SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Deteksi Nilai Komersial Event Wisata, Kemenpar Susun SOP

  • Reporter:
  • Rabu, 21 Maret 2018 | 16:24
  • Dibaca : 295 kali
Deteksi Nilai Komersial Event Wisata, Kemenpar Susun SOP

JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan meng gandeng para pakar segera membuat pedoman atau standard operating procedure (SOP) penyelenggaraan event di Indonesia agar lebih berkualitas dan sesuai standar nasional sehingga target nilai budaya dan komersial dari event itu bisa tercapai.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, pe n galaman dari pe nye leng gara an 100 Calender of Event (CoE) 2018 bisa dijadikan dasar d a lam menyusun SOP. Penyeleng garaan event setidaknya ha rus memperhatikan dua hal uta ma, yaitu sisi penye leng gara an dan pemasarannya. “Dari sisi penyelenggaraan na n ti di lapangan akan ada pen dam pingan, semacam shadow ma nagement. Di situ siapa ku r a tor nya, sutradaranya, itu ha rus me nguasai hingga de tiln ya,” ujar Arief seusai membuka Work shop/Coaching Pe – n ye leng garaan CoE 2018 di Ge dung Sap ta Pesona, Ja kar – ta, kemarin.

Terkait pemasaran, Arief meng ingatkan pentingnya pro mo si pre-event, di mana 50% ang garan hendaknya dialo ka si kan untuk pre-event. Hal ini pen ting untuk menarik le bih ba nyak pengunjung atau wi s a ta wan dari luar sehingga dam pak eko nomi atau nilai k – o mersial da ri event itu juga lebih tinggi. “Untuk mengetahui returnnya, saya selalu tanya berapa jum lah wisatawan yang hadir saat event diselenggarakan ka – re na untuk mengingatkan bah – wa event pariwisata itu tidak un – tuk ditonton sendiri, tapi lebih me narik orang luar untuk da – tang. Selain dampak langsung, ada juga dampak tidak langsung s e perti media value, “ tandasnya.

Arief menambahkan, 100 event yang masuk CoE 2018 di ku rasi oleh tim kurator de – ngan stan dar nasional, se – dang kan da lam menetapkan ni lai bu da ya dan ni – lai eko no mi ko me r s i a l – nya be lum ada pe do – man dan per lu se gera dibuat SOP serta pe tun juk pelak sa – na an teknis (juk nis)-nya. SOP itu akan me m u n cul kan nilai bu daya dan ni lai ko mer sial da – r i setiap event. Khu sus nilai ko mersial, ha rus di-mo ne tized (di hitung ni lai eko nom i nya) se hingga bi sa di ke ta hui dam – pak eko no mi nya pa da ke se – jah teraan masyarakat. Arief mengungkapkan, Top 100 CoE 2018 yang terdiri atas 50 events budaya, 30 event alam, dan 20 event buat – an me mi liki ni lai komersial ting gi.

Hal itu ter li hat sudah b a nyak pe r usa ha an yang ber – mi nat un tuk me la k u kan kerja s a ma se bagai spon sor atau men jadi co-branding. Pada kesempatan yang s a – ma, pakar pemasaran Jacky Mus sry mengatakan, event bi – sa men jadi katalisator pa ri wi – sa ta dae rah. Event itu sendiri ada l ah bi s nis sehingga harus ada return -nya. “Event di luar ne geri itu baik yang besar atau ke cil ada ha silnya. Semua di pi – kir kan d e ngan detail dan ada re turn -nya. Re turn itu bisa be – ru pa finansial atau pun non fi – nan sial misalnya se berapa b e – sar kepuasan pe ngun jung. Ini pen ting di eva lua si untuk me – nen tukan strategi pe ny e leng – ga raan event ke de pan,” kata de puti CEO Mark Plus itu.

Direktur Eksekutif MarkPlus Nalendra Pradono menam bahkan, event juga harus pu n y a konsistensi terkait target p a sarnya. Tema yang diusung pun harus sesuai dengan tema atau keunggulan des tinasinya. “Cip takan juga d i ferensiasi yang unik. Con – toh nya Jazz Gu nung di Bromo yang me ma du kan musik, alam, dan ke pe du li an lingkung an,” tuturnya. Kasie Informasi Pemasaran Di n as Pariwisata Sumenep Tou fan mengatakan, ke banyak an ka bupaten/kota masih ke su lit an dalam men de teksi dampak eko nomi dari sebuah event. Ter le bih, jika dana event bersumber da ri ang garan pendapatan dan be lanja dae rah (APBD), sulit meng hitung detail pengunjung ka rena ti dak ada sistem tiket.

“Di Sume nep ada event, tapi ti dak ter de teksi data post-event – nya, apalagi kalau pakai dana APBD. Kalau swasta, mungkin le bih mudah mendeteksi lewat pe n jualan tiket, sedangkan kami tidak bisa,” ujarnya kepada KORAN SINDO. Staf Ahli Multikultural se la – ku Ketua Tim Pelaksana CoE 2018 Esthy Reko Astuti menam bahkan,100 event CoE 2018 nanti akan ada pen damping an sehingga kelemahannya akan terus diperbaiki serta men jadi rujukan bagi event lain.

Inda susanti

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com