SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Cabai Penyumbang Deflasi November

  • Reporter:
  • Kamis, 5 Desember 2019 | 11:37
  • Dibaca : 80 kali
Cabai Penyumbang Deflasi November
Ilustrasi DOK SINDO BATAM

BATAM – Kota Batam mengalami deflasi pada November 2019 sebesar 0,01 persen (mtm) atau inflasi 1,89 persen (yoy). Komoditas utama penyumbang deflasi Batam adalah cabai merah, kacang panjang, dan angkutan udara.

Kepala Bank Indonesia (BI) Kepri, Fadjar Majardi mengatakan, Batam dan Tanjungpinang mengalami deflasi. Deflasi Batam pada November 2019 tercatat sebesar 0,01 persen (mtm) atau inflasi 1,89 persen (yoy). Sementara Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar 0,17 persen (mtm) atau inflasi 2,07 persen (yoy).

“Komoditas utama penyumbang deflasi Batam adalah cabai merah, kacang panjang, dan angkutan udara. Sementara komoditas utama penyumbang deflasi di Tanjungpinang adalah cabai merah, ikan tongkol/ambu-ambu dan cabai rawit,” katanya di Kantor BI Kepri, Rabu (4/12).

Ia mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada November 2019 tercatat mengalami deflasi. Deflasi Kepri pada November 2019 tercatat sebesar 0,03 persen (mtm), tidak sedalam bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,27 persen (mtm).

“Komoditas utama penyumbang deflasi Kepri pada November 2019 adalah cabai merah, kacang panjang dan angkutan udara,” ujarnya.

Sementara itu, IHK nasional tercatat mengalami inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang juga mengalami inflasi sebesar 0,02 persen (mtm).

“Secara tahunan, katanya inflasi Kepri pada November 2019 tercatat sebesar 1,92 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,38 persen (yoy) maupun dibandingkan inflasi tahunan nasional pada November 2019 sebesar 3,00 persen (yoy),” katanya.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi Kepri hingga November 2019 tercatat sebesar 0,75 persen (ytd) atau berada di bawah kisaran sasaran inflasi sebesar 3,5 ± 1 persen (yoy) pada akhir tahun 2019.

Deflasi Kepri pada November 2019 bersumber dari penurunan harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok sandang. Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,28 persen (mtm), dengan andil -0,05 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan adalah angkutan udara yang kembali mengalami deflasi pada November 2019 sebesar 1,55 persen (mtm) dengan andil sebesar -0,06 persen (mtm) setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi yang lebih dalam sebesar 2,00 persen (mtm) dengan andil sebesar -0,08 persen (mtm).

“Penurunan tarif angkutan udara terutama didorong oleh maskapai penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) yang terus melakukan penyesuaian harga tiket seiring dengan masih berlangsungnya masa low season di tengah permintaan yang cenderung melemah,” katanya.

Sementara itu, kelompok sandang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,29 persen (mtm) dengan andil -0,02 persen (mtm) setelah pada bulan sebelumnya tercatat mengalami inflasi sebesar 0,10 persen (mtm) dengan andil 0,01 persen (mtm).

Adapun penurunan harga pada kelompok ini bersumber dari komoditas emas perhiasan yang mengalami deflasi tercatat sebesar 1,43 persen (mtm) dengan andil -0,02 persen (mtm), didorong oleh harga emas dunia yang tercatat mengalami penurunan sebesar -0,92 persen (mtm) pada November 2019.

Fadjar menambahkan, mencermati perkembangan inflasi terkini, IHK Kepri pada Desember 2019 diperkirakan akan mengalami inflasi. Perlu diwaspadai beberapa risiko inflasi ke depan, namun diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional pada 2019 yaitu sebesar 3,5 ± 1 persen (yoy).

Beberapa potensi risiko pendorong inflasi di Kepri pada Desember 2019 antara lain, peningkatan permintaan tiket angkutan udara pada Hari Raya Natal dan Tahun Baru yang berpotensi mendorong kenaikan tarif angkutan udara sehingga memicu inflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (angkutan udara).

Kemudian curah hujan dan gelombang tinggi dapat memicu kelangkaan pasokan ikan segar, menghambat jalur distribusi bahan makanan serta berdampak pada produksi sayuran sehingga mendorong inflasi pada kelompok bahan makanan. Serta harga aneka rokok yang mulai meningkat seiring pengumuman kebijakan kenaikan cukai rokok pada tahun 2020,” jelasnya.

Langkah pengendalian inflasi tahun 2019 mengacu kebijakan 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif).

“Penguatan koordinasi serta sinkronisasi kebijakan dilakukan untuk pengendalian harga dan diharapkan inflasi Kepulauan Riau tahun 2019 dapat tetap terjaga dan mendukung capaian sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1 persen,” ujarnya. iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com