SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Homeschooling, Alternatif Pendidikan di Luar Sekolah Formal

  • Reporter:
  • Selasa, 18 April 2017 | 10:52
  • Dibaca : 660 kali
Homeschooling, Alternatif Pendidikan di Luar Sekolah Formal
Sejumlah Siswa SMA Terbuka STIPAK Homeschooling menjalani proses belajar di ruang belajar.

*Belajar Nyaman Tanpa Bully, agar Anak Tak Putus Sekolah

Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah formal tak selamanya sesuai untuk semua anak didik. Maka itu, hadirlah homeschooling yang menawarkan alternatif belajar. Peserta didik merasa lebih nyaman karena bisa menentukan kapan waktu untuk belajar, bermain atau beraktivitas lainnya. Solusi agar anak tak putus sekolah.

“Kelasnya bersih, teman-temannya baik, belajarnya enjoy tapi serius. Pokoknya enak deh,” kalimat itu meluncur dari Jomelvyn Selamat Lioutama, ketika diminta tanggapan tentang lembaga pendidikan STIPAK, salah satu homeschooling di Batam. Jomelvyn merupakan alumni lembaga pendidikan di luar sekolah formal itu.

Tak hanya Jomelvyn, kesan yang kurang lebih serupa juga disampaikan Muhammad Fadhillah Ramadhan Johan, yang menganggap homeschooling tersebut kelasnya rapi, bersih dan nyaman. Selain itu, teman-temannya juga dinilai baik dan ramah.

Bahkan, ada juga siswa lainnya yang mengaku senang mengikuti pendidikan homeschooling lantaran tak terikat dengan situasi belajar yang melulu di dalam kelas.

“Sering outing, banyak kegiatan yang menyenangkan,” kesan lainnya dari Jocelyn Prima Utami, Alumni STIPAK Homeschooling.

Dari beberapa kesan yang disampaikan alumni homeschooling yang berada di Batamcenter tersebut, kenyamanan belajar menjadi alasan mereka memilih alternatif pendidikan itu. Namun, ada juga alasan lain yang membuat para siswa usia sekolah itu memilih homeschooling. Di antaranya, beberapa dari mereka tak kuat mengikuti sistem belajar di sekolah formal. Bahkan, ada juga yang mengalami aksi bullying dari teman atau senior kelas mereka di sekolah umum.

KORAN SINDO BATAM mencoba menggali informasi mendalam tentang keunggulan homeschooling dengan menyambangi STIPAK Homeschooling yang berada Jalan Raya Engku Putri, Komplek Nusantara Golden Blok B Nomor 3B, Batamcenter. Lokasi homeschooling ini diapit ruko-ruko lainnya. Saat datang, pendiri homeschooling itu belum berada di lokasi karena saat itu masih mengawasi ujian nasional.

Homeschooling yang berada di pusat kawasan pemerintahan Kota Batam itu, memiliki taman baca di lantai pertama, dan empat ruang kelas di lantai dua. Belum puas melihat-lihat seluruh ruangan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan homeschooling itu.

Seorang wanita dan pria keluar dari mobil. Sang pria adalah Kepala Sekolah STIPAK Homeschooling, namanya Selamat Yang. Sementara sang wanita, Cecilia, merupakan wakilnya. Sambil menenteng amplop coklat bertuliskan Ujian Nasional, mereka baru pulang dari mengawasi ujian di SMAN 3 Batam.

Pasangan suami istri itu kemudian menyapa KORAN SINDO BATAM yang sebelumnya memang sudah janjian untuk bertemu. Di sela-sela pembicaraan, Selamat tak memungkiri beberapa peserta didik yang belajar di homeschooling yang mereka dirikan sejak 2008 silam itu menjadi alternatif di saat sekolah formal tak bisa memberikan kenyamanan belajar bagi siswa.

“Mereka tak kuat di sekolah, akhirnya putus. Kita menjadi solusi agar mereka bisa melanjutkan pendidikan,” tutur Selamat Yang, Kamis (13/4) lalu.

