SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Generasi Milenial: Karakteristik, Kepemimpinan dan Sikap Politik 

  • Reporter:
  • Rabu, 9 Mei 2018 | 08:47
  • Dibaca : 675 kali
Generasi Milenial: Karakteristik, Kepemimpinan dan Sikap Politik 
Prijanto Rabbani Peneliti dan Direktur Centre for Strategic and Policy Studies

Generasi milenial menjadi topik yang sering dibicarakan di kalangan masyarakat. Mulai kaitannya dengan pendidikan, teknologi maupun moral dan budayanya. Generasi milenial dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.

Mengutip riset Pew Research Center pada 2010 berjudul Millennials: A Portrait of Generation Next, kehidupan generasi milenial ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment ataupun hiburan.

Milenial adalah mereka yang kelahirannya antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 255 juta jiwa, sebanyak 81 juta berusia 17-37 tahun. Generasi yang lahir dan tumbuh di lingkungan serba digital ini diprediksi bakal berkembang hingga enam puluh persen dari total populasi di Indonesia pada tahun 2020.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, milenial merupakan target audiens dengan penetrasi produk yang cukup sulit. Terlahir generasi yang digital native, mereka lebih peka terhadap perubahan dan lebih pintar mengantisipasi iklan. Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.

Generasi Milenial dan Karakteristik

Telah banyak artikel yang membahas dan membedah karakteristik dari generasi unik ini. Dari berbagai sumber, dapat kembali dipaparkan berbagai karakteristik yang dimiliki oleh generasi milenial ini. Semakin memahami karakteristik yang dimiliki generasi ini, maka akan semakin mengerti bagaimana menyasar dan mengelola potensi generasi yang akan mendominasi populasi penduduk di negeri ini. Apa saja karakteristik dari generasi ini, berikut ulasannya:

  • Milenial ada di mana-mana

Milenial merupakan konsumen dengan segmentasi yang luas, dapat ditemukan di sekolah, universitas, kantor, dan juga di rumah. Mereka berprofesi sebagai siswa, karyawan, profesional atau bahkan ada yang telah jadi orang tua. Dengan kata lain, mereka tersebar di setiap kelas sosial dan budaya. Generasi ini cenderung mengutamakan identitas dan pengalaman sosial, serta memandang hidup secara berbeda. Inilah mengapa generasi ini memiliki purchasing habit yang berbeda pula.

  • Milenial penyuka konten autentik

Menurut AdAge, milenial menghabislan rata-rata 24-25 jam per minggu berselancar di dunia maya. Mereka menjelajahi web, blog, dan media sosial, serta saling berbagi, menyukai, hingga mengomentari semua konten yang mereka temukan. Konten yang autentik akan lebih menggugah dan memotivasi mereka untuk terus menyebarkannya kembali kepada komunitas online. Jika Anda menguasai ‘bahasa’ mereka, Anda sudah selangkah lebih dekat dengan generasi ini. Jadikan milenial sebagai fokus kampanye dan buat mereka jadi pusat dari semua konten yang Anda buat.

  • Milenial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah

Bisa dibilang milenial tidak percaya lagi kepada distribusi informasi yang bersifat satu arah. Mereka lebih percaya kepada user generated content (UGC) atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan. Mereka tidak terlalu percaya pada perusahaan besar dan iklan, mereka lebih mementingkan pengalaman pribadi ketimbang iklan atau review konvensional.

Dalam hal pola konsumsi, banyak dari kalangan milenial juga memutuskan untuk melakukan pembelian suatu produk, setelah melihat review atau testimoni yang dilakukan oleh orang lain di internet. Mereka juga tak segan-segan membagikan pengalaman buruk mereka terhadap suatu merek. Nah!

  • Milenial lebih memilih ponsel dibanding TV

Sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka, maka televisi bukanlah prioritas generasi millennial untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan. Bagi kaum milenial, iklan pada televisi biasanya dihindari. Generasi milenial lebih suka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti generasi ini untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar.

