SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Energi Gas Alam PGN Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan

  • Reporter:
  • Rabu, 12 Desember 2018 | 18:45
  • Dibaca : 5522 kali
Energi Gas Alam PGN Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan
Warung Makan Soto Medan di Batam Center menggunakan gas alam sebagai bahan bakarnya. /SINDOBATAM/ARRAZY ADITYA

Gas bumi atau gas alam dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memiliki peran penting bagi perekonomian Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tidak hanya digunakan untuk menopang industri skala besar, gas bumi juga berperan dalam menggerakkan roda ekonomi usaha kecil berbasis kerakyatan. Suatu upaya memeratakan energi sekaligus mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

FADHIL, Batam

Keberadaannya tetap eksis walau ekonomi sedang krisis. Kerap dipandang sebelah mata, namun mampu menyerap tenaga kerja. Itulah gambaran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Sektor usaha ini dinilai mampu memberikan dampak secara langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di sektor bawah. Bahkan, UMKM juga yang disebut tetap melaju kala ekonomi lesu.

Meski menuai segudang pujian, nyatanya UMKM tetap saja punya hambatan untuk berkembang. Salah satunya, terkait keterbatasan modal usaha. Maklum, karena berbasis kerakyatan, banyak UMKM yang masih mengandalkan modal minim. Jika pun ingin membesarkan modal dengan mengakses pinjaman ke bank, tak semua dengan mudah dapat kucuran dana yang diajukan.

Karena itu, pelaku UMKM khususnya yang tinggal di Batam, menyiasatinya dengan berbagai cara. Salah satunya, menekan biaya operasional sekecil mungkin untuk mendapatkan hasil maksimal. Ambil contoh, untuk UMKM yang bergerak di bidang kuliner. Beberapa pelaku UMKM Batam pilih menggunakan energi yang lebih efisien untuk menggerakkan roda usahanya.

Di sinilah peran PT PGN Tbk yang hadir dan menawarkan energi gas alam atau gas bumi dengan bermacam keunggulan kepada pelaku UMKM di Kota Batam. Gas bumi selain diklaim lebih aman dan tersedia kapan saja saat dibutuhkan, dari sisi kalkulasi biaya pemakaian juga jauh lebih hemat. Hal semacam itu tentu saja menggembirakan bagi pelaku usaha kecil, karena akan lebih menguntungkan.

Itulah yang sudah dirasakan oleh Ita, generasi kedua pemilik Rumah Makan Soto Medan Budhe Sri yang berada di Kompleks Nusantara Golden, Jalan Raja Haji Fisabilillah, Batam Centre, Kota Batam. Bagaimana ceritanya hingga usahanya kini tak bisa lepas dari energi gas alam PGN?

Ita bertutur, dalam beberapa tahun terakhir usaha Soto Medan warisan ibunya tersebut memang menghadapi beberapa kendala. Antara lain karena tingginya harga bahan pangan. Jika hendak menaikkan harga, ia khawatir pelanggan pergi. Namun, jika tak dinaikkan, tentu keuntungan yang didapat kian tergerus.

“Agak susah sekarang, karena harga barang-barang serba mahal,” katanya, saat dijumpai usai melayani pembeli.

Karena itu, ia dan adiknya yang kini mengelola usaha tersebut, harus memutar otak agar dari sisi operasional usaha bisa lebih efisien. Salah satunya, dengan beralih menggunakan bahan bakar. Jika sebelumnya untuk memasak soto ia menggunakan bahan bakar Liquified Petroleum Gas (LPG) kemasan tabung, ia kemudian berganti memakai gas alam dari PGN. Syukurnya kala itu, ada tawaran memanfaatkan gas bumi sebagai bahan bakar, mengingat lokasi usahanya memang sudah dilalui jalur infrastruktur pipa PGN.

“Setelah pakai dan dihitung-hitung, kita bisa menghemat antara 30-50 persen, lumayan itu,” kenang Ita.

Ia mengatakan, tiap bulan ia hanya mengeluarkan sekitar Rp1,5 juta untuk membayar tagihan gas dari PGN. Kondisi itu berbeda jauh dibanding saat menggunakan LPG. Ia mengingat, sebulan bisa membayar lebih dari Rp2 juta. “Tentu saja selisih untungnya ya ada lah, lumayan bisa disisihkan untuk uang jajan anak,” katanya.

Satu hal lagi yang diungkapkan Ita, sejak menggunakan gas alam, dirinya mengaku lebih merasa aman dan nyaman. Pasalnya, kata dia, selain ada petugas yang biasa rutin mengecek kualitas pipa, ia juga telah mendapatkan edukasi jika gas alam dari PGN memiliki tekanan rendah namun stabil sehingga lebih aman digunakan.

