SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Berwisata Sembari Belajar Sejarah di Camp Vietnam

  • Reporter:
  • Sabtu, 29 April 2017 | 18:15
  • Dibaca : 356 kali
Berwisata Sembari Belajar Sejarah di Camp Vietnam

Sebagai daerah kepulauan, Batam tidak hanya menyuguhkan wisata pulau dan pantai. Pilihan wisata sejarah pun tersedia di Batam, salah satunya adalah Camp Vietnam.

Bagi warga Batam, Camp Vietnam sudah sangat familiar. Tempat ini kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Abdul, Mantan Koordinator Pengelola Camp Vietnam Batam mengaku destinasi bersejarah ini sudah dikenal baik oleh wisman. Setiap tahun pengunjung Camp Vietnam mencapai 30-40 ribu orang.

Camp Vietnam bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari United Nation dalam hal ini UNHCR sebagai tempat pengungsian yang cukup baik menangani para pengungsi.

” Setelah di tutup 1996, penghargaan itu diberikan,” ujar Abdul.

Camp Vietnam tidak hanya berperan sebagai destinasi wisata. Tak jarang sekolah terutama dari Batam berkunjung untuk belajar sejarah Camp Vietnam.

Camp Vietnam resmi dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata pada 2000. Tempat ini saat masa perang menjadi saksi bisu para eksodus asal Vietnam.
Abdul menuturkan, bahwa Camp Vietnam dibangun sekitar 1976. Pada masa itu sedang bergejolak perang saudara di Vietnam.

Tak kurang, 250 ribu warga Vietnam mengungsi. Mereka menggunakan perahu untuk sampai di Galang. Dalam perjuangan mengarungi samudra, tak sedikit yang meninggal di lautan.

Camp ditutup pada 1996 setelah 20 tahun menyediakan kehidupan bagi pengungsi Vietnam. Selama mengungsi, di bawah perlindungan PBB beberapa fasilitas seperti sekolah, tempat ibadah, barak makanan, rumah sakit dan fasilitas lainnya tersedia.

Beberapa bukti fisik yang ditinggalkan inilah yang masih dijaga hingga sekarang. Sekarang, pengelolan wisata sejarah ini di bawah kuasa BP Batam.

Dengan luas sekitar 80 hektare, banyak objek yang disuguhkan kepada wisatawan. Bahkan bentuk kapal yang digunakan pengungsi menyeberang ke perairan Kepri masih utuh.

Ada dua kapal kayu dipajang, pengunjung bisa melihat langsung setiap sisi kapal ini. Pastinya, tak terbayang seperti apa perjuangan ratusan ribu rakyat Vietnam berlayar menuju Batam untuk mendapatkan suaka.

Camp Vietnam juga dianggap sebagai wisata sejarah sekaligus wisata kemanusiaan. Dari tempat ini, wisatawan mendapat gambaran perjuangan pengungsi.
Selama hidup belasan tahun di pengungsian, ratusan warga Vietnam meninggal dunia. Tak sedikit juga di kubur di sini. Kuburan itu juga menambah fakta sejarah pelarian warga Vietnam. Perjuangan para pengungsi tersebut diapresiasi dengan dibangunnya monumen kemanusiaan atau humanity statue.

“Ketika ditutup, rakyat Vietnam dipulangkan ke negaranya. Yang lolos screening diterima oleh negara ke tiga,” ujar Abdul.

Setiap Tempat Punya Cerita
Pajangan kapal bukan satu-satunya peninggalan pengungsi. Ada bekas barak makanan meski tinggal puing-puing. Dulu, bangunan ini digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik. Para pengungsi juga mendapat fasilitas pendidikan. Ini terlihat dari puing bangunan yang tersisa. Bahkan sekolah untuk belajar bahasa Perancis pernah ada.

Peninggalan-peninggalan bangunan tersebut tidak diubah, hanya dilakukan pemeliharaan. Sedang fasilitas lain yang baru ditambah berupa penangkaran rusa di depan pajangan kapal kayu.

Berkelilinglah di Camp Vietnam. Banyak tempat terpisah yang dijumpai untuk mengetahui lebih jauh sejarah Camp Vietnam. Potret perjuangan para pengungsi tergambar jelas bila anda masuk ke sebuah bangunan bercat putih dan coklat. Bangunan itu adalah museum.

