SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bebaskan 80 Ribu Anak Korban Perbudakan

Bebaskan 80 Ribu Anak Korban Perbudakan
Kailash Satyarthi

Kailash Satyarthi adalah seorang aktivis hak asasi manusia asal India. Bersama Malala Yousafzai (asal Pakistan), Satyarthi mendapat hadiah Nobel Bidang Perdamaian, pada 2014, atas perjuangan keduanya melawan penindasan anak-anak dan pemuda serta untuk mendapatkan hak pendidikan bagi mereka.

Memiliki nama asli Kailash Sharma, Satyarthi dilahirkan pada 11 Januari 1954, di distirk Vidisha, sekitar 50 kilometer arah Bhopal, India. Ia bersekolah di SMP Negeri khusus lelaki, dan menyelesaikan gelarnya dalam electrical engineering di Samrat Ashok Technological Institute, Vidisha. Ia kemudian melanjutkan S2-nya dan menjadi dosen di Bhopal selama beberapa tahun.

Pada 1980, Satyarthi berhenti mengajar dan menjadi Secretary General untuk Bonded Labor Liberation Front. Ia juga mendirikan Bachpan Bachao Andolan (Misi Penyelamatan Anak).

Tak seperti Malala yang namanya bagai selebritis yang mendunia, Satyarthi tidak terlalu populer. Namun, di negara asalnya, India, ia menjadi pahlawan bagi anak-anak, terutama yang menjadi korban perbudakan. Di bawah naungan lembaga swadaya masyarakat yang didirikannya pada 1980, pria berusia 60 tahun ini berhasil membebaskan hampir 80.000 anak yang menjadi budak di India.

Mengutip laporan The New York Times, Unicef, badan PBB yang melindungi hak anak memperkirakan, saat ini ada sekitar 28 juta anak India usia 6-14 tahun menjadi korban perbudakan.

Satyarthi sendiri tengah berada di kantornya, di selatan Delhi, saat ia mengetahui dari Twitter, bahwa dirinya memenangkan Nobel Perdamaian. Beberapa menit kemudian, ia mendapat telepon dari Komite Nobel yang bermarkas di Norwegia. “Tentu saja dia senang, tapi tidak ada air mata atau teriakan. Dia sangat rendah hati,” cerita Bahawan, anak Satyarthi, kepada The Guardian.

Satyarthi dikenal sebagai pengikut setia Mahatma Gandhi dengan nilai-nilai anti-perbudakan manusia dan berjuang dengan cara-cara damai. Ia juga aktif di Global March Against Child Labor, gabungan dari sekitar 2.000 lembaga sosial dan organisasi serikat buruh di 140 negara.

Selain itu, ia mendirikan GoodWeave Internasional, yang sebelumnya dikenal sebagai Rugmark, sebagai pelabelan sukarela pertama dan sistem sertifikasi karpet yang diproduksi tanpa menggunakan pekerja anak di Asia Selatan.

Organisasi ini melakukan kampanye di Eropa dan Amerika Serikat pada 1980-an dan awal 1990-an, dengan maksud meningkatkan kesadaran konsumen terhadap isu-isu yang berkaitan dengan akuntabilitas korporasi global serta berkaitan dengan konsumerisme dan perdagangan yang bertanggung jawab secara sosial.

Satyarthi telah menyoroti pekerja anak sebagai isu HAM serta masalah kesejahteraan. Ia berpendapat, bahwa isu ini merupakan awal mula kemiskinan, pengangguran, buta huruf, pertumbuhan penduduk, dan masalah sosial lainnya.

Klaimnya ini juga telah didukung oleh beberapa penelitian. Ia pun memiliki peran dalam menghubungkan gerakan menentang pekerja anak dengan upaya untuk mencapai “Pendidikan untuk Semua”. Satyarthi telah menjadi anggota dari UNESCO serta menjadi anggota dewan Fast Track Initiative, yang sekarang dikenal sebagai kemitraan global untuk pendidikan.

Satyarthi melayani dewan dan komite beberapa organisasi internasional termasuk Pusat untuk Korban Penyiksaan (USA), International Labor Rights Fund (USA), dan International Cocoa Foundation.

Satyarthi juga membawa pekerja anak dan perbudakan ke dalam agenda pembangunan pasca-2015 untuk PBB Millenium Development Goals. Ia adalah pemenang Hadiah Nobel kelima dari India dan orang kedua asal India untuk Hadiah Nobel Perdamaian setelah Ibu Teresa, pada 1979.

Dorong Perdamaian India-Pakistan
Peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi mengajak Malala Yousafzai, 17 tahun, bekerja sama dengannya membantu anak-anak yang menderita di seluruh dunia. “Kami berdua semestinya bekerja bersama. Saya mengenalnya secara pribadi. Mari kita bergandeng tangan untuk itu (damai),” kata Satyarthi dalam pernyataan persnya setelah media memberitakan dirinya meraih Nobel Perdamaian bersama Malala.

Pemberian Nobel Perdamaian untuk kedua pejuang ini, bertujuan mendorong perdamaian di India dan Pakistan. Diharapkan, lewat pemberian Nobel Perdamaian ini, ketegangan hubungan kedua negara bertetangga ini mencair dan bersama-sama berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan.

“Ini hal penting bagi umat Hindu dan Muslim, warga Pakistan maupun India, untuk bersama-sama berjuang untuk pendidikan dan menentang paham ekstrimis,” kata Ketua Komite Nobel kewarganegaraan Norwegia, Thorbjoern Jagland.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com