Bahkan, Ita mengaku pernah mengalami sendiri adanya kebocoran pipa gas. Namun saat itu tetap aman dan tak terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya sambaran api atau bahkan ledakan.

“Waktu itu tahu pipa bocor karena di pipa tersebut kena tetesan air sehingga kelihatan ada gelembung. Tapi ya enggak apa-apa dan tidak berdampak buruk. Setelah petugas datang, pipa saya minta dialihkan lewat atas saja, di bagian bawah plafon,” jelasnya.

Hal lain yang juga tak kalah penting, sambung wanita berhijab tersebut, karena bahan bakar yang merupakan kebutuhan utama untuk menjalankan usahanya itu tiap hari harus tersedia. Maka itu, ia tak khawatir lagi saat terjadi kelangkaan gas LPG atau kehabisan gas saat malam atau subuh hari ketika memasak. Itu karena, kapan pun butuh, tinggal menyalakan knop kompor lalu api menyala di tungku tanpa perlu lagi sibuk mencari gas.

“Bagi kami yang harus memasak tiap waktu, gas lancar itu penting. Kami bersyukur ada gas alam ini,” ujarnya.

Tak beda dengan itu, Raja Rita yang merupakan pemilik kedai Teh Tarek Raja mengaku sudah sekitar 3 tahun terakhir menggunakan gas bumi untuk memasak di tempat usahanya tersebut. Menurutnya, selisih biaya operasional saat menggunakan gas alam dibanding ketika masih memakai gas LPG memang cukup jauh.

“Sekitar 50 persen. Saya dulu tiap bulan habis Rp3,5 juta sampai Rp3,8 juta buat bayar LPG, tapi sekarang rata-rata saya cuma habis Rp1,2 juta sampai Rp1,5 juta,” jelas Rita.

Dengan selisih tersebut, Rita mengatakan bisa menekan biaya operasional usaha. Sehingga, bisa dialihkan untuk menutup kenaikan harga komoditas bahan masakan yang juga terus naik.

“Karena harga jual makanan kami enggak naik tapi bahan pangan naik, jadi ya harus pintar-pintar mengelola biaya operasional. Pakai gas bumi ini yang terasa manfaatnya,” puji Rita.

Selain efisiensi, Rita juga mengaku senang menggunakan gas alam dari PGN lantaran tersedia setiap saat.

“Jadi enggak repot-repot lagi cari gas, gampang dan murah,” katanya.

Saat ini, Raja Rita mengelola dua kedai Teh Tarek yakni di Batam Center dan di kawasan Jodoh, Batuampar. Sayangnya, kedai yang di kawasan Jodoh belum bisa menikmati gas alam dari PGN lantaran daerah itu belum tersambung pipa gas bumi.

“Kalau di sana sudah ada pipanya, saya pun mau pasang karena lebih hemat. Kalau bisa efisien terus kan semoga bisa menambah cabang baru lagi, mohon doanya,” harapnya.

Ita dan Raja Rita hanya dua dari sekian pelaku usaha kecil yang menggunakan gas alam dari PGN. Di Batam, sudah ada beberapa UKM lain yang beralih dari Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun dari LPG kemasan tabung ke gas alam PGN. Mulai dari rumah makan, pabrik tahu dan tempe, usaha laundry, dan masih banyak lainnya. Totalnya baru 29 UMKM yang bisa merasakan manfaat energi baik gas alam tersebut karena tempat usahanya sudah tersambung infrastruktur pipa PGN.

Namun sebenarnya, banyak UMKM yang ingin beralih ke gas alam. Namun apa daya, infrastrukturnya belum menjangkau semua.

Hal tersebut diungkapkan pelaku usaha kecil di kawasan Batuampar, Kota Batam, Siti Kadijah. Ia yang sehari-hari membuat beragam keripik peyek, baik itu peyek kacang maupun peyek teri untuk dijual dalam kemasan dan didistribusikan ke rumah makan maupun berbagai pelanggan dalam kemasan 1/2 kilogram (kg) itu mengaku menghabiskan satu tabung LPG kemasan 3 kg setiap kali memasak atau menggoreng peyeknya.

“Ya untung tak seberapa, kalau pesanan ramai ya bisa tertutupi modalnya,” ujar Siti.

