SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Gerbang Pariwisata di Seberang Singapura

  • Reporter:
  • Jumat, 2 November 2018 | 07:47
  • Dibaca : 14721 kali
Gerbang Pariwisata di Seberang Singapura
Sejumlah destinasi wisata di Batam. /DOK SINDO BATAM

Destinasi wisata yang tersohor di dunia maya tengah digandrungi pelancong lokal serta digemari wisatawan mancanegara (wisman). Beruntungnya, Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura, punya potensi alam yang luar biasa untuk dikembangkan jadi destinasi wisata populer di era digital. Saatnya menarik jutaan wisman sekaligus menjadikan Batam sebagai hub pariwisata ke seluruh nusantara.

FADHIL, Batam 

Letaknya memang berada di ujung, tapi tak pernah sepi dari pengunjung. Belum lama dibuka, namun ratusan kali didatangi turis mancanegara. Itulah destinasi digital Desa Wisata Kampung Tua Kampung Terih di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Bak surga yang baru terbuka, tempat wisata itu langsung populer di telinga warga. Bukan hanya tersebar dari mulut ke mulut, keindahan Kampung Terih yang terabadikan lewat jepretan foto dan terekam dalam video, kemudian menyebar lewat berbagai media informasi digital. Tak ayal, hanya beberapa pekan setelah diresmikan, destinasi wisata ini langsung viral di media sosial (medsos).

Desa Wisata Kampung Terih memang menjadi destinasi digital di Batam. Banyak fasilitas yang dapat ditemui di sini seperti area untuk swafoto, kuliner, rumah pohon, archery (panahan), camping ground (area berkemah), area outbond, area penanaman dan jelajah bakau, wisata memancing hingga atraksi kesenian,” kata Nunung Sulistiyanto, Pengelola Desa Wisata Kampung Terih, Minggu (28/10/2018).

Pengelola memang sengaja menata kawasan wisata Kampung Terih dengan berbagai spot foto yang unik dan menarik. Berada persis di bibir pantai Nongsa yang menghadap ke Selat Singapura, Kampung Terih diuntungkan karena memiliki ribuan meter kawasan bakau alami.

“Wisatawan juga bisa menyewa perahu sampan untuk menjelajahi kawasan bakau dari tepi pantai,” ujarnya.

Sedangkan di sisi bagian dalam hutan bakau yang berbatasan langsung dengan daratan berpasir, pengelola membuatkan jalan setapak berupa pelantar dari kayu. Sehingga, pengunjung bisa menjelajah di sela deretan tumbuhan bakau yang masih hijau nan asri. Tak jauh dari itu, pengunjung bisa turun dari pelantar dan gantian mengambil foto dengan latar belakang rumah pohon yang ditata begitu ciamik. Atau pilihan lainnya, menggoyangkan badan di atas ayunan sembari difoto dengan gaya yang menawan.

“Zaman sekarang yang dicari memang spot foto yang unik dan menarik, Instagramable pokoknya. Dan itu kami sediakan di sini,” kata pria yang juga menjabat Ketua Umum Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Kepri tersebut.

Rumah pohon di Kampung Terih. /DOK PARI BATAM

Kehadiran Desa Wisata Kampung Terih tak terlepas dari peran komunitas Penjelajah Alam Kepri (PARI). Mereka menginisiasi berdirinya kampung wisata tersebut demi mewujudkan konsep destinasi wisata baru yang beda, unik, dan kekinian di Batam.

Yang menarik, Desa Wisata Kampung Terih tidak hanya populer di kalangan wisatawan lokal, tapi juga mulai tersohor hingga belahan dunia lainnya. Kawasan wisata ini menjadi magnet baru bagi industri pariwisata di kota yang berseberangan langsung dengan negara tetangga, Singapura itu.

