SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Booking Mahasiswi Bayar Rp2,5 Juta

  • Reporter:
  • Selasa, 12 Februari 2019 | 10:42
  • Dibaca : 1359 kali
Booking Mahasiswi Bayar Rp2,5 Juta
ilustrasi

*Polda Kepri Bongkar Prostitusi Online, Pelanggan Banyak Turis Asing

NONGSA – Ditreskrimum Polda Kepri membongkar praktik prostitusi online di Batam. Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ditawarkan juga ada dari kalangan mahasiswi. Cukup membayar Rp2,5 juta, pelanggan bisa membooking mahasiswa untuk diajak tidur.

Praktik prostitusi online ini dikelola oleh Agus Supriadi (33), warga Tegal, Jawa Tengah. Mucikari alias germo bisnis prostitusi online ini ditangkap di Perumahan Puri Selebriti 3, Batam Centre, Sabtu (9/2) sekira pukul 17.00. Saat itu, ia baru saja tiba di Batam mengantar wanita muda pesanan pelanggannya.

“Saat ditangkap pelaku ini merental mobil. Pelaku saat itu mau mengantar pemilik mobil ke rumahnya,” kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga didampingi Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri Kompol Dhani Catra Nugraha saat ekpose di Mapolda Kepri Senin (11/2).

Pelaku ditangkap setelah Ditreskrimum Polda Kepri melakukan penyelidikan selama tiga bulan atau sejak Desember 2018 lalu. Tim lalu melakukan penyamaran dengan memesan PSK melalui website Cewek Panggilan Batam yang dikelola Agus. Saat ditangkap, polisi turut mengamankan seorang korban yang akan diantarkan ke pelanggan di Batam.

“Dari hasil penyelidikan dan penyidikan diperolah keterangan bahwa korban yang telah diperdagangkan oleh tersangka hingga saat ini terungkap tujuh orang,” ujarnya.

Korbannya yakni RS Alias E (19) asal Pangandaran Jawa Barat, NJ (20) yang diketahui seorang mahasiswi asal Cirebon Jawa Barat, VR (20) asal Purwakarta Jawa Barat, M A F Alias C (32) asal Medan Sumatera Utara, FH Alias I (32) asal Jakarta, W A W (23) asal Jawa Tengah 23 tahun dan L (19) asal Medan.

Barang bukti yang diamankan dari pelaku yakni dua lembar boarding pass kereta api dari Cirebon ke Jakarta atas nama Agus Supriadi dan NJ, satu handphone merek Asus Zenfone, satu kartu ATM BNI, uang tunai Rp3.250.000, uang rental mobil senilai Rp 500.000, satu flashdisk yang berisi video oral sex berdurasi 59 detik antara tersangka dan korban saat akan direkrut menjadi PSK, satu kartu ATM CIMB Niaga, dua lembar boarding pass Batik Air atas nama tersangka dan korban NJ.

“Juga ada dua butir pil norelut norethusterone yakni obat penunda haid dan pencegah kehamilan,” ujarnya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Agus merekrut wanita muda untuk dijadikan PSK dengan membuat website lowongan kerja PSK melalui internet. Website yang dikelola bernama Cewek Panggilan Batam.

Wanita-wanita muda yang tergiur lalu dihubungi AS dan diminta untuk mengirim foto serta video bugilnya. Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri Kompol Dhani Catra Nugraha mengatakan, tarif yang ditawarkan pelanggan bervariasi. Mulai dari Rp 500 ribu untuk shortime dan Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta untuk booking. “Nilai tersebut di luar biaya akomodasi apabila pemesannya jauh di luar kota,” ujarnya.

Sementara korban NJ, yang ditangkap bersama Agus merupakan seorang mahasiswa. Ia dibooking Rp2,5 juta oleh seorang warga Batam. Dari tarif tersebut, pelaku juga mendapatkan keuntungan lebih besar dari pada korban. Agus mendapat bagian 60 persen dari hasil transaksi prostitusi online ini. Sementara korbannya hanya 40 persen.

Tak hanya warga Indonesia, banyak juga warga negara asing (WNA) yang menjadi pelanggan, terutama turis asing yang sering berkunjung ke Batam. Ia juga melayani pemesanan di luar wilayah, jadi apabila konsumen di Jakarta, Medan, Bandung bisa diantar.

“Konsumennya mungkin sudah puluhan,” ujarnya.

Pelaku, sambungnya, adalah pemain tunggal. Dengan menggunakan beberapa website dan aplikasi seperti Virtual Private Network (VPN) dia memasarkan para wanita tersebut. “Ada website Massage Panggilan Batam dan Cewek Panggilan Batam, itu yang dia kelola sendiri,” kata Dhani.

Meski tingga di Tegal, namun saat berada di kota lain dan mendapatkan pesanan, Agus mempunyai wanita panggilan untuk dipesan pelanggannya. “Kadang pelaku di Jakarta, Bandung, Medan dan kota lainnya karena di beberapa kota lain ada juga wanita yang dia jajakan,” ujarnya.

Atas perbuatannya tersangka diganjar dengan pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan atau pasal 45 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) junto pasal 64 ayat (1) KUHP. dicky sigit rakasiwi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com