SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Hingga April, Angka Pengangguran di Batam Makin Tinggi

Hingga April, Angka Pengangguran di Batam Makin Tinggi
Pekerja galangan kapal di Batam. Foto Arrazy Aditya.

SEKUPANG – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam mencatat ada 23 perusahaan tutup hingga pertengahan April. Angka tersebut lebih tinggi dari perusahaan yang beroperasi, sebab berdasarkan data BP Batam, hanya 13 perusahaan yang buka tahun ini. Kondisi ini belum memperbaki kondisi pengangguran di Batam.

“Yang lapor ke Disnaker 23 perusahaan. Tapi kalau yang belum lapor masih ada beberapa. Total perusahaan yang tutup diprediksi di atas itu,” kata Kepala Disnaker Batam Rudi Sakyakirti, Rabu (19/4).

Rata-rata perusahaan yang melapor ke Disnaker adalah yang berskala menengah ke bawah. Sebagaian besar adalah perusahaan pendukung galangan kapal yang tidak lagi bisa beroperasi karena perusahaan induknya tutup.

Sementara perusahaan besar seperti Technip belum melapor. Biasanya, sambung Rudi, mereka baru akan melaporkan ketika manajemen menyelesaikan kewajibannya kepada karyawan. “Mereka wajib lapor ke Disnaker. Kalau tidak, kewajiban mereka akan terus ditagih. Misalnya seperti BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya.

Di lain pihak, jumlah Penanam Modal Asing (PMA) yang merealisasikan investasinya di Batam masih di bawah angka perusahaan yang tutup. Catatan BP Batam menyebutkan, baru ada 13 perusahaan yang masuk sepanjang 2017. Serapan tenaga kerja cukup minim, hanya 411 tenaga kerja.

Serapan tenaga kerja paling banyak adalah perusahaan pendukung migas, yakni 211 tenaga kerja. Investasi perusahaan di sektor ini juga terbilang besar, mencapai 33,829 juta dolar Amerika atau sekitar Rp449 miliar.

Ketua Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam Yoni Mulyo Widodo mengatakan, jumlah perusahaan yang masuk tahun ini masih jauh dari harapan. Menurut data yang dipaparkannya, setidaknya ada 100.000 tenaga kerja yang tidak diperpanjang kontrak atau di PHK sepanjang 2017 ini.

Rata-rata adalah korban dari lesunya industri galangan kapal di Batam. Sementara 32 perusahaan elektronik yang ada di Batam, menurutnya masih beroperasi tanpa pengurangan tenaga kerja. “Di Tanjunguncang hampir semua galangan kapal mati suri karena tak ada order sama sekali. Sekaran memang posisi bertahan banget,” kata Yoni.

Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam Trinovianto Putra mengatakan, yang paling efektif untuk menggerakan ekonomi adalah aktifnya industri. Jika order industri galangan kapal, oil and gas serta elektronik bisa dimaksimalkan, maka roda ekonomi di Batam bisa lebih aktif berputar. Pasalnya nilai yang didapat dari order-order tersebut sangat besar, dan imbasnya bisa memberikan pendapatan kepada tenaga kerja. “Kami memang perlu mendorong lagi. Ternyata yang benar-benar menggerakan ekonomi adalah dari sisi order,” ujarnya.

Namun masalahnya kondisi ekonomi global yang sedang fluktuatif berdampak kepada minimnya order. Kondisi ini dipicu oleh turunnya harga minyak serta aturan minerba dan hasil pertambangan. Namun dia masih optimistis kondisi akan membaik seiring perbaikan-perbaikan yang dilakukan di Batam. “Ini memang lagi masalah karena dipicu oleh ekonomi global,” kata Putra.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com