SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Gulai Kepala Jahan Tambelan, Pengobat Rindu Kampung Halaman

  • Reporter:
  • Rabu, 7 Juni 2017 | 13:42
  • Dibaca : 569 kali
Gulai Kepala Jahan Tambelan, Pengobat Rindu Kampung Halaman
Gulai Kepala Jahan Tambelan, Pengobat Rindu Kampung Halaman. Foto Joko Sulistyo.

:: Ketua KPU Tanjungpinang Bisnis Kuliner Khas Tambelan Selama Ramadan

Ramadan sering dimanfaatkan masyarakat untuk menyajikan masakan khas daerah. Selain karena kelezatannya yang khas, masakan daerah ini juga bisa menjadi pengobat rindu kampung halaman bagi mereka yang berada di perantauan.

Albet memacu motornya membelah hiruk-pikuk jalanan Kota Tanjungpinang di sore hari. Pemuda asal Pulau Laut, Natuna itu berpacu dengan waktu dan pengendara lain yang sepertinya terburu-buru mengarah ke sejumlah lapangan dan halaman pertokoan yang disulap menjadi pasar tumpah, menjajakan aneka masakan pembuka puasa.

Menyusuri Jalan DI Panjaitan, Albet mengarahkan kemudi motornya berbekal sebaris alamat di layar ponsel pintarnya. Tepat sebelum lampu merah Bintan Centre, pemuda yang berprofesi sebagai fotografer itu membelokkan motornya ke arah kiri memasuki sebuah gerbang masuk Perumahan Taman Harapan Indah.

Komplek pemukiman yang memanjang hingga ke ujung area Rumah Sakit Umum Ahmad Thabib itu menyediakan penunjuk gang dengan alfabet berurut. Sayangnya, alamat yang dicarinya tidak langsung ketemu dan membuatnya harus sekali memutar hingga beberapa blok.

“Blok C tak ada plang-nya mas,” ujarnya kepada KORAN SINDO BATAM yang mengekorinya berburu takjil.

Setelah seluruh blok dilalui, ia berbelok di sebuah blok tanpa penunjuk nama. Jalan lingkungan selebar 3 meter yang agak menurun dilalui pelan, di perempatan jalan pertama ia menghentikan kendaraannya.

“Sepertinya di sini, baunya sudah kecium, aku hafal banget ini,” ungkapnya.

Tanpa bertanya, Albet kembali menarik tali gas motornya perlahan. Di depan sebuah bangunan bertingkat yang posisinya tepat di sisi perempatan jalan, ia menepikan motor dan menghampiri pintu yang terbuka.

“Assalamualaikum, betul rumah Pak Robby,” katanya sambil menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan.

Seorang perempuan muda mempersilakan masuk dan menunggu di ruang tamu, menunjukkan tebakan Albet tidaklah meleset, tepat, Blok C nomor 9.

“Betul mas, ini rumahnya, tapi orangnya baru keluar sebentar,” katanya seraya menghempaskan diri di kursi tamu.

Robby Patria yang ditunggu muncul beberapa menit kemudian, menemani duduk dan berbincang.

Di sudut belakang bangunan yang dibatasi rak buku berukuran tinggi, Halinda dan Mariyani tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan dapur. Aneka kemasan srikaya tulang pisang, ukal, dan bungkusan plastik berisi gulai, sebagian telah tertata di atas sebuah meja.

Aroma gulai yang sedikit asing bagi orang yang bukan berasal dari pulau menghambur ke penjuru ruangan. Kepulan asap tipis mengawang dari permukaan cairan kental yang mengeluarkan gelembung karena mendidih di atas wajan berukuran besar. Perpaduan cabai, lada, jintan, kayu manis, ketumbar, dan bawang menggoda selera setelah bercampur dengan aroma lemak ikan jahan yang mendidih.

