SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Didikan Keluarga Menghantarkan Agni Jadi Paskibraka di Istana Negara

  • Reporter:
  • Senin, 13 Agustus 2018 | 15:02
  • Dibaca : 150 kali
Didikan Keluarga Menghantarkan Agni Jadi Paskibraka di Istana Negara
Nashita Agni Khalida, siswa SMAN 1 Batam, Kepri diapit ayah dan ibunya Golan Hasan dan Derry Sundari. /RENI HIKMALIA

Terpilih sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh tiap 17 Agustus, menjadi sebuah kebanggaan bagi putra-putri Indonesia. Tak terkecuali bagi Nashita Agni Khalida, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Ia terpilih menjadi Paskibraka untuk tingkat nasional mewakili Kepri. Keberhasilan Agni, panggilannya, tak lepas karena ketekunan dan kedisiplinan serta didikan kedua orang tuanya yang berperan penting mendorongnya meraih impiannya tersebut.

RENI HIKMALIA, Batam

Posisi duduk Agni terlihat tegap, sedikit kaku. Meski kursi berwarna kemerahan di ruang tamu itu dilengkapi sandaran, ia pilih menegakkan badannya. Sementara, kedua tangannya ia tumpukan di atas pahanya. Mengenakan baju hitam polkadot berlengan panjang dipadukan dengan celana training santai, wajah Agni tetap saja terlihat serius.

Gadis kelas X IPS1 itu memulai cerita saat dia pertama kali menerima kabar bahwa dirinya lulus seleksi untuk jadi Paskibraka. Siang itu, tepatnya 11 Mei lalu, Agni sedang mengerjakan tugas di sekolah. Tiba-tiba, ponselnya berdering berulang kali.

Ia menerima puluhan ucapan selamat lewat media sosial WhatsApp. Bahkan, ada juga yang menyampaikan ucapan selamat secara langsung. Namun, dirinya masih tak menyadari, maksud dan tujuan dari ucapan selamat tersebut. Hingga, ada sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya menginformasikan bahwa namanya tercantum sebagai peserta Paskibraka yang akan tampil di Istana Negara saat upacara Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2018 mendatang. Ia resmi ditunjuk mewakili Provinsi Kepri.

Air mata Agni tak terbendung lagi. Pelukan dari guru serta temannya silih berganti menghampiri, sebagai rasa ikut bangga karena telah membawa dan membanggakan nama sekolah dan daerah hingga ke tingkat nasional. Setelah dirinya tenang, barulah Agni menelepon orang tuanya untuk mengabarkan berita yang juga menjadi harapan kedua orang tuanya itu.

“Saya telepon mama, beliau senang banget. Tapi saya belum sempat mengabari papa karena beliau saat itu sedang di pesawat,” kata Agni, saat dijumpai di rumahnya, Perumahan Mitra Raya, Batam Centre, Kota Batam, akhir Mei lalu.

Anak sulung dari pasangan Golan Hasan dan Derry Sundari ini bertutur, menjadi anggota Paskibraka adalah impian dan cita-citanya sejak kecil. Hal itu sebenarnta tak mengherankan. Sebab, sejak kecil orang tuanya sudah mulai mengenalkannya tentang Paskibraka. Terutama, saat upacara kemerdekaan di Istana Negara yang ditayangkan lewat layar televisi (TV).

“Papa selalu mengatakan, menjadi seorang Paskibraka adalah sebuah kebanggaan, baik untuk diri sendiri dan orang tua. Itu karena kita tampil di hadapan orang nomor satu di Indonesia serta petinggi negara lainnya,” kata Agni menirukan omongan orang tuanya.

Namun, orang tua Agni juga mengingatkan bahwa untuk menggapai impian itu ada tantangan yang tak mudah dilalui. Itu karena, harus ada ujian fisik dan mental yang mesti dilewati calon Paskibraka. Agni mulai antusias, namun belum betul-betul membulatkan tekad. Itu karena, Agni merasa ada beberapa hal yang tak mengasyikkan kala menjadi Paskibraka. Misalnya, rambut dipotong pendek yang menurutnya tak menarik.

“Tapi lama kelamaan kok jatuh hati dan sepertinya passion saya ada di Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera). Kebetulan badan juga tinggi, kenapa enggak dimanfaatkan, toh orang tua juga mendukung,” ujar gadis bertinggi badan 173 sentimeter (cm) tersebut.

