SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Gadis Gembala yang Jadi Menteri

  • Reporter:
  • Rabu, 5 April 2017 | 11:05
  • Dibaca : 438 kali
Gadis Gembala yang Jadi Menteri
Najat Vallaud-Belkacem

Najat Vallaud-Belkacem menjadi lambang imigran Prancis yang membangun negara tujuannya. Ia jadi oase di tengah derasnya penolakan terhadap gelombang imigran masuk Eropa. Terpilihnya Najat sebagai perempuan pertama yang menjadi Menteri Pendidikan dan Penelitian Prancis, sekaligus menjadi bukti bahwa seorang imigran juga bisa menjadi aset berharga bagi negara.

Saat ditunjuk menjadi menteri oleh Presiden Francis Hollande, pada 26 Agustus 2014, Najat Vallaud-Belkacem dianggap wajah baru di dunia pendidikan Prancis. Namun, satu hal yang patut menjadi pembelajaran dari Najat Vallaud-Belkacem, jerih payah dan perjuangannya ternyata sanggup mengubah kegagalan dan stigma negatif dirinya, menjadi sebuah keberhasilan. Terlebih, ia adalah seorang muslim, yang notabene menjadi kelompok minoritas di Negara itu.

Cantik, muslim, dan imigran, itulah sosok Najat Vallaud-Belkacem. Perempuan tangguh, ini lahir pada 4 Oktober 1977, di sebuah desa di Nador, Maroko. Sebelum ia lahir, ayahnya Ahmed sudah meninggalkan keluarga untuk bekerja di Prancis bagian utara. Najat merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara.

Nenek dari ayahnya keturunan Spanyol dan Aljazair. Najat besar di wilayah pertanian di pedesaan. Masa kecil gadis penggembala ini dihabiskan bermain dengan ternak kambing sang kakek, berkelana dari satu bukit tandus ke bukit lainnya, mencari air bersama sang kakak Fatiha.

Kedua orangtuanya memutuskan ke Prancis, demi mencari kehidupan yang lebih layak. Setelah sang ayah berhasil mendapat pekerjaan di pabrik perakitan mobil Renault, Najat yang kala itu baru berusia 4 tahun, menyusul ke Prancis bersama kakaknya Fatiha. Mereka tinggal di kota Abbevile, Provinsi Amiens, dua jam perjalanan dari Paris.

Sang ayah yang konservatif, tidak membolehkan Najat dan kakaknya bermain seenaknya. Bahkan, setelah mereka remaja pun tak diperbolehkan berpacaran. Akibatnya, buku adalah pelarian, dan itu membuat Najat dan kakaknya cemerlang di sekolah.

Di Prancis, gadis Maroko yang awalnya tidak memiliki kemahiran dalam bahasa Prancis, ini berjuang menghadapi dunia nyata yang penuh tekanan. Najat memiliki sifat pekerja keras yang diwarisi dari ayahnya. Dan, hasil didikan sang ayah pun tidak mengecewakan.

Terbukti, Najat dapat masuk ke perguruan tinggi di University of Amiens, dan melanjutkan pendidikannya di Institut d’études politiques de Paris (Institut Studi-Studi Politik Paris). Waktu itu, ia juga memiliki beban untuk mencukupi keuangan kelurganya setelah ditinggalkan oleh sang ayah.

Sebelum masuk kuliah, Najat sudah menjadi warga negara Prancis. Kendati begitu, ketika ingin mengikuti ujian masuk kuliah, salah satu gurunya tak percaya ia akan lolos. Meski sakit dan juga dipandang sebelah mata, Najat tetap mengikuti ujian masuk tersebut dan akhirnya lolos. Selama masa kuliah, ia tak mengubah kebiasaannya untuk rajin belajar dan mencari tahu berbagai informasi, hingga dirinya meraih title sarjana.

Tak puas hanya dengan gelar sarjana, Najat lantas mengambil S2 jurusan Administrasi Publik. Namun, demi meringankan beban keuangan keluarga, ia rela bekerja keras. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan memiliki dua pekerjaan sekaligus. Belum lagi, saat itu ia kerap datang ke perpustakaan kampus untuk membaca buku dan belajar. Di sinilah ia bertemu dengan Boris Vallaud, yang kelak menjadi suaminya. Pasangan ini menikah pada 2005 ,dan sama-sama bekerja di jalur pemerintahan.

Karir Najat dalam dunia politik juga cukup berliku-liku. Pada 2002, ia masuk ke Partai Sosialis, dan kemudian terpilih dalam dewan wilayah Rhone-Alpes, pada 2004. Di tahun berikutnya, Najat menjadi penasihat Partai Sosialis, dan bergabung menjadi tim kampanye Ségolène Royal, sebagai juru bicara pada 2007. Pada 2012, adalah titik penting bagi karier Najat. Setelah Francis Hollande terpilih jadi Presiden, pada 15 Mei 2012, keesokan harinya Najat ditunjuk sebagai Menteri Hak Perempuan.

Kemudian, pada 26 Agustus 2014, Najat dipromosikan menjadi Menteri Pendidikan, Pendidikan Tinggi dan Riset. Itu adalah sebuah perubahan yang baik bagi Prancis sendiri, karena Najat menjadi menteri wanita pertama sekaligus wanita muslim pertama yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pendidikan Tinggi dan Riset. Pihak oposisi ternyata tidak menyukai kehadiran Najat. Apalagi, sang menteri memiliki dua kewarganegaraan dan dianggap membahayakan keamanan nasional Prancis.

Ungkapan rasis dan seksis hampir tiap hari diterima Najat, di awal karirnya sebagai menteri. Namun, Najat tetap kuat menghadapi tekanan yang mendera. Ia bahkan secara tegas mengaku sebagai muslim, kendati tak taat menjalankan ajarannya. Alhasil ia pun ditunjuk untuk mewakili minoritas. Menurut ia, apa yang telah dicapainya hingga saat ini, adalah berkat pendidikan Prancis yang ia pelajari.

Tak hanya itu, Najat juga sering dianggap aneh di kalangan koleganya di pemerintahan. Najat pun menyadari, dirinya memang dipandang sebagai sebuah anomali di lingkungannya. Pertama, karena usianya yang masih muda saat itu. Ia masih berusia 34 tahun ketika pertama kali memasuki jabatan di pemerintahan. Kedua, karena jenis kelaminnya. Dan ketiga, karena akar keturunannya imigran dari Maroko.

Oleh public di Prancis, Najat sering dibandingkan dengan Rachida Dati, Menteri Kehakiman Prancis di masa pemerintahan Nicholas Sarkozy, pada 2007, yang dianggap sebagai simbol keberagaman. Rachida sendiri adalah wanita keturunan Maroko dan Aljazair pertama yang menjabat di pemerintahan. Namun demikian, Najat menolak untuk dibandingkan dengan Rachida yang sekarang menjabat sebagai parlemen di Uni Eropa.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com