Jika dihadapkan pada sebuah pilihan, mayoritas kaum muda milenial akan lebih memilih ponsel dibandingkan TV. Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel.

Bahkan, ketika mereka sedang menonton TV pun, para milenial terus menggunakan ponsel mereka, entah itu untuk mengisi waktu selama iklan tayang, atau untuk tetap terhubung dengan teman-teman mereka di media sosial. Secara umum, keseharian mereka tak bisa lepas dari ponsel, dan keberadaan teknologi digital telah begitu merasuk dalam aktivitas mereka sepanjang hari.

  • Milenial wajib punya media sosial

Komunikasi yang berjalan pada orang-orang generasi milenial sangatlah lancar. Namun, bukan berarti komunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya. Banyak dari kalangan milenial melakukan semua komunikasinya melalui text messaging atau juga chatting di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profil dirinya, seperti Twitter, Facebook, hingga Line.

Akun media sosial juga dapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulis tentang dirinya di situ adalah apa yang akan semua orang baca. Jadi, hampir semua generasi milenial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi.

  • Milenial senang berkolaborasi

Milenial tumbuh dalam budaya berbagi. Mereka tidak merespons kampanye pemasaran hard selling. Sebaliknya, mereka senang menjadi pencipta produk (product co-creator) dan terlibat dalam pengembangan produk maupun layanan. Perusahaan umumnya menginginkan produk tersebut dikonsumsi. Namun tidak dengan milenial, keterlibatan pada pengembangan produk membuat mereka lebih percaya dan loyal terhadap brand. Bila kamu tengah menyasar generasi ini, fokuslah dalam membangun hubungan dengan mereka. Fasilitasi mereka untuk berekspresi serta bantu membangun merek pribadi sendiri.

  • Milenial kurang suka membaca secara konvensional

Populasi orang yang suka membaca buku turun drastis pada generasi milenial. Bagi generasi ini, tulisan dinilai memusingkan dan membosankan. Generasi milenial bisa dibilang lebih menyukai melihat gambar, apalagi jika menarik dan berwarna.

Walaupun begitu, milenial yang hobi membaca buku masih tetap ada. Namun, mereka sudah tidak membeli buku di toko buku lagi. Mereka lebih memilih membaca buku online (e-book) sebagai salah satu solusi yang mempermudah generasi ini, untuk tidak perlu repot membawa buku. Sekarang ini, sudah banyak penerbit yang menyediakan format e-book untuk dijual, agar pembaca dapat membaca dalam ponsel pintarnya.

  • Milenial lebih tahu teknologi dibanding orang tua mereka

Semua kini serba digital dan online, tak heran generasi milenial juga menghabiskan hidupnya hampir senantiasa online. Menurut riset SocialLab, 58 persen generasi milenial lebih rela kehilangan indra penciuman, dari pada akses terhadap teknologi.

Generasi ini melihat dunia tidak secara langsung, namun dengan cara yang berbeda, yaitu dengan berselancar di dunia maya, sehingga mereka jadi tahu segalanya. Mulai dari berkomunikasi, berbelanja, mendapatkan informasi dan kegiatan lainnya, generasi millennial adalah generasi yang sangat modern, lebih daripada orang tua mereka, sehingga tak jarang merekalah yang mengajarkan teknologi pada kalangan orang tua.

  • Milenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif

Diperkirakan pada tahun 2025 mendatang, milenial akan menduduki porsi tenaga kerja di seluruh dunia, sebanyak 75 persen. Kini, tak sedikit posisi pemimpin dan manajer yang telah diduduki oleh millennial. Seperti diungkap oleh riset SocialLab kebanyakan dari milenial cenderung meminta gaji tinggi, meminta jam kerja fleksibel, dan meminta promosi dalam waktu setahun.