Namun, target kunjungan wisman tentu bukan hanya dari negara tetangga saja. Karena kenyataannya, pelancong asing yang pernah singgah malahan berasal dari berbagai negara di empat benua di dunia. Mulai dari Benua Asia seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Philipina, Thailand, Korea, India dan China. Kemudian, dari Benua Eropa seperti dari Rusia, Inggris, Perancis, Italia, Ukraina, Jerman dan Polandia. Sedangkan wisman asal Benua Amerika yang tercatat pernah menjejakkan kaki di Kampung Terih berasal dari Amerika Serikat, Brasil hingga Trinidad Tobago. Kepopuleran Kampung Terih di jagat maya nyatanya membawa dampak signifikan bagi cepatnya penyebaran informasi desa wisata itu ke penjuru dunia.

Wisman asal Perancis melepas penyu di Kampung Terih. DOK PARI BATAM

“Misalnya wisman yang dari Korea Selatan, mereka bilang tahu Kampung Terih dari YouTube. Makanya kita juga mengelola beberapa akun media sosial berbeda untuk mempromosikan Kampung Terih ke dunia internasional,” tuturnya.

Garap Destinasi Digital Baru

Kampung Terih sejatinya baru satu dari segudang objek wisata alam yang bisa dikemas jadi destinasi wisata digital di Batam. Masih ada puluhan objek wisata lainnya yang bisa dikembangkan secara atraktif guna menjaring turis lokal maupun jadi magnet bagi wisman. Terlebih, Pulau Batam juga dianugerahi bentang alam yang sangat indah dan menawan.

Beberapa tempat wisata yang sudah lebih dulu tersohor dan potensial jadi destinasi digital di Batam antara lain Jembatan Barelang yang menghubungkan tiga gugusan pulau, yakni Batam, Rempang dan Galang. Total, ada 6 jembatan yang menghubungkan tiga pulau tersebut.

Jembatan Barelang dibangun oleh Otorita Batam (saat ini berubah nama jadi Badan Pengusahaan Batam) yang merupakan regulator daerah industri di Batam pada tahun 1992 hingga 1997. Proyek itu menelan anggaran Rp400 miliar. Saat proyek ini dibangun, Ketua Otorita Batam kala itu dijabat oleh BJ Habibie.

Saking megahnya jembatan ini, terutama Jembatan I Barelang dengan panjang 385 meter serta menggunakan model jembatan kabel gantung, banyak wisatawan yang tertarik berkunjung dan berfoto di sekitar kawasan jembatan. Kini, tak jauh dari Jembatan I Barelang, telah berdiri kawasan wisata Dendang Melayu untuk memudahkan pengunjung menikmati kemegahan jembatan. Pengelola juga menyediakan spot foto dengan latar belakang Jembatan I Barelang.

Jembatan Barelang. /SINDO BATAM/AGUNG DEDI LAZUARDI

“Saat ini di bawah Jembatan I Barelang yang terhubung dengan area Dendang Melayu, juga dibangun objek wisata tambahan, baik untuk berfoto maupun menikmati pemandangan laut di sekitarnya,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata.

Jembatan Barelang juga tampil makin eksotis berkat cahaya lampu warna-warni. Tak heran, meski malam hari, masih banyak wisatawan yang datang ke jembatan yang diberi nama Jembatan Tengku Fisabilillah tersebut.

“Kepopuleran Jembatan Barelang baik di Facebook atau Instagram sudah tidak usah diragukan lagi. Rata-rata wisatawan kalau ke Batam pasti mengunjungi Jembatan Barelang, dan setelah itu mereka upload (unggah) ke medsos,” kata Ardi.

Selain itu, Batam juga masih punya spot untuk menyelam atau diving di bawah laut, maupun untuk snorkeling, yakni Pulau Abang. Berada di gugusan Pulau Galang, Batam, keindahan bawah laut Pulau Abang tak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian besar perairan di daerah itu masuk taman konservasi terumbu karang. Dasar permukaan lautnya juga berbentuk datar sehingga diklaim cocok untuk penyelam pemula.

Bahkan, di Pulau Abang ada terumbu karang langka yang dilindungi, yakni blue coral. Menurut Ardi, terumbu karang ini tak bisa hidup di sembarang tempat, melainkan hanya bisa bertahan di perairan jernih dan airnya bagus. Dari sisi objek foto bawah laut, keindahan blue coral juga banyak diabadikan oleh para penyelam.

