SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Gembong JAD Dituntut Hukuman Mati

  • Reporter:
  • Sabtu, 19 Mei 2018 | 12:33
  • Dibaca : 119 kali
Gembong JAD Dituntut Hukuman Mati

JAKARTA – Jaksa penuntut umum (JPU) menjatuhkan tuntutan hukuman mati terhadap pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurahman.

JPU menilai, Aman Abdurahman terbukti merencanakan serangkaian aksi terorisme di Indonesia. Selain itu, Aman juga dinilai telah menyebarkan paham radikalisme. JPU juga menyatakan Aman Abdurahman merupakan dalang berbagai serangan teror di Indonesia. Di antaranya, bom Thamrin, Jakarta dan bom Gereja Oikumene Samarinda pada 2016. Kemudian bom Kampung Melayu serta penusukan polisi di Sumut dan penembakan polisi di Bima pada 2017.

“Menuntut agar majelis hakim menyatakan Aman Abdurahman terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme dan menjatuhkan hukuman mati,” kata JPU Anita Dewayani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin.

Menurut JPU, Aman Abdurahman terbukti membentuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dalam sebuah pertemuan di Malang pada November 2014. Dalam pertemuan itu, Aman memerintahkan pembentukan struktur wilayah di Kalimantan, Ambon, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jabodetabek, dan Sulawesi. “Dalam kelompok JAD, terdakwa Aman Abdurahman diposisikan oleh para pengikutnya sebagai rujukan dalam ilmu,” lanjutnya.

JPU juga menyatakan, Aman Abdurahman ingin menjadikan Indonesia sebagai sebuah provinsi ISIS. JPU Mayasari menyebut, Aman telah menyampaikan ceramah bahwa pemerintahan
Indonesia merupakan negara thagut yang berdasarkan demokrasi. Menurut Aman, demokrasi dinilai sebagai ajaran kafir.

Aman juga diduga memerintahkan empat orang untuk meledakkan bom di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Aman menyasar tempat tersebut sebagai lokasi teror karena banyak warga negara asing (WNA) di sana. Bom tersebut akhirnya diledakkan di Gerai Starbucks dan pos polisi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016.

Aman juga dituntut telah menyampaikan kegiatan ceramah yang menyuarakan atau menyampaikan rujukan dalam kajian tauhid. Akibat kajian atau ajaran yang diberikan tentang syirik akbar atau syirik demokrasi mengakibatkan para pengikutnya terprovokasi dan mempunyai pemahaman radikal.

Aman diduga terlibat dan menjadi otak pengeboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016 dan pengeboman di Terminal Kampung Melayu pada pertengahan 2017. Sebelumnya, Aman pernah ditangkap pada 21 Maret 2004, setelah terjadi ledakan bom di rumahnya di kawasan Cimanggis, Depok, saat dia sedang melakukan latihan merakit bom.

Sebelumnya pada Februari 2005, Aman divonis hukuman penjara selama 7 tahun. Selesai menjalani hukuman, pada Desember 2010, Aman kembali ditangkap karena terbukti membiayai pelatihan kelompok teroris di Jantho, Aceh Besar dan ditahan di Lapas Nusakambangan. Aman kemudian divonis 9 tahun penjara, hingga dinyatakan bebas pada Hari Kemerdekaan. Namun Aman tidak langsung bebas dan dipindahkan ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Dalam menyusun tuntutan, JPU mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan, di antaranya terdakwa disebut memiliki pandangan bahwa Pemerintah Indonesia dan ideologi Pancasila merupakan falsafah kafir. Terdakwa Aman Abdurahman juga disebut tokoh ideolog dalam serangan terorisme tersebut. Selain itu, terdakwa merupakan residivis dalam kasus terorisme yang membahayakan kehidupan kemanusiaan.

“Terdakwa adalah penggagas, pembentuk, dan pendiri Jamaah Anshorut Daulah, organisasi yang jelas-jelas menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dianggapnya kafir dan harus diperangi,” tandas JPU.

