SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bising Kota Mati

  • Reporter:
  • Senin, 2 April 2018 | 15:38
  • Dibaca : 109 kali
Bising Kota Mati

Bagaimana membandingkan Pramoedya Ananta Toer dengan Juan Rulfo? Tempo hari, Komunitas Salihara mengadakan kompetisi kritik sastra tingkat sekolah menengah atas (SMA).

Para peserta kompetisi diminta membandingkan novel Juan Rulfo, Pedro Paramo , dengan novel Bukan Pasar Malam garapan Pramoedya Ananta Toer. Itu tugas berat bagi para pelajar SMA peserta kompetisi. Mahasiswa Indonesia “pada umumnya” pun barangkali masih kesulitan menulis kritik sastra terkait. Kita selesai dengan Bukan Pasar Malam .

Namun, untuk novel Pedro Paramo, jangankan selesai, kita mungkin belum memulai. “Komunitas Salihara hendak mendorong peningkatan intelektualitas generasi muda,” demikian alasan penyelenggara kompetisi. Pram menulis banyak buku, walau ingatan kita lebih akrab pada Tetralogi Pulau Buru .

Rulfo tak seperti Pram. Dia bebas dari ejekan “berak” sebagaimana Idrus lontarkan kepada Pram gara-gara kebanyakan menulis. Semasa hidupnya, sebelum wafat pada 1986, Rulfo hanya menerbitkan dua buku: kumpulan cerita pendek El Llano en Llamas (1953) dan novel Pedro Paramo (1955).

Kedua buku itu cukup untuk mendaulat Rulfo sebagai penulis penting Amerika Latin. Pedro Paramo, novel pertama dan satu-satunya, dianggap sebagai mahakarya sastra Amerika Latin. Susan Sontag berkomentar “Semua orang bertanya mengapa Rulfo tidak menerbitkan buku lagi, seakanakan inti kehidupan penulis adalah terus menulis dan menerbitkan.

Kenyataannya, inti kehidupan penulis adalah melahirkan buku hebat −buku yang akan diingat selamanya− dan itulah yang dilakukan Rulfo.” Kita mendapati sinopsis yang mengecoh pada sampul belakang.

Di sana tertulis, “Demi memenuhi janji terakhir kepada ibunya, Juan Preciado bertolak ke Comala untuk mencari ayahnya, Pedro Paramo. Alih-alih menemukan kota yang selalu diceritakan dengan penuh nostalgia kebahagiaan, dia tiba di Comala yang gersang dan ditinggalkan.”

Rulfo mengajak kita membuntuti Preciado berkunjung ke sebuah kota mati. Setibanya di Comala, Preciado langsung menerbitkan tanya “Aku heran dengan kota itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kelihatannya sangat sepi, terbengkalai. Bahkan, kelihatannya tidak ada orang yang hidup di sini.”

Penunggang keledai yang mengantar Preciado menjawab, “Bukan cuma kelihatannya. Memang tidak ada orang yang hidup di sini.” Kita gampang menebak ihwal apa lagi yang Preciado tanyakan dan jawabannya “Pedro Paramo sudah meninggal bertahun-tahun lalu.” Sejak awal, misi Preciado dinyatakan gagal. Seseorang yang ia cari ternyata sudah lama mati.

Kendati demikian, Comala nekat tidak ingin memberi Preciado sekadar sepi. Comala menyambut Preciado layaknya sebuah kota, meski sesungguhnya kota itu telah mati. Comala menyambut Preciado dalam bising, lewat suarasuara yang menghantam dari segala penjuru.

“Di sini, di tempat udara begitu tipis, suarasuara itu terdengar lebih kuat. Mereka menggelayut berat dalam diriku,” gumam Preciado. Dia pun merasa “Walau tidak ada anak-anak bermain, tidak ada merpatimerpati, tidak ada gentinggenting rumah berbayang biru, aku merasa kota ini hidup.”

Rulfo, dalam Pedro Paramo, betul-betul menggoda kita mempertanyakan yang hidup dan yang mati. Batas antara keduanya sungguh tipis. Kebisingan itu, secara sederhana boleh kita simpulkan berasal dari hantuhantu: penghuni terakhir Comala yang tak mau dan tak bisa pergi.

Menerima kehadiran hantu-hantu Comala di Pedro Paramo menyelamatkan kita dari kemustahilankemustahilan. Hantu-hantu kota mati itu tak mengerikan dan tak berpretensi menakut-nakuti. Mereka hadir sebagai esensi: ingatan yang merekam riwayat sebuah kota.

Dialog antarhantu atau tepatnya ingatan yang mereka pertukarkan, pun terbilang jenaka. Misalnya, antara Galileo dan saudara iparnya. “Yah, lahan ini milik Pedro Paramo. Aku tahu itulah yang dia maksud. Apa Don Fulgor tidak mendatangimu?” Galileo tentu tak terima lahan yang dia anggap miliknya diaku Pedro Paramo.

“Kalau begitu, salah satu di antara kami akan mati, tapi dia tidak akan mendapatkan yang dia inginkan.” Saudara iparnya menjawab “Beristirahatlah dalam damai, amin, wahai saudara ipar. Hanya untuk jaga-jaga.” Dialog yang lugu tapi jenaka itu membuktikan kecanggihan narasi Rulfo di Pedro Paramo.

Humor-humor jadi penghiburan kita dalam upaya mengurai kerumitan novel ini. Pengarang ampuh sekaliber Gabriel Garcia Marquez saja butuh dua kali pembacaan untuk menyelami Pedro Paramo. “Malam itu saya baru bisa tidur setelah membacanya dua kali.

Sejak malam luar biasa ketika saya membaca Metamorphosis karya Kafka di asrama mahasiswa yang sederhana di Bogota hampir sepuluh tahun sebelumnya tak pernah lagi saya merasa begitu tergugah,” tulisnya. Struktur Pedro Paramo rumit karena Rulfo cenderung membebaskan setiap tokoh berbicara sesukanya.

“Ya, di dalam Pedro Paramo ada struktur, tapi itu adalah struktur yang dibentuk dari kehe – ning an, untaian yang meng gantung, dan adeganadegan terpotong, di mana semuanya muncul dalam waktu yang simultan, yang adalah hampa waktu,” ung – kap Rulfo. Dari he ning, kita jumpa bising.

udji kayang aditya supriyanto

pembaca sastra dan pengelola Bukulah

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com