SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Cari Untung dari Gas Subsidi, Pangkalan Jual di Atas HET

  • Reporter:
  • Selasa, 19 November 2019 | 09:32
  • Dibaca : 100 kali
Cari Untung dari Gas Subsidi, Pangkalan Jual di Atas HET
Petugas PT Pertamina menurunkan gas melon dalam operasi pasar di Pasar TPID Grand Niaga Mas, Batam Centre. /ahmad romadi

BATAMKOTA – Agen pangkalan ditengarai meraup untung tambahan dengan menjual gas melon di atas harga eceran tertinggi ke pengecer-pengecer. Membuat pasokan gas subsidi itu lesap di lapangan.

Kondisi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram itu membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam bersama Pertamina Kepri menggelar Operasi Pasar Gas Elpiji 3 Kilogram di Pasar TPID Kota Batam, Senin (18/11). Kegiatan tersebut untuk mengatasi kelangkaan yang terjadi di beberapa kecamatan belakangan ini.

Kepala Disperindag Kota Batam Gustian Riau mengatakan, operasi pasar tersebut merupakan jawaban dari masyarakat terkait persoalan keberadaan gas melon. Pihaknya maraton berkunjung ke setiap kecamatan yang berada di mainland.

“Hari ini (kemarin) di Kecamatan Batamkota, besok di Sagulung dan Batuaji serta seterusnya. Ini akan kami laksanakan secara maraton,” kata Gustian usai membuka operasi pasar di Pasar TPID Batam Centre, kemarin.

Kehadiran operasi pasar gas melon untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak diakomodir sepenuhnya oleh pangkalan. Menurutnya, ketersediaan gas melon ini cukup sampai akhir Desember atau akhir tahun ini.

“Kuota di semua pangkalan sebenarnya cukup. Tetapi pendistribusian yang tidak jelas,” katanya.

Pihaknya juga sudah menerima laporan bentuk kecurangan yang dilakukan oknum-oknum pangkalan di lapangan dan akan segera ditindaklanjuti. Salah satu modus yang dilakukan adalah menjual gas melon ke pengecer dan menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditentukan.

“Kuota itu cukup. Tapi masyarakat tak bisa ambil karena sudah diambil oleh orang lain dan ini bisa kita pidanakan,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, sudah ada tiga pangkalan di Sagulung dan Batuaji yang sudah dicabut izinnya karena melakukan pelanggaran. Disperindag bersama Pertamina juga akan melakukan sidak di daerah Nongsa, karena sudah banyak laporan dari masyarakat.

“Selama ini kan laporan hanya begitu aja. Tidak jelas alamatnya. Kalau informasi yang sudah kami dapatkan ini lengkap, ada fotonya dan alamatnya,” katanya.

Sales Branch Manager Pertamina Kepri William Handoko mengatakan, pihaknya menyediakan sekitar 560 tabung gas dalam pelaksanaan operasi pasar gas melon di setiap kecamatan. Namun, apabila alokasi tersebut dinilai kurang, maka akan ditambah sesuai permintaan.

“Kami selalu menyalurkan sesuai dari alokasi yang diberikan. Jadi kami enggak ada nahan-nahan dan enggak ada kurangi kuota sama sekali. Penyaluran sesuai kuota, perbandingannya lebih dari 100 persen,” katanya.

Pihaknya telah beberapa kali turun ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan untuk melihat kondisi yang terjadi di lapangan.

“Sudah ada tiga pangkalan di Sagulung dan Batuaji yang sudah kami berikan sanksi. Kami tidak segan-segan mencabut izin kerja sama jika ada yang ada yang bermain-main,” kata William.

Pertamina, katanya, sudah memberikan kuota gas melon sekitar 10 ribuan per hari untuk 490 pangkalan di Sagulung dan Batuaji. Jumlah tersebut tergolong besar dibandingkan daerah yang lainnya. Sedangkan kuota seluruh pangkalan di Kota Batam 36.760 tabung per hari.

“Bahkan kami sudah kasih lebih dari jumlah masyarakat di setiap pangkalan. Luar biasa kan. Jadi tidak ada kelangkaan di lapangan,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini sudah terbentuk satuan tugas (Satgas) yang terdiri dari Pertamina, agen dan pangkalan gas tiga kilogram di Sagulung dan Batuaji. Para agen dan pangkalan setiap hari wajib melaporkan stok gas yang masih tersedia untuk memudahkan pengawasan.

“Satgas ini dibentuk 1 November 2019. Laporan dari pangkalan akan menjadi bahan evaluasi untuk memaksimalkan penyaluran,” katanya.

Pertamina juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mampu agar beralih ke bright gas non subsidi. Selain itu, Wiliam juga mengimbau untuk restoran, rumah makan, hotel dan usaha menengah ke atas tidak menggunakan elpiji tiga kilogram. Karena gas melon hanya untuk masyarakat kurang mampu.

“Segera beralihlah. Taubatlah segera. Apalagi kalau sudah pakai mobil yang mewah. Kalau masih gas tiga kilogram, taubatlah segera,” katanya.

Masyarakat juga diminta melaporkan jika ada pangkalan yang menyalahi aturan kepada Pertamina. Di antaranya, menjual gas di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), menjual gas kepada pengecer dalam jumlah banyak dan lainnya.

“Segera laporkan ke contact centre kami di 135. Kan sekarang juga dibatasin, minimal dua tabung untuk satu KK (kartu keluarga). Kalau ternyata ada mengambil lebih banyak sehingga masyarakat tidak dapat, bisa dilaporkan ke Pertamina melalui contact centre,” katanya. iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com