Kemudian, terdakwa adalah penganjur, penggerak kepada pengikutnya untuk melakukan jihad, amaliyah teror, melalui dalil-dalilnya sehingga menimbulkan banyak korban. Perbuatan terdakwa telah mengakibatkan banyak korban meninggal dan korban luka berat. “Perbuatan terdakwa telah menghilangkan masa depan seorang anak yang meninggal di tempat kejadian dalam kondisi cukup mengenaskan dengan luka bakar lebih 90% serta lima anak mengalami luka berat yang dalam kondisi luka bakar dan sulit dipulihkan kembali seperti semula,” ungkap JPU.

Selain itu, pemahaman terdakwa tentang syirik demokrasi telah dimuat di internet dalam blog www.millaibrahim wordpress yang ternyata dapat diakses secara bebas sehingga dapat memengaruhi banyak orang. “Sementara hal yang meringankan, menurut kami, tidak ditemukan hal-hal yang meringankan dalam perbuatan terdakwa,” tandas Mayasari.

JPU pun menilai, Aman Abdurahman telah terbukti melakukan pelanggaran sesuai dakwaan kesatu primer dan dakwaan kedua primer. Dakwaan kesatu primer, yakni Aman dinilai melanggar Pasal 14 jo Pasal 6 Perppu Nomor 1/2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana dakwaan kesatu primer.

Sementara dakwaan kedua primer, Aman dinilai melanggar Pasal 14 jo Pasal 7 Perppu Nomor 1/2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Asrudin Hatjani selaku kuasa hukum Aman Abdurahman menyatakan, pihaknya akan menyampaikan nota pembelaan (pleidoi) sidang berikutnya, pada minggu depan. Menurut dia, apa yang dituduhkan jaksa tidak terbukti. “Ada beberapa tuduhan jaksa justru tidak terbukti,” ujarnya. Adapun Aman Abdurahman tidak mau berkomentar sedikit pun terkait tuntutan yang dilayangkan JPU.

Sementara itu, jalannya persidangan dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Jajaran Polri yang berasal dari Korps Brimob juga tampak menjaga mengamankan proses sidang ini. Penjagaan sudah mulai ketat sejak masuk di pintu gerbang PN Jaksel. Polisi bersenjata laras panjang langsung melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pengunjung. “Ada (pengamanan khusus di sidang tuntutan Aman Abdurahman),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono. Polda Metro Jaya mengerahkan setidaknya 200 personel untuk membantu mengamankan jalannya proses sidang.

Selalu Membantah
Aman Abdurrahman membantah dirinya sebagai pimpinan tertinggi ISIS di Indonesia. “Saya ketua ISIS, pimpinan ISIS, dari mana? Saya bukan ketua ISIS, bukan pimpinan ISIS,” kata Aman dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, bulan lalu.

Aman mengakui banyak yang menjadikan materi ceramahnya sebagai rujukan. Namun, katanya, bukan berarti dia pimpinan ISIS di Indonesia. “Kalau orang merujuk sebagian ilmu dari saya, iya saya katakan iya,” kata Aman.

Sementara Pengacara Aman Abdurrahman, Asludin Hatjani membantah jika kliennya terlibat dalam aksi teror di sejumlah daerah. Ia menegaskan, kerusuhan di Mako Brimob, teror bom Surabaya, Sidarjo, dan Riau tidak ada kaitannya dengan otak pelaku teror bom Thamrin tersebut.

“Gimana bisa dikaitkan dengan dia (Aman Abdurrahman) kan dia di dalam tahanan,” kata Asludin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin.

Masifnya aksi teror yang diduga dilakukan oleh jaringan JAD, menurut Asludin, tidak berkaitan dengan Aman, lantaran tokoh JAD tersebut mendekam di Mako Brimob.

helmi syarif

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com