SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bintan Cocok untuk Tambak Udang Vaname

  • Reporter:
  • Selasa, 21 Maret 2017 | 11:08
  • Dibaca : 1831 kali
Bintan Cocok untuk Tambak Udang Vaname
ilustrasi

BANDAR SERI BENTAN – Potensi ekonomi perikanan air payau belum dimanfaatkan secara maksimal di Bintan. Ditandai belum adanya budidaya intensif perikanan, baik tambak udang maupun tambak ikan air payau dan sejenisnya.

Staf Dinas Perikanan Bintan Sarvidin Alutsco mengusulkan diadakannya percobaan/uji coba budidaya tambak udang vaname/udang putih (Litopenaeus vannamei). Menurut dia kondisi cuaca, iklim, maupun kadar garam sungai mangrove di Bintan sangat cocok untuk budidaya tambak udang tersebut.

“Harga setiap kilogramnya Rp100 ribu, jauh lebih menjanjikan dibandingkan budidaya ikan lele yang harganya berkisar Rp20 ribu per kilogram,” ujar Sarvidin di Bandar Seri Bentan, Senin (20/3).

Usulannya melaksanakan percobaan, kata dia, sebagai salah satu upaya penelitian dan pengembangan (litbang) perikanan budidaya untuk memberi kontribusi dalam program poros maritim. “Agar hasilnya nyata dapat dinikmati masyarakat,” katanya.

Dia menjelaskan, berdasarkan pengetahuannya, dari tiga petak tambak seluas 1.000 meter persegi dengan kepadatan 750 ekor per meter persegi dapat menghasilkan 7,5 ton udang vaname.

“Kalau harganya satu kilogram Rp100 ribu, pendapatan nelayan mencapai Rp750 juta. Karenanya saya sampaikan, ini potensinya besar dibandingkan perikanan budidaya lainnya,” terangnya

Dalam melaksanakan budidaya udang vaname ini, mendapat dukungan besar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Juga dari Instalasi Tambak Percobaan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) di Punaga, Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Percobaan yang ia usulkan, sistem pengembangan budidaya udang vaname super intensif di tambak kecil (small scale intensive farm). Teknologi budidaya ini memiliki ciri luasan petak tambak sekitar 1.000 meter persegi, kedalaman air lebih dari 2 meter, padat penebaran tinggi, produktivitas tinggi, beban limbah minimal, dilengkapi dengan tandon air bersih.

Inisiasi sistem akuakultur ini jadi harapan pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan produksi berdaya saing. Dengan memenuhi prinsip akuakultur berkelanjutan selaras dengan program industrialisasi perikanan budidaya berbasis blue economy.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perikanan Bintan Fachrimsyah mengatakan, usulan tersebut sedang ia pertimbangkan untuk pelaksanaan melalui APBD 2018. “Tahun ini belum bisa. Kemungkinan kita laksanakan tahun depan,” katanya.

Dari sisi perekonomian, menurutnya, cukup menarik dan bisa direalisasikan. Apalagi potensi tambak udang air payau memang belum tergarap secara maksimal di Bintan. “Banyak lokasi tambak udang kosong dan tidak dimanfaatkan,” ungkapnya.

Apalagi dari sisi masa panen cukup cepat, berkisar 105 hari atau 3,5 bulan. “Dalam 3,5 bulan sudah panen itu kan singkat,” katanya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com