SINDOBatam

Feature+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bermula dari Gas Bumi, Tebar Manfaat hingga Ujung Negeri

  • Reporter:
  • Selasa, 10 Desember 2019 | 15:30
  • Dibaca : 2083 kali
Bermula dari Gas Bumi, Tebar Manfaat hingga Ujung Negeri
Petugas PGN mengecek suplai gas di wilayah Batam, belum lama ini. /DOK SINDO BATAM

PENYAMBUNGAN infrastruktur pipa gas bumi pada program Jaringan Gas (Jargas) yang ditaja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk 4.003 rumah warga di Batam, membawa dampak sangat positif. Keluhan warga yang sebelumnya kesulitan mencari tabung gas untuk memasak, perlahan mulai sirna. Malah, penggunaan gas bumi jauh lebih hemat sehingga menguntungkan masyarakat. Inilah saatnya gas bumi menjadi pendorong kemandirian energi, termasuk bagi warga yang berada di ujung negeri.

FADHIL, Batam

Masih lekat di benak Bernat Sijabat saat menyambut rombongan tamu pejabat dari Jakarta yang datang ke rumahnya di Perumahan Sentosa Perdana (SP), Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pertengahan 2018 lalu. Tak seperti biasanya, para tamu tersebut tak disambutnya di ruang tamu atau ruang tengah rumahnnya. Melainkan, diarahkan ke dapur yang berada di sisi belakang rumahnya.

Di ruangan yang tak begitu luas itu, para tamu dipersilakan menyalakan kompor yang sehari-hari digunakan Bernat dan keluarganya untuk memasak. Salah seorang di antara tamu tersebut maju dan mendekati kompor. Ia kemudian memegang knop kompor, memutarnya perlahan.

“Ceklek,” terdengar bunyi saat tuas kompor dengan dua tungku itu diputar sang tamu.

Tak sampai sedetik, api biru terlihat menyala melingkari sisi tengah tungku kompor. Para tamu itu tersenyum.

“Bagaimana kesannya pakai gas bumi?” tanya tamu yang menyalakan tuas kompor tadi kepada tuan rumah.

Buru-buru, Bernat menjawab. “Lebih praktis pak, pakai dulu baru bayar dan tak khawatir gas habis,” ujar Bernat kepada tamunya tersebut.

Tamu itu tak lain adalah Herman Khaeron, yang kala itu menjabat Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Tim Reses Komisi VII DPR RI. Saat itu, Tim Reses tersebut didampingi Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto serta Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Dilo Seno Widagdo, sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah untuk melihat efektivitas sekaligus mengevaluasi program Jargas di Batam.

Jargas adalah proyek penyambungan pipa instalasi gas bumi ke rumah-rumah warga secara gratis yang ditaja pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM. Adapun penugasannya, diserahkan kepada PGN.

Untuk wilayah Batam, program sambungan pipa gas bumi ini diberikan secara cuma-cuma kepada 4.003 rumah warga yang berada di enam kelurahan dan terdiri dari 16 perumahan di Kecamatan Batuaji dan Sagulung. Yakni, Perumahan Fanindo Tanjunguncang Batuaji, Taman Carina Tanjunguncang, Bambu Kuning Bukit Tempayan Batuaji, Perumahan Buana Raya Boulevard Batuaji, Perumahan Muka Kuning II dan Muka Kuning Indah II Batuaji.

Sedangkan di Sagulung, terdiri dari Perumahan Graha Nusa Batam Sagulung, Mitra Centre Sagulung, Perumahan Puri Surya Sagulung, Perumahan Taman Teratai Sagulung, Buana Point Sagulung, Perumahan Muka Kuning Pratama Sagulung, Perumahan Putra Moro Indah II Sagulung, Perumahan Taman Anugerah Sagulung, Perumahan Sentosa Perdana, Villa Mukakuning Tembesi Sagulung.

Kecamatan Batuaji dan Sagulung termasuk dua kecamatan yang berada di pinggiran Kota Batam. Di dua kecamatan itu memiliki jumlah penduduk yang sangat padat.

Salah satu warga Kecamatan Sagulung yang merasakan manfaat sambungan Jargas tersebut adalah Bernat Sijabat, yang mendapat kunjungan dari Komisi VII DPR RI tersebut. Menurut Bernat, setelah menggunakan gas bumi untuk bahan bakar memasak keluarganya sehari-hari, ia merasakan banyak manfaat. Salah satunya, tak perlu khawatir kehabisan bahan bakar gas ketika memasak.

Kondisi itu berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, saat masih menggunakan bahan bakar berjenis Liquified Petroleum Gas atau LPG kemasan tabung. Tepatnya, LPG bersubsidi kemasan 3 kilogram (kg). Hanya saja, masalah muncul jika suplai LPG 3 kg sedang tak lancar ke wilayah tempat tinggalnya tersebut. Terutama, saat momen tertentu yang membuat permintaan gas dalam tabung meningkat drastis.

