SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Ekspor Napoleon Dibatasi 10 Ribu Ekor

  • Reporter:
  • Jumat, 31 Maret 2017 | 09:46
  • Dibaca : 545 kali
Ekspor Napoleon Dibatasi 10 Ribu Ekor
Ilustrasi Foto DOK SINDO BATAM.

ANAMBAS – Kabupaten Anambas akhirnya diperbolehkan mengekspor ikan napoleon sampai 10 ribu ekor pertahun setelah sebelumnya pemerintah membatasi 1.000 ekor.

Kepala Dinas Perikanan Pertanian dan Pangan Anambas, Catharina, menuturkan larangan dan pembatasan ekspor selama ini berpengaruh terhadap pendapatan nelayan terutama pembudidaya napoleon. Sehingga penambahan kuota ekspor dipastikan berdampak positif bagi Anambas mengingat sektor perikanan menjadi penopang hidup masyarakat.

“Nelayan sudah bisa bernafas lega dengan kuota ekspor 10 ribu ekor,” ujar dia, kemarin.

Menurut Catharina, pemerintah pusat sudah memberikan kelonggaran mulai dari pencabutan larangan ekspor dan menerbitkan mekanisme pengapalan ikan ke luar negeri.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh (HNSI) Anambas, Tarmizi, mengatakan penambahan kuota ekspor napoleon sudah dinanti nelayan selama ini. Dengan adanya keputusan penambahan kuota maka nelayan bakal terbantu dan banyak nelayan budidayasudah bisa menjual ikannya.

“Kalau sudah begini nelayan kan bisa bebas menjual karena kuota 10 ribu itu tidaklah sedikit apalagi harga ikan napoleon itu termasuk mahal,” katanya.

Sebagai gambaran, selama ini Napoleon keberadaannya dilindungi seusai aturan Peraturan Menteri KKP No.37/2013. Adapun berdasarkan survey KKP 2014 lalu, populasi Napoleon kritis di Indonesia karena ikan ini paling dicari pengepul ikan luar negeri untuk hidangan makanan. Sejak 2013 juga ekspor napoleon dilarang.

Dalam perjalanannya, nelayan budidaya di Anambas kelimpungan dua tahun terakhir karena ikan mereka tidak bisa dijual. Setidaknya diperkirakan jumlah napoleon hasil budidaya menumpuk sekitar 146 ribu ekor.

Tim Balitbang KKP lalu mensurvey kondisi di Anambas untuk mengambil sampel minimal 50 sebagai ikan indukan. Ikan untuk indukan tersebut minimal harus berbobot 3 kilogram karena sebagai induk jika masih dibawah ukuran 3 kilogram belum membuahkan telur.

Dokumentasi data itu dipakai untuk menyatakan Napoleon di Anambas dan Natuna tidak langka. Data juga akan dipakai sebagai argumen menghadapi aturan internasional terkait Napoleon.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com