Gulai kepala ikan jahan atau lazim disebut sebagai gulai belarak merupakan sajian khas Ramadan di pulau yang letaknya lebih dekat ke Pontianak, Kalimantan Barat daripada ke Bintan, ibukota kabupatennya. Berbeda dengan gulai ikan dari daerah lain, alih-alih menggunakan santan, belarak justru memasukkan kelapa tumbuk sebagai bumbu utama. Kelapa yang ditakar tak lebih dari satu butir untuk belasan potongan kepala ikan itu sebelumnya dibakar terlebih dahulu hingga sedikit hangus. Aroma gosong kelapa bakar menambah kekayaan aroma gulai yang sepintas terkesan pedas itu.

“Sebentar lagi orang pada datang ambil pesanan, kami tidak buka lapak di luar,” ujar Robby.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Tanjungpinang itu bercerita, Ramadan tahun ini ia mencoba berjualan aneka masakan berbuka puasa khas Pulau Tambelan, daerah asalnya. Bermula dari iseng, aneka masakan ibu dan istrinya tersebut dia coba tawarkan melalui jejaring Facebook dan jejaring obrolan daring semisal WhatsApp. Tidak disangka, peminatnya banyak dan boleh dikata masakan selalu habis terjual. Pembelinya, menurut Robby sebagian besar adalah sesama perantau dari Tambelan, selain ada beberapa pembeli yang memang menyukai citarasa kuliner khas perkampungan nelayan pulau, seperti Albet.

“Sudah lima tahun lebih saya merantau, Ramadan jauh dari keluarga. Bertemu masakan begini, rasanya pengobat rindu kampung lah,” tutur Albet.

Seperti pembeli lain, Albet memperoleh informasi dari Facebook dan meluangkan waktu untuk mencarinya. Sedikit unik, pembeli masakan Tambelan ini kebanyakan memesan terlebih dahulu karena takut tidak kebagian. Dalam sehari, setidaknya 30-an orang melakukan pemesanan secara online dan mengambilnya saat mendekati waktu berbuka puasa.

“Jadinya sekarang boleh dibilang masak sejumlah pesanan saja. Malah lebih enak begitu, tidak bersisa,” ujar Robby.

Gulai kepala ikan jahan, kerapu, lebam, dan gulai hiu cabai hijau adalah menu rumahan yang kemudian laku jual dan menjadi andalan Robby. Seporsi gulai kepala ikan jahan dijual dengan harga Rp10 ribu, berisi satu kepala ikan yang dibelah menjadi dua. Selain menu lauk, Halinda dan Mariyani juga mengeksplorasi aneka kudapan ringan khas kampung halamannya.

Sebut saja ukal, srikaya tulang pisang, srimuka, dan dadar. Setiap harinya, Robby menerima pesanan kue-kue berbahan ubi yang dipadu dengan irisan daging ikan maupun kelapa dari pelanggannya.

Sebagai daerah berpenghuni mayoritas nelayan, tradisi kuliner Tambelan tidak dapat dipisahkan dari bahan baku ikan laut. Kue ukal misalnya, bentuknya seperti lemet, terbuat dari ubi kayu yang ditumbuk, dibungkus daun pisang, dan dimasak dengan cara dikukus. Ada dua varian ukal dalam tradisi kuliner Pulau Tambelan, manis dan ikan. Kue yang sebungkusnya dijual Rp5 ribu ini yang paling banyak dicari pembeli adalah yang berisi potongan daging ikan.

Gigitan pertama pada kue ukal sekilas tidak ada bedanya dengan lemet. Namun lidah yang tidak terbiasa akan terkejut oleh sensasi gurih dari daging ikan jenis kerapu atau jahan yang diselipkan di tengah adonan sebelum dikukus. Rasa gurih itu timbul dari aneka bumbu rempah yang digunakan untuk memasak ikan, melengkapi sensasi sedikit pedas dari cabai tumbuk di dalamnya.

Beralih ke srikaya, kudapan yang satu ini lebih tepat disebut sebagai puding daripada kue. Kuliner dengan rasa sangat manis ini dibuat dari campuran tepung, santan, telor, gula merah, dan daun pandan sebagai penambah aroma. Bentuknya mirip dengan bubur sumsum, begitupun warna kecoklatannya. Yang sedikit berbeda adalah padupadan penyajiannya. Srikaya tulang pisang, sesuai namanya berisi puding yang disebut srikaya dan potongan buah pisang matang. Rasa buah pisang yang dimasak dalam santan dan gula merah tidak terlalu beda dengan kolak, namun mengudap hidangan keluarga nelayan ini sungguh mengenyangkan, karena kandungan tepung dalam pudingnya.