“Ini bisa jadi selling point (nilai jual), terutama kepada wisman yang suka dengan keindahan bawah laut,” tutur Ardi.

Saat ini, sambung Ardi, keindahan bawah laut Pulau Abang jadi salah satu dari sekian banyak destinasi wisata bahari di Batam yang mulai tersohor di jagat maya. Itu karena, pesona terumbu karang serta aneka jenis ikan di kawasan tersebut bisa menjadi latar maupun objek foto bawah laut yang sangat menarik. Maka jangan heran jika dalam beberapa waktu terakhir, Pulau Abang sering kedatangan wisman dari berbagai negara. Sebut di antaranya Singapura, Malaysia, Philipina, bahkan hingga Norwegia.

Wisatawan snorkeling di Pulau Abang. /DOK SINDO BATAM

“Bertahap kita akan garap potensi Pulau Abang ini secara maksimal. Karena dari Pulau Abang, wisman bisa diarahkan untuk menjelajahi destinasi bawah laut lain di Indonesia, seperti Bunaken hingga Raja Ampat,” kata mantan Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batam tersebut.

Salah seorang wisman yang terpesona dengan keindahan bawah laut Pulau Abang adalah Farhan, turis asal Singapura. Meski ia mengaku sering bolak-balik Batam-Singapura, namun sebelumnya ia tak tahu jika Batam punya pesona terumbu karang yang begitu indah dan langka, khususnya di Pulau Abang.

“Setelah tahu dan membuktikan sendiri, saya akan bawa relasi untuk menyelam ke sini,” kata Farhan, pria keturunan Melayu Singapura tersebut, saat dijumpai beberapa waktu lalu.

Kemasan Berbeda Atraksi Wisata

Ardiwinata menjelaskan, secara keseluruhan, pariwisata Batam sebenarnya telah dikemas dalam berbagai atraksi berbeda untuk menarik wisatawan. Misalnya, wisata belanja (Shopping). Seperti diketahui, Batam memiliki banyak pusat perbelanjaan atau mal, yang menjadi tempat favorit wisawatan belanja. Bedanya, berbagai barang yang dijual, seperti parfum, tas, ponsel, kamera dan beberapa item barang lainnya biasanya ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibanding tempat lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan berbelanja di negara tetangga seperti Singapura, di Batam tentu jauh lebih murah.

“Di sini memang surga belanja bagi wisatawan karena relatif lebih murah harganya, apalagi untuk wisman. Kita harapkan hal itu bisa mereka sounding (sebarluaskan) lebih masif lagi,” harapnya.

Atraksi lainnya, sambung Ardi, adalah wisata kuliner. Wilayah Batam yang terdiri dari beberapa pulau besar dan kecil serta dikelilingi laut, membuat suplai makanan laut (seafood) makin mudah ditemukan. Tak heran, jika ada wisatawan yang berkunjung ke Batam, berburu seafood tak bisa ditinggalkan.

“Batam juga punya banyak kedai maupun restoran yang khusus menyajikan makanan laut, di antaranya Golden Prawn di Bengkong, Sri Rejeki di Nongsa, Barelang Seafood Restoran di dekat Jembatan Barelang,” sebut Ardi.

Salah satu menu di Golden Prawn Batam. /DOK SINDO BATAM

Kemudian kemasan lain, ia melanjutkan, yakni wisata Religi. Semua agama ada di Batam. Sehingga, fasilitas peribadatan juga tersedia di kota ini dan bisa dimanfaatkan untuk jadi destinasi wisata.

Bagi yang ingin mengunjungi tempat peribadatan umat Islam, tersedia masjid yang megah dan ikonik. Misalnya, Masjid Jabal Arafah di Nagoya yang punya menara pandang setinggi 36 meter, Masjid Laksamana Cheng Ho di kawasan Golden Prawn Bengkong, Batam. Selain itu, Pemerintah Kota Batam juga tengah membangun Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah di Batuaji yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada 2019 nanti. Jika sudah jadi, masjid ini diklaim menjadi masjid terbesar se-Sumatera.

