SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bendung Berita Bohong, Teladani Kembali Petuah Bijak Raja Ali Haji

  • Reporter:
  • Selasa, 29 Oktober 2019 | 15:19
  • Dibaca : 1009 kali
Bendung Berita Bohong, Teladani Kembali Petuah Bijak Raja Ali Haji
Naskah Gurindam 12 diabadikan dalam bentuk mural di Jalan Teuku Umar, Batam, Kepri. /FADHIL

Di tahun 1847, pujangga besar dari Bumi Melayu, Raja Ali Haji menulis untaian petuah bijak yang termaktub dalam Gurindam 12. Maha karya itu juga tercatat sebagai salah satu jejak peninggalan tinta emas negeri ini. Sekarang, setelah 172 tahun berselang, kearifan lokal dari pesan-pesan bijak itu rupanya tetap lazim diamalkan. Termasuk, untuk menangkal pengaruh negatif kemajuan teknologi dan penyebaran informasi yang belum teruji autentisitasnya.

FADHIL, BATAM

“Barusan ada suara tembakan, jadi saya mohon kawan-kawan relawan segera merapat ke Gor Odessa-Botania. Juga kawan, bapak-bapak dari LPI dan FPI, mohon segera ke Gor Odessa-Botania, ada satu kali tembakan dari kepolisian, dua kali tembakan dari kepolisian. Saya pikir ini memang strategi dari mereka untuk buat kerusuhan supaya kami-kami yang di sini bubar. Mohon, mohon kawan-kawan relawan kemari”.

Pesan suara (voice note) itu membuat masyarakat Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mendadak geger, April 2019 lalu. Rekaman suara seorang perempuan yang dikirimkan berantai lewat media perpesanan, WhatsApp (WA) itu, memang begitu cepat tersebar. Dibagikan dari satu grup percakapan WA ke grup lain, pesan itu langsung viral di Kota Batam hanya dalam hitungan menit.

Isi pesan suara itu mengajak teman-teman si pengirim pesan, yang berasal dari kelompok tertentu dan kala itu berkaitan dengan proses Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, agar datang ke Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Batam Kota. Saat itu, PPK Batam Kota memang tengah mengadakan penghitungan suara tingkat kecamatan di Gor Odessa-Botania, Batam Kota. Memang kala itu, tak hanya di Kota Batam, situasi nasional juga kurang kondusif, mengingat ada eskalasi ketegangan terkait proses penghitungan suara usai Pilpres 2019.

Pesan suara yang beredar itu, terkesan menyudutkan pihak kepolisian, meski informasi itu tak terbukti kebenarannya. Bahkan, oleh si pembuat rekaman suara, aparat keamanan disebut mengeluarkan tembakan dan membuat situasi saat itu tak aman. Kondisi itu tentu saja memantik kekhawatiran masyarakat terkait aspek keamanan dan situasi kondusif di Kota Batam.

Mirisnya, meski tak tahu kebenaran isi berita dan informasi yang disampaikan dalam pesan suara itu, beberapa orang nekat menyebarkan pesan suara itu ke grup perpesanan lain yang mereka ikuti.

Salah satu warga Batam yang melakukan itu adalah Nurlina. Sehar-hari, Nurlina adalah ibu rumah tangga. Sayangnya, saat menerima pesan suara itu, ia serta merta menyebarkannya ke grup WA yang ia ikuti. Yakni, grup paguyuban dari daerah asalnya. Nahas, penyebaran informasi yang belum teruji autentikasinya itu berbuah petaka bagi Nurlina.

Pasalnya, seorang anggota polisi bernama Ilham, yang mengetahui Nurlina ikut menyebarkan pesan suara yang belum terjamin kebenarannya itu, melaporkannya ke polisi. Nurlina diadukan karena diduga melanggar Pasal 45 A ayat (2) Undang-undang (UU) RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Akhirnya, Nurlina ditangkap aparat dari Polda Kepri untuk diproses hukum. Wakil Kepala Polda Kepri, Brigjen Pol Yan Fitri Halimansyah mengatakan, pesan suara itu murni hoaks. “Sesuai SOP, tidak ada polisi yang berjaga saat penghitungan suara di PPK menggunakan senjata api. Dan kami cek ke lapangan, tidak ada tembakan,” katanya.