Menurut Agni, keinginan menjadi petugas pengibar bendera sebenarnya merupakan mimpi ayahnya, Golan Hasan. Namun, keinginan itu belum kesampaian. Dan kini, Agni yang merupakan putri sulung akan mewujudkan cita-cita ayahnya tersebut.

“Papa dan mama selalu memotivasi saya. Beliau berdua juga selalu menekankan agar selalu disiplin, tekun dan gigih dalam menggapai cita-cita atau keinginan. Akhirnya, doa mereka yang membuat saya mantap mewujudkan cita-cita beliau juga,” ucapnya.

Langkah Agni menjadi Paskibra dimulai ketika ia terpilih mewakili sekolahnya untuk jadi Paskibra di tingkat Kota Batam. Persyaratan fisiknya memadai. Kemudian, tahap berikutnya yakni seleksi administrasi, kesehatan, pengetahuan umum, dan wawancara. Menurut Agni, untuk lolos ke tingkat nasional, wajib menguasai Bahasa Inggris serta satu bahasa asing lainnya. Agni menguasai bahasa Korea, meskipun dipelajari secara otodidak.

“Awalnya dari suka K-Pop (Korean Pop) sama nonton drama Korea. Tapi makin lama saya mikir untuk mengambil sisi positif dari hobi menonton tersebut, yakni belajar bahasa Korea. Dari tahun lalu saya belajar pelan-pelan dan Alhamdulillah sudah bisa baca tulis huruf Korea dan sudah mengerti beberapa kosa kata bahasa Korea,” ungkapnya.

Adapun, seleksi untuk menjadi Paskibra dilalui Agni mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Untuk tingkat Kota Batam, pendaftaran di mulai awal April, kemudian seleksi pada 24 April. Pada 2 Mei lalu, dilakukan seleksi tingkat provinsi.

Untuk pendaftar tingkat Kota Batam, Agni menyebut ada sekitar 700 orang. Setelah seleksi, yang lulus setelah seleksi berjumlah 7 peserta, 3 laki-laki dan 4 perempuan. Mereka akan mengikuti seleksi menuju ke provinsi.

“Di Tanjungpinang (Ibu Kota Provinsi Kepri), tempat seleksi untuk Paskibra provinsi dan Paskibraka Nasional terkumpul sekitar 60 peserta dari setiap kota dan kabupaten di Kepri. Terus lulus pantohir (penentuan tahap akhir),” terangnya.

Menurut Agni, pencapaian menjadi seorang Paskibraka di tingkat nasional harus melalui jalan yang tak mulus. Karena dirinya sempat terkendala dengan berat badannya yang kurang ideal. Namun, Agni berpikir membuat badannya ideal bukan perkara sulit. Bagi gadis berdarah Palembang ini, jika mempunyai tekad yang kuat dirinya akan mampu berangsur-angsur menurunkan berat badannya. Mulai dari melatih fisik, mengurangi porsi makan. Terbukti kini, dalam waktu tiga minggu berat badannya telah berkurang hingga 10 kilogram.

“Waktu daftar berat badan 78 kilogram. Sesuai tinggi badan, idealnya (berat badan) 63 kilogram, sekitar 15 kilogram harus diturunkan. Tapi sekarang berat 68 kilogram, itu adalah berat ideal maksimal,” katanya

Bagaimana cara Agni menurunkan berat badan? Ternyata, setiap hari Agni wajib berolahraga lari, ia suka jogging. Jika enggak sempat jogging pagi hari, sorenya ia berlari di alun-alun atau Dataran Engku Putri, Batam Center. Ia berlari nonsetop enam kali keliling alun-alun tersebut.

“Kalau sekarang cukup tiga keliling untuk mengukur waktu standar jogging selama 12 menit. Setelah jogging di rumah, push up dan sit up sebanyak 50 kali. Pola makan diatur mengurangi porsi makan dan enggak banyak ngemil,” tuturnya.

Dirinya juga mengaku sempat hampir putus asa, ketika mengikuti seleksi fisik dan wawancara. Namun, ia mengaku di lubuk hatinya ada motivasi orang tuanya yang ingin anaknya menjadi seorang Paskibraka. Ia ingat bagaimana orang tuanya selalu menyemangati agar tak pantang menyerah dan menghadapi setiap tantangan yang mesti dihadapi. Sehingga, ia membulatkan tekad dan akhirnya mendapat kesempatan tersebut.

