SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Dulang Rezeki dari Handicraft

Dulang Rezeki dari Handicraft
istimewa

Nani Wijaya banyak menghabiskan waktu di rumah sebagai ibu rumah tangga. Di sela rutinitasnya, ia manfaatkan waktu kosong untuk menciptakan bermacam handicraft.

Kegiatan Nani membuat handicraft atau kerajinan tangan bermula dari hobi lamanya. Wanita kelahiran Wonogiri, 37 tahun lalu ini sejak kecil berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah. “Tahun 2006 saya pindah ke Parung, Bogor. Di sana mulai berkenalan dengan jahit menjahit dan berbagai kerajinan tangan,” katanya, Rabu (15/3).

Kawasan tempat tinggalnya di Parung rata-rata pemilik usaha kerajinan tangan. Awalnya hanya melihat-lihat, lama-lama ia tertarik untuk mencoba. Kerajinan tangan yang pertama kali ditekuni adalah tas dengan ronce-roncean atau payet dari manik-manik. “Saat punya anak pertama saya berubah haluan. Fokus ke jilbab,” katanya. Waktu itu Nani dan suami pindah ke Jakarta.

Dari kesenangan pribadi, lama-lama menjadi bisnis. Meski belum mahir namun Nani memberanikan diri menjual hasil karyanya. “Cara saya menawarkan ke orang bukan langsung jadi, lalu ditawarkan. Tapi baru berbentuk pola,” kata ibu dua anak ini.

Nani sering bolak-balik ke Pasar Tanah Abang. Di sana dia menawarkan pola atau gambar awal. Jika calon pembeli setuju, dia meneruskannya dengan menempelkan manik-manik di jilbab tersebut. “Awalnya saya kerjakan sendirian, sampai punya karyawan,” katanya.

Tahun 2013 pekerjaan suami membuatnya harus ke Batam. Usaha yang telah dirintis terpaksa ditinggalkan. Sampai di Batam ia merasa jenuh karena tak punya banyak kegiatan. “Ssaya juga tak punya kenalan kalau mau memulai usaha membuat payet jilbab lagi,” katanya.

Iseng-iseng Nani berselancar di dunia maya. Minatnya tak jauh-jauh dari kerajinan tangan. Nani pun tertarik membuat bros dari manik-manik. Lalu mulai mengumpulkan bahan dan mencoba mencari langkah dan caranya di internet. “Saya sering posting hasil buatan tangan itu ke Facebook. Meski belum pandai benar, tapi sudah ada yang memesan. “Senang banget rasanya ada yang menghargai karya saya,” kata Nani.

Sejak itulah kegiatan Nani dimulai kembali. Dia mulai membuat karya-karya yang lain, seperti sandal hias, hiasan kepala, tas pandan, bros, kalung, dan souvenir lain.

Baginya tak ada kesulitan berarti saat mengerjakan karya-karyanya. Asalkan telaten dan berani berimprovisasi, hasilnya pasti rapi dan memuaskan. Tas pandan misalnya, dalam sehari dia mampu menghias 5-6 tas.

Aktif Pameran
Hasil kerajinan tangan Nani kini mulai dikenal orang. Meski lebih banyak berjualan lewat online, tapi dia juga rajin mengikuti pameran, baik di mall maupun event yang digelar pemerintah. Hasil karyanya tak hanya dinikmati di Batam, tapi sudah ke mancanegara. Ada yang dibeli orang lalu dibawa ke Austarlia, Belanda, hingga Amerika. “Biasanya sering dijadikan hadiah atau buah tangan kalau ada yang pergi ke luar negeri,” katanya.

Ada pula yang pesan online dari Dubai, Hongkong, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. “Produk saya (kebanyakan tas pandan) bisa ditemukan juga di galeri hotel, pelabuhan, dan bandara Batam,” katanya. Nani juga membuka workshop di beranda rumahnya di Taman Sari Blok B No 16, Tiban, Sekupang.

Nani senang keluarganya mendukung kegiatannya. Suami dan anak-anaknya sesekali membantu. Berawal dari hobinya itu, Nani bisa mendulang sekitar Rp10 juta per bulan dari hasil penjualan produk kerajinan tangannya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com