“Masjid ini selain dibangun megah dengan perpaduan arsitektur Turki dan Melayu, juga akan dilengkapi Islamic Centre untuk pusat kajian keislaman di dalam satu kawasan,” tuturnya.

Sementara dalam momen peringatan hari besar Islam, Pemerintah Kota Batam juga melihat potensi untuk menarik banyak wisman. Seperti, saat hari raya Idul Adha. Menurut Ardi, selama beberapa tahun terakhir, banyak warga muslim Singapura yang pilih menyalurkan hewan kurban di Batam ketimbang di negara asalnya.

“Karena di Singapura, ekonomi warganya sudah lebih bagus sehingga sedikit sekali warga yang mau menerima hewan kurban. Karena itu, mereka pilih menyalurkannya ke Batam,” terang Ardi.

Begitu juga dengan agama lain, misalnya Buddha. Batam punya salah satu vihara terbesar di Asia Tenggara yakni Maha Vihara Duta Maitreya di Seipanas, Batam Kota. Selain itu, ada Vihara Budhi Bakti atau Tua Pek Kong di Windsor, Lubukbaja bagi umat Kong Hu Chu yang juga ramai dikunjungi wisman. Ada juga Lalita Temple yang merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu India di Batam. Sementara untuk gereja, juga banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai penjuru wilayah serta bisa dikunjungi umat Kristiani saat berkunjung ke Batam.

Wisatawan berfoto di depan Masjid Cheng Ho di Bengkong. /SINDOBATAM/FADHIL

Sedangkan untuk atraksi berupa situs wisata, Batam memiliki Camp Vietnam yang berada di Pulau Galang. Kawasan ini dulunya adalah bekas tempat penampungan sementara bagi pengungsi asal Vietnam yang keluar dari negaranya akibat perang saudara berkepanjangan. Akhirnya, di bawah komando Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), para pengungsi dikumpulkan di salah satu pulau yang saat itu belum banyak berpenghuni, yaitu Pulau Galang. Pengungsi itu menetap di Batam dari tahun 1975 hingga 1996.

“Camp Vietnam saat ini sudah kosong, tapi dijadikan destinasi wisata sejarah karena jejak tempat tinggal dan fasilitas pendukung kehidupan masih bisa dilihat hingga saat ini,” terang Ardi.

Selain itu, masih ada jejak wisata untuk melihat rumah asli warga Melayu zaman dulu. “Namanya Rumah Potong Limas di Nongsa yang juga sering dikunjungi wisman,” katanya.

Kemudian, sambung Ardi, wisata olahraga atau sport tourism. Batam memiliki cukup banyak lapangan golf. Sehingga, potensi menggaet wisman makin terbuka. Begitu juga dengan event olahraga berskala internasional, seperti balap sepeda Tour de Barelang, juga masih rutin digelar di Batam.

Tak ketinggalan, kemasan wisata agrotourism atau wisata berbasis pertanian, perkebunan atau kehutanan juga kian diminati wisatawan. Batam punya kebun buah naga di Barelang, kebun jambu di Marina, dan aneka budi daya tanaman maupun jenis bunga lainnya. Yang tak kalah menarik adalah, wisata untuk menjelajahi hutan bakau.

“Kita punya banyak pantai dan sebagian di antaranya lengkap dengan hutan bakau yang masih alami,” terangnya

Tak kalah penting, menurut Ardi, adalah kemasan wisata untuk Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) atau pertemuan, insentif, convensi dan pameran. Batam bisa dijadikan lokasi pertemuan maupun pameran bertaraf internasional.

“Batam punya fasilitas yang lengkap dan memadai untuk menunjang MICE,” terangnya.

Ada juga kemasan wisata berupa atraksi budaya. Misalnya, Parade Budaya Nusantara, Gebyar Nusantara, pawai ogoh-ogoh, serta atraksi kebudayaan dari berbagai daerah lain di Indonesia.

“Itu karena hampir semua kebudayaan di Indonesia, juga ada di Batam,” imbuhnya.