Ia mengatakan, dari pesan suara yang disebarkan itu, seolah-olah yang terjadi di PPK Batam Kota, kondisinya tidak aman. “Namun nyatanya, aman dan kondusif. Dari hoaks ini, yang jadi korban itu kepolisian,” ujar perwira polisi dengan satu bintang di pundaknya itu.

Hingga, pada Senin (23/9/2019) lalu, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam menjatuhi hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp5 juta subsider satu bulan kurungan penjara padanya.

“Terdakwa tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Majelis Hakim kemudian menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara denda Rp5 juta dan subsider 1 bulan kurungan,” ujar Hakim Ketua, Taufik Nainggolan, saat membacakan amar putusan terdakwa.

Hukuman itu sebenarnya dikurangi 2 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang sebelumnya menuntutnya 8 bulan penjara, serta denda Rp5 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sebelumnya, dalam pembelaan di persidangan, Nurlina mengaku tak tahu jika pesan yang ia sebarkan itu adalah berita dan informasi bohong atau hoaks. “Tujuan saya sebar rekaman itu untuk teman atau kerabat saya yang lewat di jalan itu agar berhati-hati, tapi ternyata itu hoax,” katanya.

***

Jauh sebelum era masa kini, yang tak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi, para pendahulu Bangsa telah mempersiapkan bekal hidup yang bisa dijadikan pegangan hidup. Meski dibuat atau dikaji bertahun-tahun silam, namun nyatanya masih banyak petuah dan jejak kearifan lokal yang selaras untuk diaplikasikan untuk menjadi panduan dalam hidup kekinian. Satu di antaranya, adalah petuah bijak dari mahakarya Gurindam 12 karya pujangga dan pahlawan nasional, Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat, yang kini masuk kawasan Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Gurindam merupakan salah satu puisi Melayu lama.

Mengutip dari rajalihaji.com, Gurindam 12 ditulis dan diselesaikan Raja Ali Haji di Pulau Penyengat pada tanggal 23 Rajab 1263 Hijriyah atau 1847 Masehi. Saat itu, Raja Ali Haji berusia 38 tahun. Karya ini terdiri dari 12 pasal dan dikategorikan sebagai Syi’r al-Irsyadi atau puisi didaktik, karena berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridai oleh Allah SWT.

Selain itu, terdapat pula pelajaran dasar Ilmu Tasawuf tentang mengenal “Yang Empat”, yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Karya ini diterbitkan pada tahun 1854 dalam Tijdschrft van het Bataviaasch Genootschap No. II, Batavia, dengan huruf Arab dan diterjemahkan dalam Bahasa Belanda oleh Elisa Netscher.

Muhamad Zein, Budayawan Melayu mengatakan, Gurindam 12 menjelaskan dan memberi pembekalan nilai-nilai untuk kehidupan pribadi, keagamaan, maupun sosial. Petuah dan nilai yang diajarkan juga tak lekang oleh zaman.

“Karena rata-rata nilainya universal untuk kehidupan. Memang kebanyakan bersandar pada ajaran Islam, tapi secara umum bisa diterapkan siapa saja dalam kehidupan,” ujar Zein, sapaan akrabnya.

Sejak kecil, Zein bertutur, para orang tua di Bumi Melayu mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai luhur. Beberapa di antaranya memang bersumber pada petuah Gurindam 12. “Saya dulu ketika diberi tahu orang tua, jangan lakukan itu, ya tidak dilakukan. Karena biasanya, apa yang orang tua larang, itu pasti ada efeknya,” tuturnya.

Ia mencontohkan, seperti larangan untuk tidak gegabah menyikapi sesuatu. Namun, harus melalui kajian dan telaah mendalam, sehingga tidak menyesal di kemudian hari.

Dalam Gurindam 12, sambung Zein, Raja Ali Haji juga telah memberikan petunjuknya. Misalnya, pada Pasal 7 disebutkan, “Apabila mendengar akan khabar, menerimanya itu hendaklah sabar. Apabila mendengar akan aduan, membicarakannya itu hendaklah cemburuan”.