Mereka juga tidak loyal terhadap suatu pekerjaan atau perusahaan, namun lebih loyal terhadap merek. Milenial biasanya hanya bertahan di sebuah pekerjaan kurang dari tiga tahun, untuk berganti pekerjaan yang lain. Namun demikian, sebab kaum milenial hidup di era informasi yang menjadikan mereka tumbuh cerdas, tak sedikit perusahaan yang mengalami kenaikan pendapatan karena mempekerjakan milenial.

  • Milenial melakukan transaksi secara cashless

Sebab semuanya semakin mudah dengan kecanggihan teknologi yang semakin maju ini, maka pada generasi milenial pun mulai banyak ditemui perilaku transaksi pembelian yang sudah tidak menggunakan uang tunai lagi alias cashless. Generasi ini lebih suka tidak repot membawa uang, karena sekarang hampir semua pembelian bisa dibayar menggunakan kartu, sehingga lebih praktis, hanya perlu gesek atau tapping. Mulai dari transportasi umum seperti bis dan commuter line yang sudah menggunakan sistem e-money, hingga berbelanja baju dengan kartu kredit dan kegiatan jual beli lainnya.

Generasi Milenial dan Kepemimpinan 

Perlahan tapi pasti, generasi yang tumbuh di era perkembangan teknologi dan informasi ini pun mendominasi angkatan kerja. Dan berdasar karakteristik yang dimiliki, generasi milenial juga memiliki karakter tersendiri dalam memandang organisasi maupun perusahaan. Hal ini tentu merupakan tantangan tersendiri bagi para pemimpin organisasi maupun perusahaan yang anggotanya didominasi oleh milenial.

Meskipun begitu, pemimpin dengan tipe yang tepat dapat membuat milenial sangat nyaman dan loyal. Apa sajakah tipe pemimpin yang dimaksud? Berikut ulasannya:

  • Terbuka

Salah satu hal terpenting untuk diterapkan di perusahaan atau organsisasi adalah keterbukaan atau transparansi. Para pekerja milenial sangat menghargai transparansi perusahaan atau organisasi. Dengan adanya keterbukaan, baik pemimpin maupun anggota dapat berbagi mengenai perkembangan maupun permasalahan yang dihadapi perusahaan, serta memungkinkan para anggota untuk ikut andil dalam pencarian solusi sehingga anggota merasa memiliki peran yang signifikan.

  •  Pendengar

Salah satu tipe pemimpin yang paling disukai generasi milenial adalah tipe pendengar. Ketika generasi milenial merasa didengar oleh pemimpinnya, mereka akan melakukan tugas dan pekerjaannya dengan maksimal sebagai ungkapan rasa loyalitasnya terhadap sang pemimpin.

Tipe pemimpin seperti ini memang disukai seluruh generasi, namun sifat ini amat dihargai oleh para milenial. Jika para milenial merasa tidak didengar dan tidak dihargai, mereka akan cenderung memilih untuk meninggalkan perusahaan atau organisasi tersebut.

  • Penyemangat

Tipe pemimpin lainnya yang disukai generasi milenial adalah pemimpin yang mampu memotivasi. Generasi milenial menyukai pemimpin yang mampu mengerti masalah mereka dan turut memotivasi mereka dibandingkan pemimpin yang hanya meminta hasil akhir tanpa memperdulikan anggotanya. Milenial sangat menghargai pemimpin seperti ini dan membuat mereka semakin loyal pada sang pemimpin.

Sifat-sifat kepemimpinan di atas tidak hanya berguna apabila diterapkan oleh para pemimpin dari generasi X atau baby boomers, namun juga para pemimpin dari generasi millennial. Selain saat memimpin, sifat ini perlu Anda terapkan dalam banyak aspek kehidupan, karena sifat-sifat tersebut dapat membuat orang lain merasa dihargai.

Generasi Milenial dan Politik

Diperkirakan pada Pemilu 2019 nanti, jumlah pemilih dari generasi milenial mencapai 52% atau lebih kurang setara dengan 100 juta orang. Angka tersebut lebih dari separuh jumlah pemilih. Melihat populasi tersebut, menegaskan bahwa generasi milenial merupakan pemilih potensial (voters) yang sangat berpotensi sebagai agen perubahan.