Semua konsep atraksi wisata Batam itu, kata Ardi, akan dikemas lebih modern dan atraktif sehingga bisa menjadi pendorong lahirnya destinasi digital baru di Batam.

“Arah kita ke sana, bagaimana agar pariwisata Batam bisa dikenal luas, baik itu di media sosial dan dunia maya, serta dalam kerja sama dengan agen penjual paket wisata. Harapannya agar makin dikenal luas dan makin banyak yang datang ke Batam,” terangnya.

Sedangkan untuk berbagai acara atau kegiatan yang bertujuan untuk menarik wisatawan, Ardi juga menyebut Batam punya berbagai atraksi menarik. Sebut di antaranya, Kenduri Seni Melayu (KSM) yang diadakan di setiap penghujung tahun dan menjadi rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Batam yang jatuh setiap tanggal 18 Desember.

“Juga jangan lupa, kita ada kesenian budaya tari Makyong yang sangat terkenal di negara serumpun Melayu. Jika dikemas kekinian, bukan tak mungin budaya itu juga akan populer di jagat maya,” kata Ardi.

Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Esthy Reko Astuti yang datang langsung ke Batam dan menghadiri acara KSM ke-20 tahun 2018 yang digelar mulai Kamis hingga Sabtu (1-3/11/2018), turut mengapresiasi gelaran tersebut. Ia memuji berbagai acara budaya yang disematkan di dalamnya. Misalnya, permainan memutar 1.000 gasing yang merupakan permainan tradisional Melayu.

Esthy mengatakan, KSM menjadi salah satu kalender kegiatan pariwisata Kota Batam yang masuk dalam kalender event nasional dari Provinsi Kepri. Yang membuatnya bangga adalah, KSM menjadi trending topic di Twitter dan sudah berada di urutan ketiga saat pembukaan lalu.

“KSM ini sangat luar biasa karena dari enam kalender wisata di Kepri, salah satunya KSM berhasil masuk menjadi trending topic Pesona Wisata Indonesia. Untuk masuk kalender event ini cukup selektif, karena di sana ada budayawan, media, dan enam kurator nasional,” sebutnya.

Permainan gasing di Festival Budaya KSM. /SINDOBATAM/TEGUH PRIHATNA

Esthy menilai, meski usia Batam sudah tidak muda namun dia memuji tampilan Kota Batam yang atraktif dengan beragam event pariwisatanya. Ia berharap, dengan banyaknya event menjadi magnet bagi wisman dan target kunjungan wisman yang dicanangkan Presiden RI, Joko Widodo pada tahun 2019 sebanyak 20 juta wisman bisa tercapai.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, realisasi jumlah kunjungan wisman ke Kepri periode Januari hingga Agustus 2018 mencapai 1.662.476 kunjungan. Jumlah itu naik 22,13 persen dibanding jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 1.361.223 kunjungan.

Adapun, target kunjungan wisman ke Kepri tahun 2018 dibagi menjadi dua, yakni target dari Kemenpar dan target berdasar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kepri. Jika bersandar pada target yang dicanangkan Kemenpar, hingga bulan Agustus 2018, Kepri ditarget mendapatkan 2.380.000 kunjungan wisman. Sehingga, dengan realisasi yang ada, persentase capaian wisman ke Kepri dari target Kemenpar baru mencapai 41,56 persen.

Sedangkan mengacu pada RPJMD Kepri, target kunjungan wisman ke provinsi dengan tujuh kabupaten/kota tersebut hingga bulan Agustus 2018 adalah 1.575.000 kunjungan. Dengan realisasi saat ini, persentase terhadap target sudah sebesar 73,89 persen.

Wisman yang masuk ke Kepri didominasi turis asal Singapura (47,40 persen), Malaysia (11,84 persen), China (10,76 persen), India (3,98 persen), Korea Selatan (3,17 persen), Philipina (2,24 persen), dan asal negara-negara lain di dunia (20,61 persen).

Dari jumlah realisasi kunjungan wisman yang masuk ke Provinsi Kepri dari bulan Januari-Agustus 2018 sebanyak 1.662.476 tersebut, mayoritas didominasi dari pintu masuk Batam. Tercatat, Batam menyumbang 1.203.527 kunjungan wisman.