“Misalnya saat mau Natal atau Lebaran. Itu biasanya gas LPG agak langka, susah mencarinya. Maklum, di sini penduduk padat,” kata dia.

Namun, sejak hadirnya sambungan Jargas ke rumahnya, keluhan itu otomatis hilang dengan sendirinya. Pasalnya, suplai gas bumi ke rumahnya dan ratusan rumah tetangganya, tak terputus selama 24 jam penuh. “Sejak ada gas bumi ini, kapan pun mau masak, tinggal ceklek, api menyala. Praktis, cepat,” tutur Bernat sembari tersenyum.

Tak hanya itu, ia juga senang karena sejak menggunakan sambungan Jargas, pengeluarannya jauh lebih hemat dibanding ketika menggunakan gas kemasan tabung. Betapa tidak, jika dulu dalam sebulan keluarganya bisa menghabiskan antara empat hingga lima gas kemasan tabung hijau dalam sebulan, dengan biaya berkisar Rp72 ribu hingga Rp90 ribu per bulan, kini ia bisa hemat hampir separuhnya. Sejak tersambung Jargas, tiap bulan ia mengaku hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp35 ribu hingga Rp45 ribu per bulan. “Memang jauh lebih hemat,” imbuhnya.

Selain Bernat Sijabat, warga lain yang juga merasakan manfaat sambungan Jargas adalah Risma, warga Perumahan Putra Moro Indah II, Kelurahan Seilangkai, Sagulung. Risma mengatakan, aliran gas bumi lewat program Jargas sangat membantu memudahkan warga mendapatkan pasokan energi yang bisa diandalkan setiap waktu. “Kapanpun dibutuhkan, kompor bisa langsung menyala,” katanya.

Tak hanya itu, Risma juga mengaku lebih tenang menggunakan bahan bakar gas bumi tersebut. Pasalnya, ia mengatakan telah mendapat edukasi bahwa sambungan jaringan pipa gas ke rumah-rumah warga itu memiliki tekanan yang cukup kecil serta dilengkapi katup pengaman. Sehingga, ia yakin Jargas tersebut lebih aman ketimbang saat masih memakai bahan bakar gas kemasan tabung. “Memasak sekarang lebih santai dan tenang,” kata dia.

Selain dinilai lebih aman, Risma juga menyebut penggunaan gas bumi lebih hemat. “Dibanding beli gas LPG tabung, memang lebih murah,” katanya.

Tak hanya itu, Risma juga bersyukur lantaran sambungan gas bumi gratis itu bisa dirasakan dirinya dan warga lainnya yang selama ini mengandalkan gas LPG kemasan tabung untuk memasak. Terlebih, di kawasan padat penduduk itu, suplai gas LPG kemasan tabung juga sering kosong. “Sering langka di sini, makanya kami senang sekali adanya gas bumi ini,” tuturnya.

Menurutnya, banyak warga yang tinggal di pinggiran kota seperti dirinya yang bersyukur lantaran bisa menikmati keandalan energi dari bahan bakar gas bumi. Padahal sebelumnya, sambungan gas bumi rata-rata baru bisa dirasakan warga yang tinggal di pusat kota lantaran keterbatasan infrastruktur pipa gas yang ada. Bahkan, jika tak ada program Jargas yang memberikan sambungan pipa secara gratis itu, ia tak yakin semua warga di wilayah tempat tinggalnya yang berada di pinggiran Pulau Batam itu bisa menikmati bahan bakar dari gas bumi. Salah satu pertimbangannya, biaya awal penyambungan pipa gas bumi ke rumah warga tergolong mahal.

“Saya dengar kalau bayar sendiri, menyambung pipa itu biayanya sampai jutaan rupiah. Untungnya kami dikasih sambungan gratis,” ucapnya bersyukur.

Selama ini, infrastruktur jaringan pipa gas di Kota Batam memang masih berada di sekitar kawasan perkotaan. Itu karena investasi untuk memperpanjang pipa dan meluaskan jaringan butuh biaya yang tak sedikit. Karena itu, baru beberapa area saja yang bisa menikmati keandalan energi dari gas bumi. Seperti, kawasan industri, komersial, atau beberapa perumahan di tengah kota yang areanya sudah dilewati jaringan pipa gas.

Padahal, di Pulau Batam yang hanya memiliki luas daratan 1.040 Kilometer (Km) persegi dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Singapura dan Malaysia ini, banyak warga yang berharap agar jaringan pipa gas bumi bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Karena itu, penyambungan infrastruktur pipa gas dengan bantuan pemerintah pusat tersebut, diharapkan bisa memeratakan sekaligus menopang kemandirian energi yang bersumber dari gas bumi. “Makanya kami bersyukur, bantuan pemerintah ini bisa kami rasakan betul manfaatnya,” ucapnya.