“Ini kesempatan sekali seumur hidup, karena sesuai peraturannya, Paskibraka hanya dikasih kesempatan satu kali saja, dan Alhamdulillah pertama kali Paskibra langsung ke nasional,” jelasnya.

Menurutnya, menjadi seorang Paskibraka atau Paskibra itu berkah. Namun, ia tetap berkeinginan menjadi pembawa baki saat upacara bendera. Alasannya, menjadi pembawa baki itu bisa menjemput langsung bendera yang diberikan oleh Presiden.

“Itu posisi paling idaman oleh Paskib nasional putri, dan itu ditentukan selama karantina,” ujar dia.

Kini, gadis dua bersaudara ini telah masuk karantina Paskibraka di Jakarta, sebelum nantinya tampil pada upacara 17 Agustus 2018 di Istana Negara.

Selain prestasi lolos seleksi Paskibraka, di sekolah Agni juga seorang siswi berprestasi karena selalu masuk sepuluh besar di kelasnya. Di lingkungan keluarga, Agni mengaku orang tuanya selalu mengajarkan untuk disiplin. Hal itu juga diharapkan jadi bekal baginya untuk meraih mimpi yang lebih besar ke depannya.

“Karena saya bercita-cita setelah lulus SMA akan langsung daftar Akademi Militer (Akmil),” paparnya.

Ayah Agni, Golan Hasan mengaku selama ini memang membiasakan anaknya dengan pola asuh yang mengutamakan kedisiplinan dan tanggung jawab sejak mereka masih kecil. Tak hanya itu, komunikasi dan keterbukaan juga selalu ditanamkan.

“Kita juga selalu terbuka jika mereka minta nasihat atau pengarahan. Keluarga berperan penting dalam mendidik anak sehingga bisa sukses atau tidak pada saat mereka besar nanti,” katanya.

Sementara itu, Psikolog Anak Rumah Sakit Awal Bros Batam, Maryana, mengatakan orang tua punya peran sangat besar dalam keberhasilan pendidikan seorang anak. Hanya saja, ia mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan anaknya untuk meraih prestasi pada suatu bidang tertentu, yang hanya sesuai kehendak orang tua. Melainkan, mendorong anak berprestasi sesuai keinginan dan bakat yang dimiliki sang buah hati.

“Misalnya ada anak yang pintar pada mata pelajaran matematika, tapi Bahasa Indonesia (nilainya) hancur-hancuran. Ada anak (keteramppilan) bahasanya bagus banget, tapi matematika jangan ditanya (nilainya jelek). Intinya kita tidak bisa menuntut anak untuk bisa semua hal. Tapi kita mendorong sesuai bakat dan keinginannya,” kata Maryana.

Selain itu, Maryana juga mengatakan orang tua juga harus memperhatikan proses belajar anak, bukan semata menuntut hasil yang bagus. Menurut Maryana, pintar atau tidaknya anak bukan dinilai dari hasilnya, tapi pada proses belajarnya. Karena itu, sebagai orang tua, mendorong agar anak mengikuti proses demi proses dalam meningkatkan kemampuan diri adalah hal yang lebih penting ketimbang hanya mengejar hasil akhirnya.

Maryana melanjutkan, saat anak memasuki usia remaja atau pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), biasanya terpengaruh dengan lingkungan adalah hal yang wajar karena anak tersebut sedang proses mencari jati diri. Selama itu positif, orang tua tak perlu melarang. Namun, jika lingkungan pergaulannya negatif, orang tua harus segera berperan untuk menjadikan rumah sebagai lingkungan belajar terbaik.

“Lingkungan rumah tersebut harus memberikan rasa nyaman buat anak, orang tua bisa jadi tempat anak untuk lari jika anak sedang ada masalah. Hal tersebut harus diciptakan dari awal, waktu anak masih usia dini,” kata dia.

Dalam hal pendidikan, orang tua juga bisa mengajarkan nilai-nilai yang baik sejak dini. Misalnya, nilai agama, sosial kemasyarakatan, membangun karakter dan sebagainya yang dimulai saat buah hati masih anak-anak.

“Anak harus diperlakukan sebagai orang yang berharga di dalam lingkungan keluarganya. Itu adalah basisnya, baru setelah itu yang lain-lain ditanamkan,” jelasnya. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com