fotografi Disabilitas yang dipusatkan di Dataran Engku Putri, Senin (5/6) yang dimotori
Yayasan Maria Monique Lastwish. Mereka mendapat bimbingan dari fotografer Batam yang tergabung dalam PFI Kepri.

Di lokasi yang sama, Pendiri Yayasan Maria Monique Lastwish Natalie S Tjahja mengatakan, dengan waktu 30 menit memberikan arahan bagi anak disabilitas ini akan mengubah sudut pandang keluarga terhadap keberadaan mereka. Hasil terbaik dari anak kebutuhan khusus ini nantinya bakal dipamerkan saat ulang tahun Eropean Union Asean ke-40.

“Kalau ada yang beli saat pameran nanti, hasilnya akan diberikan ke anak yang mengambil gambar,” kata dia.

Dengan begitu, keluarga yang mayoritas menganggap keberadaan mereka sebagai beban akan mengubah cara pandang keluarga. Sehingga dalam menggapai kebahagiaan seorang anak, butuh dukungan moril atau bantuan yang berupa sokongan batin.

“Ini kota ke-10 yang sudah saya kunjungi,” kata Natalie.

Sebelumnya sudah dilakukan kegiatan yang sama di Salatiga, Solo, Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Kupang, Bali dan Yogyakarta. Masing-masing anak akan diambil tiga gambar terbaik untuk nantinya dipamerkan.

“Rencana Oktober, sejauh ini ada beberapa hasil gambar yang bagus seperti di Semarang seorang anak membidik merpati,” ujarnya.

Selain Indonesia, Natalie juga akan berkeliling ke negara-negara di Asia seperti Filipina, Hongkong, dan negara lainnya untuk kegiatan yang sama. Ia berharap dengan kebebasan
yang diberikan ke anak khususnya penyandang disabilitas ini, mereka bisa bahagia dan berekspresi sesuai dengan kemauan.

“Berharap anak-anak bisa bahagia lewat alam,” kata pendiri yayasan yang ada sejak 2007 silam itu.

Secara pribadi, Natalie bukanlah seorang fotografer. Namun, ide Fotografi Disabilitas ini muncul saat ia berjumpa Agus Gozali yang kini menjadi bagian dari yayasan yang ia dirikan. Awalnya Natalie sempat meragukan namun setelah melihat beberapa hasil jepretan anak cacat yang ada di dunia, ia mulai yakin.

“Anak disabilitas bisa melakukan sesuatu yang produktif,” ujarnya. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com