Terhadap kehidupan politik, mengutip pendapat Paulus Mujiran dalam artikel “Membaca Politik Generasi Millennial”, generasi milenial mempunyai karakter tersendiri, yaitu:

Pertama, mereka lebih melek teknologi tetapi cenderung apolitis terhadap politik. Mereka tidak loyal kepada partai, sulit tunduk dan patuh instruksi. Generasi milenial cenderung tidak mudah percaya pada elite politik, terutama yang terjerat korupsi dan mempermainkan isu negatif di media sosial.

Kedua, generasi milenial cenderung berubah-ubah dalam memberikan hak politiknya. Mereka cenderung lebih rasional, menyukai perubahan dan antikemapanan. Mereka cenderung menyalurkan hak politik kepada partai yang menyentuh kepentingan dan aspirasi mereka sebagai generasi muda.

Sebagaimana dipahami bersama, ada dua aspek penting dalam Pemilu yang harus menjadi acuan partai politik, yakni; pasal dan pasar. Pasal berkaitan dengan aturan main yang mengikat, sedangkan pasar adalah para pemilih. Pasar ini mengambil peranan sangat penting karena sangat menentukan siapa yang akan didukung dan mendapatkan kursi.

Mentarget pemilih milenial memang susah-gampang, pemilih milenial secara jumlah besar, namun karakternya yang susah ditebak dan cenderung apolitis sehingga membuat mereka susah didekati oleh partai politik/kandidat.

Lalu bagaimana cara mendekati pemilih milenial?

Menurut Hassanudin Ali, dalam artikel “Berebut Pemilih Milenial”,  seridaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan.

Pertama, pahami karakter dan perilakunya. Dalam buku Millennial Nusantara ada tiga karakter yang sangat menonjol dari generasi milenial yaitu creative (kreatif), confidence (percaya diri), dan connected (terhubung satu sama lain). Partai atau kandidat harus mampu beradaptasi dengan tiga karakter milenial tadi.

Kedua, Bicara dengan bahasa mereka. Generasi milenial agak alergi dengan bahasa dan jargon-jargon politik, partai politik atau kandidat harus menggunakan bahasa lain untuk bisa diterima oleh milenial. Dari Kajian Alvara Research Center ada tiga topik yang sangat menarik dan sering diperbincangkan oleh generasi milenial, yaitu olahraga, musik/film, dan teknologi informasi.

Ketiga, Ciptakan hubungan yang “intim”. Harus diakui salah satu ciri partai politik adalah sering kali hanya ramai ketika menjelang pemilu, atau banyak orang sering menyebut partai “pasar malam”. Mendekati milenial tidak bisa dengan cara lama seperti itu, partai politik atau kandidat harus hadir dan berusaha terus menerus menjadi salah satu faktor dalam kehidupan sehari-hari mereka. Partai/kandidat tidak bisa hanya sekedar on-off, milenial perlu disapa dan diajak bicara, mereka juga tidak suka komunikasi searah, mereka lebih suka komunikasi dua arah, karena itu media sosial bisa digunakan sebagai platform komunikasi dua arah antara partai/kandidat dengan generasi milenial.

Catatan Akhir

Dari paparan diatas dapat tergambar dengan jelas betapa generasi milenial dengan kekhasan karakteristiknya adalah generasi unik, yang keberadaannya akan sangat menentukan wajah dari bangsa ini. Paparan informasi yang begitu gencar menerpa generasi milenial sedikit banyak akan membawa dampak terhadap cara pandang tentang kehidupan dan juga berbangsa dan bernegara.

Para elite dan politisi jangan hanya sekedar ingin meraup suara sebanyak mungkin dari generasi milenial. Memberikan edukasi tentang pentingnya nilai kebangsaan, keagamaa, kepedulian, dan nilai-nilai luhur lainnya yang semakin memudar di kalangan milenial menjadi langkah bijak yang bisa dilakukan.

Milenial saat ini adalah wajah bangsa saat mendatang.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com