SINDOBatam

Terbaru Metro+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Harga Cabai Bikin Pedagang Kelimpungan

  • Reporter:
  • Sabtu, 20 Juli 2019 | 10:59
  • Dibaca : 216 kali
Harga Cabai Bikin Pedagang Kelimpungan
Ilustrasi Foto Arrazy Aditya

BATAMKOTA – Harga cabai di Batam masih tinggi dan tak kunjung turun pasca Lebaran. Di pasaran, harga cabai berkisar di antara Rp80 ribu-Rp90 ribu per kilogram. Mahalnya harga cabai membuat pedagang bingung, sebab jika dinaikkan mereka akan kehilangan pelanggan.

Sebelum Lebaran, harga cabai normalnya di kisaran Rp40 ribu per kilogram, baik cabai merah maupun cabai rawit. Tak hanya memberatkan masyarakat, hal ini juga sangat memberatkan pedagang sayur serta pedagang makanan.

Pedagang sayuran di Pasar Botania, Anggit mengatakan, kenaikan harga cabai yang terjadi sejak Lebaran membuat pedagang di pasar kelimpungan. Menurut dia, biasanya ia mengambil cabai yang didatangkan dari Jawa sebanyak 1 dus atau sekitar 32 kilogram, namun saat ini ia tak berani mengambil cabai dalam jumlahnya yang banyak.

“Sekarang cuma bisa ambil 10 Kg, kalau ambil 32 kilo takut gak sanggup bayar,” ujarnya, Kamis (18/7).

Saat ini untuk harga cabai merah yang dia jual, harganya antara Rp80ribu sampai Rp90 ribu per kilo. Padahal harga normalnya di kisaran Rp40 ribu per kilonya. Sedangkan untuk cabe rawit, harga per kilo Rp90 ribu, harganya naik Rp50 ribu dari harga normal Rp40 ribu per kilo.

“Yang paling tinggi itu cabai setan (cabai rawit merah) sekarang harganya Rp110 ribu per kilonya, normalnya itu cuma Rp50 ribu per kilo,” kata Anggit.

Senada disampaikan Bagus, pedagang lainnya. Harga cabai yang masih tinggi membuat dirinya takut kehilangan pelanggan. Menurut dia, pedagang tak bisa ikut menaikkan harga, sebab akan ditinggal pelanggan. “Saya ambil tak berani ambil banyak. Jual ke pembeli juga tak boleh mahal juga, kalau gak mau ditinggal sama pelanggan,” katanya.

Tak hanya pedagang sayuran, hal yang sama juga dirasakan pedagang makanan. Pedagang ayam penyet di kawasan Botania, Batam Centre, Ilham salah satunya. Ia mengatakan, naiknya harga cabai membuat dirinya tak berani menaikan harga dagangannya lantaran takut kehilangan pelanggan.

“Terus terang kami cukup terbebani, tapi mau gimana lagi kalau dinaikan harganya nanti malah gak ada yang beli,” ujarnya.

Ilham menjelaskan, kenaikan harga cabai dirasakan sudah sejak lama, namun kata dia harga cabai sempat mengalami penurunan beberapa hari belakangan dan kemudian harganya naik lagi.

“Tiga hari lalu turun, cuma sehari saja, besoknya harga cabai naik lagi. Sekilo Rp90 ribu untuk cabai merah dan cabai rawit,” katanya.

Sebelumnya, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam mendorong sejumlah maskapai penerbangan untuk bisa memberikan tarif khusus untuk kargo khusus sayur mayur. Pasalnya tarif yang diberlakukan saat ini terlalu tinggi yang berdampak terhadap harga kebutuhan pokok di Batam yang disuplai dari luar daerah.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemko Batam, Pebrialin mengatakan, Batam saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan bahan pokok sendiri, terutama yang berkaitan dengan sayuran. Karena saat ini baru sekitar 25-30 persen yang mampu dipenuhi sendiri dari Batam, sisanya masih dari luar Batam.

“Ada dari Yogyakarta, Medan, Mataram dan daerah penghasil lainnya. Sehingga pasokan sayur mayur ini masih tergantung dari daerah lain, karena Batam memang bukan daerah penghasil,” ujarnya saat memimpin rapat TPID di Kantor Wali Kota Batam, Selasa (16/7).

Karena itu, untuk mengendalikan inflasi di Batam, salah satu cara yang dilakukan pihaknya bersama stakeholder lainnya adalah bagaimana menjaga pasokan kebutuhan pokok di Batam ini tetap aman. Menurut dia, ada dua jalur yang selama ini digunakan para distributor untuk mengirim barang dari daerah-daerah penghasil tersebut ke Batam.

Di antaranya adalah jalur laut dan jalur udara, dilihat dari biayanya jalur laut memang lebih murah jika dibandingkan jalur udara. Hanya saja jika melalui jalur laut membutuhkan waktu yang panjang, dicontohkannya seperti dari Yogyakarta, minimal tiga hari baru bisa sampai Batam. “Jadi kalau sayuran kan tidak bisa lama, kalau sampai tiga hari di jalan sampai Batam pasti sudah tidak segar lagi,” katanya.

Sedangkan melalui jalur udara satu hari memang bisa langsung sampai, hanya saja banyak distributor yang mengeluh karena biaya yang terlalu tinggi. Rata-rata selisih antara jalur laut dengan udara sekitar Rp13 ribu per kilonya, karena itu pihaknya sedang berupaya bagaimana tarif melalui udara ini diberikan tarif khusus.

“Misal seperti cabai, sayur mayur yang mudah busuk ini tidak disamakan atau paling tidak diberikan harga khusus. Sehingga bisa cepat sampai ke Batam dan kondisinya masih segara,” katanya.

Wakil Ketua TPID Kepri, Fadjar Majardi mengatakan, untuk di Batam cabai memang masih tinggi. Melonjaknya hargai cabai ini terjadi karena dari tempat produksinya yang tinggi, sehingga memang masih sulit untuk bisa dintervensi karena sudah tinggi dari daerah penghasilnya. “Harga cabai tinggi karena pasokan dari daerah produksi (penghasil) memang sedang turun,” kata Fadjar.

Hanya saja memang biasanya dari pedagang sudah mencari di mana yang murah. Meski harga cabai di Batam meroket, Fadjar mengatakan, jika dibandingkan daerah lain, seperti Sumatera Utara (Sumut), harga cabai di Batam masih lebih murah. “Kalau dibandingkan 2-3 bulan lalu memang sangat tinggi. Tapi coba dibandingkan harga di tempat lain,” ujarnya. agung dedi lazuardi/ahmad rohmadi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com