Di sini, wisatawan bakal tahu faktanya bahwa pengungsi Vietnam benar disuakakan di Galang ini. Di museum sederhana ini, arsip-arsip sejarah Camp Vietnam lengkap dengan foto-foto para pengungsi disimpan. Anda akan menemukan potret seribu wajah yang dipajang di pojok pintu masuk museum.

Foto-foto lainnya juga menggambarkan potret kehidupan rakyat Vietnam hingga mereka dipulangkan atau hingga tempat itu ditutup. Ada juga foto para pejabat Indonesia yang berkunjung ke pengungsian. Selain foto, kehidupan pengungsi juga digoreskan dalam lukisan yang dipajang serta arsip berupa kliping koran.

Lebih detail, Museum Camp Vietnam tampak memajang perkakas yang pernah digunakan pada masa pengungsian. Misalnya berupa telepon, televisi, sepeda, patung, alat masak dan berbagai perkakas lainnya. Bila ingin mengetahui lebih lanjut tentang museum yang disebut sebagai P3V office ini, petugas museum yang berjaga senantiasa berbagi informasi.

Di depan museum terdapat satu bangunan lagi yang perlu dikunjungi. Ada bangunan bertingkat, tidak begitu besar. Bangunan bercat putih coklat itu dulunya digunakan sebagai penjara. Kondisinya masih utuh lengkap dengan ruang jeruji besi.

Menjadi tempat ibadah umat
Sebagian besar peninggalan fisik bangunan yang pernah digunakan pengungsi tidak digunakan lagi. Namun, ada bangunan berupa gereja tua yang masih digunakan hingga sekarang. Saat akhir pekan gereja ini ramai dikunjungi, bahkan digunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik.

Gereja Cua Ky Vien atau Nha To Duc Me Vo Nhiem ini tampak tua. Namun, masih dirawat dan dicat putih. Saat masuk ke dalam, kondisinya masih baik meski hanya berlantai semen. Gereja Katolik ini cukup unik meski hanya dibangun dari kayu. Sebelum memasuki gereja, Anda akan melewati gapura dan jembatan kayu. Gereja ini memiliki halaman luas dan cukup asri.

Gereja tidak berdiri sendiri. Di sebelah kanan terdapat patung Bunda Maria yang bersanding dengan gereja tersebut. Disamping patung dibangun monumen kapal sebagai interprestasi bagi para pengungsi Vietnam. Pada tugu batu disampingnya tertulis Danc Len Me, Pray For Us. Sepertinya mendorong pengunjung untuk turut mendoakan para pengungsi. Selain gereja, di Camp Vietnam ditemui vihara yang disebut Chua Kim Quang.

” Agama mereka bukan Katolik saja, ada Buddha juga,” tambah Abdul.

Di akhir kunjungan tempat ini, bukti lain rakyat Vietnam pernah hidup di Galang adalah kuburan. Ratusan rakyat Vietnam dimakamkan di tempat itu. Setiap kuburan bercat putih dan bersalib merah. Di depan kuburan disediakan sedikit ruang untuk berdoa.

Menuju ke sana
Dari pusat Kota Batam, menuju Camp Vietnam menempuh waktu kurang lebih 1.5 jam. Tempat ini berjarak sekitar 50 kilometer dari Batam. Untuk transportasi pada umumnya pengunjung memilih menggunakan kendaraan pribadi atau jasa travel. Namun, saat ini sudah tersedia bus umum (trans Batam) menuju Galang. Sayangnya bus tersebut tidak mengantar langsung ke lokasi, Anda harus berjalan kaki menuju ke dalam.

Camp Vietnam buka setiap hari. Paling ramai dikunjungi pada akhir pekan. Biaya masuk Rp5.000 per orang. Sebaiknya bawalah makanan sendiri. Di sini hanya tersedia kedai yang menjual snack dan minuman saja. Lokasinya berada di depan museum.

Dalam perjalanan, anda akan menemukan binatang seperti monyet, berhati-hatilah apabila membawa makanan. Sebagai persiapan, sebaiknya siapkan obat anti nyamuk.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com