Ia mengungkapkan, sistem yang begitu ketat di sekolah formal membuat banyak siswa tak mampu mengikuti aturan yang ada. Tak jarang juga, kenakalan atau ulah iseng siswa lain, bahkan yang mengarah pada aksi kekerasan baik secara fisik maupun verbal atau bullying yang membuat seorang siswa ketakutan sehingga pilih menempuh pendidikan di homeschooling.

“Kita bujuk mereka mau sekolah lagi, di homeschooling, kita menyesuaikan kemauan siswa,” ujarnya.

Homeschooling yang ia dirikan ini tak sama dengan homeschooling lainnya. Untuk anak usia belajar atau yang berada pada rentang usia 21 tahun ke bawah, tetap wajib mengikuti pendidikan layaknya sekolah formal, namun dengan aturan yang lebih longgar.

“Kita tak mau mereka hanya dapat ijazah saja, makanya tetap kita berikan pendidikan ajar tapi yang sesuai,” ujarnya.

STIPAK ini memiliki dua sistem pengajaran, yakni homeschooling formal yang menempuh pendidikan sesuai jenjangnya mulai dari SD, SMP dan SMA. Selain itu, lembaga pendidikan ini juga menggelar program sebagai pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ditaja pemerintah.

“Kita punya dua bendera, PKBM sesuai arahan pemerintah, dan homeschooling formal yang merupakan bentuk keseriusan kita memberikan pendidikan pada anak usia sekolah,” ujarnya.

Selamat dan Cecilia mengaku pihaknya tak mengutamakan keuntungan dalam menyelenggarakan pendidikan tersebut, melainkan bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pendidikan. Untuk anak usia belajar, mereka mengaku melarang siswa jika hanya ingin mengambil program belajar kejar paket.

“Anak usia sekolah jangan masuk paket. Kita beri pendidikan sesuai jenjang sekolah terakhir peserta didik,” kata dia.

Di tempat yang sama, Cecilia, Wakil Kepala Sekolah mengungkapkan, anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Ia tak memungkiri masih ada homeschooling yang tak serius dalam memberikan pendidikan pada anak, atau hanya mencari keuntungan semata.

“Kasian mereka, makanya pendidikan harus diperjuangkan. Usia sekolah sebaiknya tetap jalani pendidikan formal meskipun di homeschooling,” katanya.

Homeschooling yang memilik enam tenaga pengajar yang ia pimpin itu tak mematok harga bagi siswa didik. Pihaknya menerapkan subsidi silang bagi siswa yang mampu dan yang kurang mampu.

“Jadi tak bisa dipaksakan, meraka yang mampu membantu yang tak mampu,” ujarnya.

Sampai saat ini, homeschooling yang memiliki slogan “STIPAK Homeschooling Mencerahkan Masa Depan Kita” itu sudah memiliki 30 siswa tingkat SMA, 15 siswa tingkat SMP dan 27 siswa tingkat SD.

“Sejauh ini sudah ada 20 anak yang lulus,” ungkapnya.

Berdirinya STIPAK Homeschooling ini, ujar dia, untuk menciptakan sistem pembelajaran bermutu tinggi yang menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, jujur, disiplin dan berdaya kompetensi untuk kemajuan dunia pendidikan. Bahkan, misinya yakni sistem pembelajaran yang edukatif dan inovatif seiring dengan metode pendidikan terpadu yang diterapkan secara konsisten dan profesional.

“Intinya, suasana pembelajaran yang kondusif menjadikan peserta didik lebih kreatif dan terampil serta berprestasi,” katanya.

Menurut Cecilia, STIPAK juga memiliki banyak kegiatan bagi para peserta didik seperti outing, berenang, dan lain-lain. Bahkan, beberapa lulusan lembaga pendidikan itu sudah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti di Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Atma Jaya Jakarta, UIB, UNIBA dan PTN negeri maupun swasta lainnya. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com