SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Cadangan Listrik Batam Menipis, Jelang Pemilu 2019 Listrik Biarpet Tiap Hari

  • Reporter:
  • Sabtu, 13 April 2019 | 08:04
  • Dibaca : 148 kali
Cadangan Listrik Batam Menipis, Jelang Pemilu 2019 Listrik Biarpet Tiap Hari
ilustrasi

BATAM – Listrik di Batam kini hampir tiap hari biarpet di sejumlah lokasi. PLN beralasan sejumlah pembangkit rusak yang mengakibatkan cadangan listrik menipis.

Beberapa hari terakhir listrik di Batam padam bergilir. Jumat (12/4) kemarin misalnya, listrik padam di kawasan Tiban Kampung, selama satu jam lebih. Hendri Agustinus (31) warga Tiban Kampung mengaku kesal karena tak hanya sekali itu listrik di rumahnya padam.

“Kemarin juga mati listrik. Padahal janjinya tak ada pemadaman menjelang Pemilu ini,” kata karyawan swasta itu.

Di kawasan Batuaji juga banyak warga yang mengeluh. Tak hanya melapor ke rubrik Selasar di KORAN SINDO BATAM, warga juga mengeluhkan pemadaman listrik di media sosial dan grup WhatsApp. “Tolong bilang ke PLN Batam, di Batuaji listrik sudah tiga kali mati sehari ini,” kata Ali, warga Batuaji.

Anggota DPRD Batam Hendra Asman mengatakan, kondisi tersebut sudah sangat memprihatinkan. Ia meminta PLN Batam untuk bertanggung jawab dan mencari solusi segera agar pemadaman bergilir itu cepat berakhir.

“Sudah tak bisa didiamkan. Ini persoalan serius, dan PLN perlu carikan solusi. Karena telah mengganggu aktivitas warga,” katanya.

Anggota DPRD Batam Lik Khai juga menyoroti hal yang sama. “Warga sudah gerah dengan pemadaman listrik terus menerus yang dilakukan PLN Batam ini,” katanya.

Ia mengatakan, pemadaman bergilir ini telah membuat warga tak nyaman. Ia menilai pelayanan PLN Batam sangat jelek dan tak sesuai dengan standar layanan yang dijanjikan mereka. “PLN harus bertanggung jawab,” ujar Lik Khai.

Menurut dia, padamnya listrik seperti ini tidak hanya merugikan warga tapi juga pelaku usaha. Sementara kompensasi atas kondisi tersebut tidak pernah ada. “Justru sebaliknya jika warga telat melakukan pembayaran langsung diputus. Di sini letak ketidakadilan itu,” katanya.

Jawaban PLN Batam
Direktur Operasional bright PLN Batam Awaluddin Hafid mengatakan kapasitas pembangkit yang dimiliki bright PLN Batam sekitar 560 MW sudah memadai untuk mencegah pemadaman listrik di Batam. Kemudian belum lama ini pihaknya juga telah menjalin kerjasama perjanjian jual beli listrik sebesar 5 MW dengan salah satu perusahaan di Batam.

“Artinya ada tambahan daya sekitar 5 MW, yang baru saja kita lakukan perjanjian jual beli listrik,” kata Awaluddin di kawasan Batam Centre, Jumat (12/4).

Kelistrikan di Batam sendiri ditopang dari sejumlah pembangkit, di antaranya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjungkasam dengan kapasitas 140 MW yang merupakan salah satu pembangkit terbesar. Kemudian PLTG Panaran atau pembangkit IPP MEB & DEB dengan kapasitas 2×75 MW ditambah gas turbin sebesar 17 MW dan selanjutnya adalah PLTG Tanjunguncang dengan kapasitas 120 MW.

“Kemudian sisanya adalah ditopang dari PLTD (Pembankit Listrik Tenaga Diesel), yang sebenarnya sudah berumur,” katanya.

Ada tiga lokasi pembangkit yang selama ini menjadi penopang terbesar, yakni PLTU Tanjungkasam dengan kapasitas 140 MW atau penopang sekitar 25-30 persen kelistrikan di Batam. Kemudian PLTG Panaran atau IPP DEB/MEB dengan kapasitas 2×75 MW ditambah gas turbin 17 MW. Selain itu ada juga PLTG Tanjunguncang dengan kapasitas 120 MW.
Sedangkan di Bintan ada PLTU dengan kapasitas 2×12,5 MW, hanya saja saat ini yang beroperasi hanya satu pembangkit sehingga kapasitas yang dihasilkan hanya 12,5 MW. Bright PLN Batam tak hanya menyuplai kelistrikan Batam saja, tapi juga termasuk Bintan.

“Sedangkan bebannya kita pernah mencapai titik tertinggi 462 MW. Sedang rata-rata beban puncak kita sekitar 440-445 MW,” katanya.

Awaluddin menjelaskan jika dalam keadaan normal dengan kapasitas daya yang ada 567 MW, bright PLN Batam sebenarnya memiliki cadangan yang cukup besar, lebih dari 100 MW. Namun, sejak Oktober 2018 lalu, kata dia, PLTG Tanjunguncang yang dimiliki PLN Batam tidak bisa beroperasi maksimal karena salah satu gas turbinnya rusak. Kondisi ini membuat kapasitasnya turun 50 persen atau berkurang sekitar 60 MW dan saat ini masih dalam perbaikan. Mesin dari Swedia Siemens tersebut saat ini masih dalam pemesanan materialnya. Pihaknya menargetkan Mei sudah bisa beroperasi.

Kemudian di awal April salah satu pembangkit DEB juga mengalami kerusakan yang hampir sama, bahkan lebih parah kerusakannya. Normalnya, perbaikan membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

“Namun, karena mengingat cadagan kita menipis kemudian juga mendekati Pemilu, kita mendorong DEB yang swasta untuk mencari alternatif lain. Mereka akan menyewa mesin, awalnya akan menyewa dari Kanada tapi tidak jadi, akhirya sewa dari Inggris. Kerusakannya ada dua komponen. Satu sudah dapat satu lagi masih dalam perjalanan,” jelasnya.

Jika tidak ada gangguan pembangkit lain, kata dia, suplai listrik di Batam relatif aman dan tidak ada pemadaman listrik. Namun yang dikhawatirkan adalah jika beban meningkat dan terjadi gangguan pembangkit, dengan cadangan yang menipis maka pemadaman akan sulit dihindari.

“Ini murni kerusakan pembangkit. Tidak ada maksud kami atau alasan karena ingin menaikkan tarif. Sama sekali tidak ada,” jelasnya.

ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com