Ia mengaku sudah mendapat cerita dari sejumlah temannya yang sudah menggunakan gas alam untuk menunjang usaha. Ia pun tertarik, namun sayangnya di daerah tempat tinggalnya infrastruktur pipa gas alam dari PGN belum tersambung hingga ke rumah-rumah. “Ya bagaimana lagi, tidak ada sambungannya. Kami berharap PGN ada cara lain untuk menyuplai ke tempat-tempat yang belum ada pipa gasnya. Karena katanya, gas dari PGN lebih murah,” kata ibu satu anak itu.

Untuk saat ini, belum semua masyarakat Batam bisa merasakan gas alam dari PGN karena infrastruktur pipa gas yang terbatas. Namun, hal itu termyata telah disiasati oleh perusahaan plat merah tersebut guna menjangkau pelanggan yang lebih luas tapi berada di luar jaringan pipa gas PGN.

Sales Area Head PGN Batam Amin Hidayat mengatakan, PGN akan terus berupaya untuk membangun infrastruktur untuk melayani masyarakat dengan menyesuaikan pertumbuhan permintaan. Seiring itu, dalam waktu dekat ini, PGN Batam melalui anak usahanya PT Gagas Energi bakal meluncurkan layanan untuk menjangkau calon pelanggan yang belum ada jaringan pipa PGN di wilayahnya. Yakni, dengan meluncurkan produk Gaslink.

“Gaslink adalah salah satu produk PGN dalam bentuk CNG (Compressed Natural Gas/gas alam terkompresi) yang dapat dinikmati seluruh pelaku industri yang belum terjangkau pipa PGN. Rencana untuk Batam akan ada dua truk Gaslink yang akan menyuplai kebutuhan gas bumi kepada pelanggan,” kata dia.

Menurut Amin, upaya itu merupakan jawaban kepada masyarakat bahwa PGN tidak hanya melayani industri skala besar saja dan yang sudah terjangkau pipa. Namun, juga memberikan layanan untuk sektor komersil seperti UMKM dan sebagainya yang belum terjangkau jaringan pipa gas.

Ia mengungkapkan, untuk saat ini, penyaluran gas alam PGN untuk sektor komersil baru sekitar 182.000 m3/bulan. “Ini untuk pelanggan rumah makan, laundry, hotel, restoran, bakery dan pelanggan komersil lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam Jadi Rajagukguk mengatakan, sektor UMKM sangat besar memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan ekonomi yang sehat di Batam. Menurutnya, UMKM mampu memberikan dampak secara langsung kepada ekonomi warga sehingga memiliki peran yang sangat penting dalam pemerataan ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, juga sekaligus menyerap tenaga kerja sehingga turut menghidupkan ekonomi.

“Untuk medorong itu, kita meminta agar PGN turut berperan menumbuhkan UMKM di Batam dengan membangun infrastruktur pipa gas agar distribusi energi gas alam bisa dirasakan semua pelaku usaha,” harap Jadi.

Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Batam saat ini lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumtif masyarakat. Karena itu, melalui kegiatan ekonomi kerakyatan, pemerintah harus lebih konsentrasi dan fokus dalam meningkatkan daya saing UMKM di Batam, yang memang banyak menyumbang sisi konsumsi masyarakat tersebut. “UMKM tidak kalah pentingnya sebagai pondasi pertumbuhan ekononomi Batam,” kata dia.

Hal itu selaras dengan data pertumbuhan ekonomi Kepri yang dirilis Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri. BI Kepri menyebut, pertumbuhan ekonomi Kepri membaik di tahun 2018. Itu ditunjukkan dengan data kumulatif triwulan I-III tahun 2018 dengan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 4,24 persen (yoy). Angka itu lebih baik dibanding kumulatif triwulan I-III tahun 2017 yang pertumbuhannya terperosok di angka 1,82 persen (yoy). “Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 39,11 persen terhadap ekonomi Kepri sepanjang triwulan I-III tahun 2018,” jelas Kepala BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra.

Sementara itu, Kepala Dinas UKM Kota Batam, Suleman Nababan mengungkapkan, merujuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM Batam mencapai sekitar 75 ribu. Namun, yang terdata dan dibina dinas tersebut baru sekitar 1.200 UMKM.

Suleman berharap, semua pihak ikut membantu mendorong kemajuan UMKM. Termasuk, mendorong PGN untuk meningkatkan jaringan infrastruktur pipa sehingga makin banyak UMKM yang merasakan manfaat gas alam.

“Kami tentu akan terus mendorong UMKM kita maju. Tapi itu juga perlu dukungan dari semua pihak. Tak hanya dana, tapi juga yang bisa mendukung kemudahan usaha,” katanya.***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com