 Jadi Tourism Hub di Indonesia

Perkembangan pariwisata Batam menunjukkan tren positif dari waktu ke waktu. Lokasi Batam yang berada di gerbang perbatasan dengan negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia, nyatanya membawa berkah dalam hal kunjungan wisman. Sejak beberapa tahun terakhir, Batam selalu menjadi salah satu pintu masuk wisman terbesar di Indonesia. Tercatat, Batam berada pada peringkat ketiga terbanyak menyumbang kunjungan wisman setelah Bali dan Jakarta.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar RI, Guntur Sakti mengatakan, Batam merupakan cross border terbaik di Indonesia dan memiliki tiga keunggulan yakni akses, amenitas, dan atraksi (3A).

 Dimulai dengan akses. Guntur menyebut, akses transportasi sebagai pintu masuk wisman di Batam dinilai sangat sempurna.

“Ada bandara dan beberapa pelabuhan internasional yang cukup memadai,” kata Guntur.

Kemudian, sambung dia, dari sisi amenitas, Batam memiliki fasilitas pendukung pariwisata berupa hotel, restoran, mal dan sebagainya yang jumlahnya cukup banyak dan lengkap.

Namun, dari sisi atraksi, Guntur menilai Batam masih sangat kurang. “Baik itu atraksi budaya, alam dan buatan masih minim, sehingga tidak banyak keberagaman produk dari tahun ke tahun,” sebut mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri tersebut.

Karena itu, salah satu upaya menambah diversifikasi dan daya tarik wisata baru di era milenial ini, yakni terobosan membangun banyak destinasi wisata digital di Batam. Hal itu sudah menjadi kebutuhan di tengah kemajuan zaman.

Guntur juga memberi masukan agar Badan Pengusahaan Batam selaku pihak yang diberi wewenang oleh pemerintah pusat sebagai pemegang kuasa atas lahan di Batam, bisa menjadi leading sector dalam mengalokasikan lahan demi pengembangan industri pariwisata.

“Sedangkan Pemerintah Kota Batam, bisa men-support dengan menggerakkan komunitas-komunitas untuk membangun berbagai destinasi digital,” saran Guntur.

Menurutnya, banyak objek wisata yang sangat indah di Batam dan bisa dijadikan destinasi digital. Bahkan, kata dia, Batam seharusnya jadi pionir sebagai daerah dengan destinasi digital terbanyak di Indonesia. Itu karena, selain pasar milenialnya ada, pasar mancanegara juga sangat dekat.

“Infrastruktur internet di Batam sudah mapan sebagai salah satu syarat mudahnya akses Wifi di destinasi digital. Inilah solusi paling mudah dan murah bagi Batam untuk menambah diversifikasi produk dan destinasi wisata barunya,” ujar pria yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepri tersebut.

Guntur juga menyebut, lantaran banyaknya potensi yang dimiliki Batam untuk menarik wisman, harusnya kalangan swasta juga bisa diajak untuk mengembangkan destinasi digital di Batam. Dengan begitu, ia yakin wisman yang masuk ke Indonesia melalui pintu Batam akan semakin optimal.

“Dengan beragam keunggulan Batam, sangat dimungkinkan untuk menjadi pengumpan wisman ke wilayah lain di Indonesia,” kata dia.

Untuk mewujudkannya, menurut Guntur, tergantung pada otoritas bandara untuk menginisiasi dibukanya jalur penerbangan ke beberapa daerah lain di Indonesia.

“Sangat bisa Batam jadi tourism hub (penghubung pariwisata) di Indonesia, karena Bandara Hang Nadim Batam juga punya runway (landasan pacu) terpanjang di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Guntur, Kemenpar juga sudah membuat kebijakan untuk pengembangan destinasi digital. Karena itu, daerah diminta segera memanfaatkan hal tersebut.

“Ini solusi paling mudah dan murah bagi Batam untuk menganekaragamkan produk dan menambah destinasi wisata barunya,” Guntur menganjurkan.

***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com