Menurut Zein, dari Pasal 7 itu kita diajarkan agar ketika seseorang menerima suatu kabar atau informasi, mestinya ditelaah dulu dengan sabar dan hati-hati. Selain itu, juga harus dipastikan kebenarannya.

“Jangan terburu-buru menyebarkan jika itu belum pasti kebenarannya. Ini kan sama dengan larangan menyebarkan berita hoaks,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam tersebut.

Namun, Zein tak memungkiri, meski petuah dan nilai-nilai kearifan lokal itu begitu agung dan sangat lazim untuk diterapkan di semua masa, namun pada kenyataannya generasi kekinian banyak yang tak lagi mengenal, apalagi mengamalkan petuah bijak dan kearifan lokal tersebut. Seperti pada kasus penyebaran informasi hoaks yang terjadi di Batam beberapa waktu lalu itu, menurutnya semua tak lepas dari makin minimnya kesadaran untuk kembali menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan keseharian.

Karena itu, Zein yang juga pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam itu berharap nilai-nilai seperti Gurindam 12 bisa diajarkan lebih masif kepada generasi masa kini. Tentu, kata dia, dengan metode yang juga kekinian.

“Misalnya bisa dibuat seperti game yang banyak diakses anak-anak zaman sekarang lewat gadget. Atau bisa juga dibuatkan model animasi atau kartun, jadi bisa diterima anak-anak yang usianya lebih muda lagi. Jadi mereka lebih mudah memahami, sekaligus menerapkan dalam kehidupan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata mengatakan, pihaknya sebenarnya sangat mendukung agar masyarakat Batam kembali pada nilai-nilai kearifan lokal. Selain bisa menjadi ciri dan jati diri, nilai-nilai dari kearifan lokal juga diyakini dapat membendung seseorang terjerumus pada hal-hal negatif, termasuk dari imbas kemajuan teknologi seperti di era digital saat ini.

“Tentu kami mendorong agar budaya dijunjung, berikut juga dengan nilai-nilai kearifan lokalnya. Pemerintah Kota Batam di antaranya sudah mulai dengan membuat Perda (Peraturan Daerah) tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu, yang isinya juga mengajak semua pihak termasuk swasta untuk ikut terlibat menyukseskan program untuk memajukan kebudayaan yang dibuat pemerintah daerah,” tutur Ardiwinata.

***

Akhir-akhir ini, berita atau informasi hoaks yang ada di tengah masyarakat dinilaii sangat mengkhawatirkan. Bahkan, akibat ketidakbenaran suatu berita yang dibagikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, berpotensi menimbulkan terganggunya rasa aman, damai dan tenteram dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kepri, Reni Yusneli mengatakan, selain mengganggu kehidupan bermasyarakat, informasi bohong yang disebarluaskan juga punya potensi terhadap perpecahan dan terkotak-kotaknya masyarakat. Bahkan, bisa mengakibatkan saling bermusuhan dan merusak persatuan yang sudah dirajut selama ini.

“Itu diperparah lagi dengan sikap sebagian masyarakat kita yang mudah percaya terhadap suatu berita yang di-share di media sosial,” ujar Reni.

Selama ini, kata dia, FKPT sudah melakukan berbagai kegiatan dalam upaya menangkal semakin maraknya berita hoaks yang beredar. Antara lain, melakukan sosialisasi terhadap bahayanya berita hoaks dalam masyarakat. Misalnya, bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan melibatkan narasumber lokal.

“Sasarannya aparat, siswa, mahasiswa, guru-guru, ulama dan ormas, dengan cakupan wilayah Tanjungpinang, Bintan, Batam dan Karimun,” ujarnya.

Dalam sosialisasi, Reni menyebut pihaknya selalu diingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam memahami berita-berita di medsos. Baik melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter.

“Intinya “saring sebelum sharing’, agar kita tidak terseret ke dalam masalah hukum, seperti Undang-undang ITE, pencemaran nama baik dan lain-lain,” jelas wanita yang juga menjabat Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kepri tersebut.

Terkait nilai-nilai kearifan lokal, menurut Reni, perlu digali kembali dan dikembangkan serta disosialisasikan kepada para pemangku kebijakan. “Termasuk dari bait-bait Gurindam 12 yang penuh petuah bijak tersebut,” tutupnya. *

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com