SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Citra Kepri Buruk, Penyelundupan TKI dan Narkoba Marak

Citra Kepri Buruk, Penyelundupan TKI dan Narkoba Marak
Anggota Tim WFQR Lantamal IV membawa 33 orang calon TKI ilegal yang terdampar di Pulau Pisang ke Pos TNI AL Lagoi, Bintan, Sabtu (25/3). Kapal pengangkut para calon TKI ini tenggelam setelah mengalami kebocoran, Kamis (23/3).

PINANG – Maraknya penyelundupan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia dari wiyalah Kepri membuat citra daerah ini menjadi buruk. Apalagi, Kepri juga dikenal sebagai pintu masuk narkoba jaringan internasional.

“Semua instansi harus bersatu-padu meningkatkan pengawasan di pintu-pintu masuk dan keluar. Aksi-aksi penyelundupan TKI ilegal dan narkoba harus diberantas segera,” ujar Gubernur Kepri Nurdin Basirun di Asrama Haji Tanjungpinang, Minggu (26/3).

Menurut dia, ditemukannya 33 calon TKI ilegal yang hendak menuju Malaysia di perairan Pulau Panjang, Bintan menjadi bukti bahwa pengawasan jalur-jalur penyelundupan masih lemah. Nurdin meminta jajarannya meningkatkan koordinasi dengan TNI, Polri, Imigrasi, Bea Cukai dan lembaga terkait lain untuk mengatasi masalah ini. Bukan hanya di laut, tindakan pencegahan harus dilakukan pula di darat.

Ia mengintruksikan jajarannya memperketat pantauan di pelabuhan-pelabuhan tak resmi atau jalur-jalur yang selama ini sering dipakai pelaku penyelundupan, baik TKI, narkoba maupun barang-barang ilegal lainnya.

“Semua pihak harus sinergi menangani dua masalah besar ini, TKI ilegal dan narkoba. Pemberantasan dua hal ini tak bisa hanya dilakukan satu intansi saja, harus keroyokan,” tegasnya.

Nurdin menegaskan, pemerintah ingin membangun citra Kepri sebagai daerah tujuan investasi dan wisata internasional. Karena itu, pemerintah gencar melakukan promosi hingga ke luar negeri. Ia pun sedang getol memperjuangkan agar Kabupaten Natuna dan Anambas ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kepariwisataan.

“Kalau aksi penyelundupan TKI dan narkoba masih terus terjadi, citra Kepri selamanya akan buruk,” kata mantan Bupati Karimun ini.

Terpisah, anggota DPRD Kepri Iskandarsyah mengatakan, hal utama yang harus diperhatikan dan diawasi adalah pintu masuk pelabuhan tak resmi yang jumlahnya ada ratusan di Kepri ini.

“Pelabuhan tak resmi atau dikenal pelabuhan tikus ini memang dari segi pengawasan, sering tidak terkontrol. Ini yang membuat aksi penyelundupan di Kepri seakan tak pernah putus, meski pelakunya banyak yang sudah ditangkap,” katanya.

Ia mengimbau pemerintah melibatkan masyarakat untuk membantu pengawasan di pelabuhan-pelabuhan tak resmi, termasuk di titik-titik yang selama ini dianggap rawan sebagai lokasi kumpul para penyelundup.

“Jangan ada yang berjalan dan bertindak masing-masing, harus saling terkait agar penyelundupan tidak terjadi berulang-ulang,” katanya.

Diselidiki Lantamal
Penanganan kasus terhadap 33 calon TKI ilegal yang ditemukan di Pulau Panjang, Bintan, kini sedang diselidiki Lantamal IV.

“Masih dilakukan penyelidikan dan pendalaman,” ujar Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut IV (Danlantamal) Laksmana TNI S Irawan melalui Asisten Operasional Danlantamal IV Tanjungpinang Kolonel May Frengky, Senin (27/3).

Franky menegaskan, kasus ini menjadi perhatian utama, dan sudah dikoordinasikan dengan instansi terkait.

Kepala Dispen Lantamal IV Tanjungpinang Mayor Laut Josdy Damopolii menambahkan, ke-33 calon TKi tersebut akan diserahkan ke Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) atau Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) untuk TKI di Tanjungpinang.

Terpisah, Kepala BNP2TKI Tanjungpinang Kombes Pol H Ahmad Ramadhan menyampaikan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Lantamal IV Tanjungpinang. Menurutnya, jika penyelidikan terhadap 33 calon TKI ilegal ini selesai, pihaknya akan langsung memulangkan mereka ke daerah asal.

Ahmad menyampaikan, pemulangan puluhan calon TKI itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab BPN2TKI.

“Pada prinsipnya, ke-33 calon TKI tersebut adalah korban,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, kapal pengangkut 33 calon TKI karam, sekitar 2 mil dari Pelabuhan Bandar Bentan Telani (BBT), Lagoi, Bintan, Kamis (23/3). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Para TKI itu berhasil menyelamatkan diri ke Pulau Panjang.

Ke-33 calon TKI ini terdiri dari 3 perempuan dan 30 laki-laki. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sejumlah daerah di Pulau Sumatera. Penemuan ke-33 TKI yang ingin masuk ke Malaysia tanpa dokumen resmi ini setelah anggota TNI AL yang berjaga di Pos TNI AL BBT Lagoi yang sedang patroli laut melihat 3 laki-laki terombang-ambing di laut, sambil berteriak meminta tolong.

Ketika dievakuasi, ketiga lelaki bernama Sukirman, Fajar dan Reza itu mengaku hendak membeli nasi di pelabuhan tersebut, untuk teman-teman mereka yang terdampar di Pulau Panjang, Sabtu (25/3). Kepada petugas, Sukirman mengatakan, mereka diberangkatkan tekong TKI dari Nongsa, Batam menggunakan kapal boat, dengan 2 anak buah kapal (ABK), Kamis (24/3) malam. Namun di tengah laut, kapal itu bocor, dan tenggelam.

sutana/muhammad bunga ashab/novel m sinaga

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com