Menopang Kemandirian Energi dengan Gas Bumi

Kunjungan Kerja dalam rangka reses Komisi VII yang kala itu dipimpin Herman Khaeron dengan meninjau lokasi perumahan warga yang telah tersambung Jargas di Kecamatan Batuaji dan Sagulung, Kota Batam itu, akan menjadi masukan dan evaluasi pemerintah pusat. Utamanya, untuk memastikan agar program yang telah dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia tersebut, tepat sasaran dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kami mengunjungi rumah warga pengguna Jargas, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat terkait pengalaman mereka setelah menggunakan gas alam,” kata Herman, di sela acara.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Dilo Seno Widagdo mengatakan, PGN mendapat mandat untuk membangun sekaligus mengoperasikan infrastruktur gas bumi bagi warga di dua kecamatan tersebut. “Ini proyek penugasan dari pemerintah melalui Kementerian ESDM kepada PGN,” katanya.

Dilo mengatakan, total pipa yang dibangun untuk mengalirkan gas bumi ke 4.003 rumah tangga di Batam mencapai lebih dari 55 Km yang tersebar di 16 perumahan. Dibangun sejak 2016, dana pembangunan proyek sambungan gas rumah tangga ini dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hingga saat ini, total pipa gas bumi yang dimiliki dan dioperasikan PGN di Batam sepanjang 223,57 Km. Selain Jargas, PGN juga telah membangun pipa distribusi di pusat kota seperti di kawasan Nagoya dan Batam Center. “PGN akan terus agresif membangun infrastruktur gas bumi nasional, untuk pemanfaatan gas bumi yang efisien dan ramah lingkungan bagi masyarakat,” ujar Dilo.

Sementara itu, Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan, selain program Jargas, untuk meningkatkan jangkauan gas bumi lebih merata, tahun depan PGN Batam juga berencana membangun infrastruktur jalur pipa gas di tiga kecamatan. Yaitu, dari Kecamatan Batuampar, tersambung ke wilayah Seipanas di Kecamatan Batam Kota, hingga ke kawasan Pelita di Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam. Tujuannya, memperluas dan mengakomodir kebutuhan calon pelanggan industri dan komersial di jalur tersebut, yang jumlahnya juga terus meningkat.

“Panjang pipanya sekitar 10 kilometer (km),” kata Wendi.

Dengan terus memperluas jangkauan ini, kata dia, merupakan komitmen PGN agar pemanfaatan energi gas bumi dapat berkontribusi memacu semua sektor penggerak ekonomi. Pasalnya, tiga kawasan itu memang dikenal sebagai salah satu sentra penggerak ekonomi Kota Batam, utamanya dari sektor industri dan perdagangan.

Selain itu, sambung Wendi, bagi masyarakat yang ingin berlangganan gas tapi di wilayahnya belum ada jaringan pipa, pihaknya juga tetap bisa melayani. Yakni, menggunakan produk gaslink, yaitu gas terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) dan didistribusikan menggunakan teknologi Gas Transportation Module (GTM) atau Gaslink Truck.

“Yang mana, pola pemakaian dan pembayarannya sama dengan gas pipa, yakni menggunakan meteran dan sistem pascabayar,” ujarnya.

Adapun, wilayah yang belum ada jaringan pipa di Batam yakni; Kecamatan Bengkong, Sekupang dan Nongsa. Selebihnya, kata dia, sudah ada jaringan dan pelanggan pun terus tumbuh.

Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama. Menurutnya, PGN berkomitmen mendukung program pemerintah mewujudkan kemandirian energi melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi di dalam negeri. Hal itu akan diwujudkan PGN melalui pembangunan dan pengembangan berbagai infrastruktur gas bumi yang mampu menjangkau semua segmen pasar.

Rachmat menjelaskan, sebagai subholding gas, PGN akan mengambil peran di depan dalam program percepatan dan transformasi energi dari minyak bumi ke gas bumi. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari perwujudan bauran energi gas bumi sebesar 22 persen pada 2025 dan 24 persen pada 2050.

Menurut dia, bertambahnya populasi, meningkatnya aktivitas ekonomi, dan perubahan gaya hidup ke green energy, akan mendorong peningkatan kebutuhan gas bumi.

“Komitmen PGN adalah menyediakan energi baik gas bumi untuk rumah tangga dan para pelaku usaha dari berbagai sektor industri,” jelas Rachmat Hutama, Jumat (30/8) lalu.

Rachmat menuturkan, strategi PGN ini sejalan dengan program pembangunan pemerintah dengan membangun berbagai infrastruktur untuk membuka akses daerah dan menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru. “Gas bumi bukan lagi sebagai komoditas, tapi bagian dari alat produksi yang akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional,” jelas Rachmat. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com