Selain srikaya, paduan puding dengan ubi tumbuk seperti lemet juga disediakan Robby jika ada yang memesan. Masyarakat Tambelan dan sejumlah pulau kecil di Natuna memiliki kesamaan penyebutan terhadap puding ini, yakni srimuka.

Keisengan Robby dan keluarganya berbuah manis. Kendati mengaku belum berpikir untuk menggelutinya sebagai bisnis, namun pembeli yang mencapai 30 hingga 50 orang perhari bukan merupakan peluang yang dapat dikesampingkan begitu saja.

Albet berpendapat, cukup sulit menemukan jajanan khas yang akrab di lidahnya pada masa kecil di Tanjungpinang. Meski berada dalam satu provinsi, kuliner di Kepri menurut Albet sangat beragam. Tiap-tiap pulau memiliki kekhasan tersendiri, biasanya muncul dari keterbatasan dan keragaman bahan baku yang ada di pulau-pulau.

“Tiap pulau beda, contoh ini, Pulau Laut dan Lingga ada sagu, tapi di Natuna tidak, Tambelan tidak. Itulah sebabnya masakan khasnya juga pasti beda,” jelasnya.

Meski sama-sama merupakan daerah berpenduduk nelayan, keanekaragaman hayati di laut, menurut Albet membuat hasil tangkapan nelayan juga berbeda jenis tiap-tiap daerahnya. Namun begitu, ia tidak menolak jika dikatakan satu sama lain memiliki kemiripan, terutama dalam bumbu dan cara memasaknya.

Tanjungpinang lebih 400 tahun silam adalah sebuah bandar yang cukup sibuk seiring dengan difungsikannya bekas wilayah Kesultanan Malaka itu sebagai ibukota berbagai pemerintahan. Sulalatus Salatin mencatat, pada 1784 wilayah daratan yang menjorok ke lautan ini sebagai ibukota kesultanan, setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis. Sejak itu, wilayah ini menjadi semacam melting pot atau periuk tempat bertemunya berbagai entitas budaya dari berbagai penjuru.

Menyoal budaya, warisan pertemuan budaya-budaya di Tanjungpinang dapat ditelisik dari khazanah kuliner yang ada di Tanjungpinang saat ini. Sebut saja prata yang sedikit mirip dengan kuliner asal daratan Hindustan, India. Kemudian teh tarik, sup ikan, bakso, berbagai jenis hidangan berkuah, dan makanan berbahan mie yang diperkirakan tiba bersama pendatang dari daratan China berabad lalu.

Era yang bersamaan, pendatang dari nusantara seperti Bugis, Bone, Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda, dan berbagai daerah lain turut memperkaya perbendaharaan kuliner di Tanjungpinang.

Lazimnya bumbu yang menyatu kala dimasak, entitas itu kemudian menjadi perpaduan identitas kuliner yang kemudian populer. Satu yang tidak dapat dihindari dari pertemuan berbagai budaya tersebut adalah persinggungan asimetris yang mengaburkan identas asal.

Albet dan Robby adalah generasi baru yang memasuki melting pot budaya di Tanjungpinang. Generasi milenial ini masih belum terlalu jauh dari akar budaya kuliner asal mereka dan melakukan apa saja untuk memperkuat pertautan emosi dengan kampung halamannya.

“Apalagi sekarang zaman online, tidak ada alasan untuk tidak eksis bagi kuliner khas daerah,” pungkas Albet.

Seporsi gulai kepala jahan, ukal, dadar dan srimuka menjadi buah tangan yang mengiringi keriangan Albet menembus lalulintas, pulang ke rumah sewaannya. Sebersit senyum dan senandung bahagia menemaninya. Menanti matahari tenggelam untuk menyantap habis kerinduan pada kampung halamannya lewat kepala ikan jahan.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com