SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

IHSG Tertekan Dipicu Ketidakpastian Ekonomi AS

  • Reporter:
  • Rabu, 7 Februari 2018 | 16:22
  • Dibaca : 87 kali
IHSG Tertekan Dipicu Ketidakpastian Ekonomi AS

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan saat ini pasar saham global mengalami koreksi akibat ketidakpastian perekonomian di Amerika Serikat (AS) yang juga berdampak pada melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, masuknya indeks ke zona merah disebabkan oleh dampak dari perekonomian dunia, terutama di Amerika Serikat. Meski demikian, menurutnya pelemahan ini tidak berlangsung lama. Pasalnya, kinerja para emiten justru menunjukkan hal positif. ”Ini hanya persepsi sesaat karena fundamental ekonomi dan perusahaan kita saat ini masih bagus,” kata Tito kepada sejumlah media di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, saat ini ratarata pasar saham di seluruh dunia memang sedang mengalami koreksi. Namun di Indonesia, termasuk yang beruntung karena pelemahannya tidak terlalu dalam. Berdasarkan data BEI hingga akhir Januari 2018, IHSG berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,46%.

Sedangkan secara year to date per tanggal 5 Februari 2018, pasar modal di Tanah Air berhasil menempatkan posisi ketiga di bawah Shanghai dan Hong Kong dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,12%. Posisi pertama ditempati bursa Shanghai yang tum buh 3,19% dan kedua bursa Hong Kong sebesar 2,46%.

Dengan demikian, posisi pasar saham Indonesia di ASEAN merupakan pertumbuhan paling tinggi hingga saat ini. Meskipun terjadi pelemahan, tapi menurut Tito, penurunan indeks di Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara di regional sehingga mampu menjadikan indeks nomor tiga di dunia.

”Jadi, pertumbuhan saham itu dipengaruhi oleh dua hal, yakni ekonomi dan emiten. Keduanya juga plus minus persepsi, jika ekonomi bagus emiten pun harus bagus,” ujarnya. Tito menjelaskan, pasar global termasuk IHSG mengalami koreksi karena sentimen tentang ketidakpastian ekonomi AS di masa depan.

Hal ini terjadi setelah diangkatnya Jerome Powell sebagai pimpinan The Fed yang baru. Investor menilai Powell akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Dampak dari rencana kebijakan tersebut, yield obligasi US Treasury naik sekitar 2,7%.

Kenaikan yield tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi proyeksi ketakutan inflasi di AS sejalan dengan dirilisnya data tenaga kerja yang menguat dan juga kenaikan upah. ”Jadi, kalau tenaga kerja naik, usaha juga ikut naik, dampaknya ke inflasi, ini akan berbahaya bagi pasar modal kita,” kata Tito. Meski demikian, dia optimis tis dalam waktu dekat IHSG akan kembali melaju di zona hijau.

Dari sembilan emiten yang telah merilis laporan keuangan pada 2017 menunjukkan kinerja positif, yaitu tumbuh hingga 22%. Di sisi lain, harga komoditas selama tiga bulan terakhir ini juga mengalami pertumbuhan. Demi mengatasi ketidakpastian perekonomian global, Tito meminta kepada seluruh emiten agar menyerahkan laporan keuangannya menjadi lebih cepat.

Dia menilai kinerja perusahaan yang melantai di bursa cukup memuaskan. Apalagi pertumbuhan IHSG sepanjang tahun lalu mencapai angka hampir 20%. ”Tunjukkan bahwa kinerja perusahaan kita bagus, jadi tolong kepada emiten-emiten yang sahamnya bagus dipercepat laporan keuangannya,” kata dia.

Menurut Tito, kinerja sebagian besar emiten sepanjang tahun 2017 cukup memuaskan. Dia bahkan telah berkomunikasi dengan sejumlah perusahaan besar dan memasti kan bahwa tidak ada arahan untuk melakukan penjualan dari investor asing. Sebagai informasi, IHSG kemarin ditutup merosot 111,13 poin atau 1,69% ke level 6.478,54.

Bahkan indeks sempat jatuh 2,47% atau 162,86 poin ke level 6.436,82 pada penutupan di pasar modal sesi pertama. Koreksi tersebut melanjutkan pada hari sebelumnya yang ditutup melemah 39,15 poin atau 0,59% menuju level 6.589,67. Dihubungi terpisah, analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menjelaskan, dalam beberapa hari ini pergerakan IHSG akan lebih memilih berada di zona merah seiring maraknya aksi jual setelah berimbas aksi sell off di bursa saham AS.

”Pergerakan bursa saham global yang cenderung melemah karena kekhawatiran akan kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan cenderung agresif di bawah Powell setelah menggantikan Yellen, turut berimbas pada aksi jual yang terjadi pada IHSG,” kata Reza.

Menurut Reza, pergerakan indeks akan berada di bawah target support 6.567-6.578. IHSG juga diperkirakan berada pada kisaran support 6.395-6.445 dan resisten 6.512-6.530. Laju indeks yang berada di bawah support tersebut menunjukkan maraknya aksi jual lebih mendominasi dibandingkan dengan aksi beli.

Eropa dan AS Turut Anjlok

Pasar saham di Eropa dan Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan menyusul buruknya pasar saham di Asia, kemarin. Nilai investasi di Inggris, Jerman, dan Prancis anjlok dengan rata-rata kerugian 3%, sedangkan AS 4,6%. Adapun Nikkei 225 di Jepang tutup dengan 4,7%.

Penjualan saham mulai merebak pada pekan lalu setelah pertumbuhan upah menguat di AS. Hal itu menaikkan harapan bahwa suku bunga di AS akan mulai meningkat lebih cepat dalam mengatasi inflasi. Seperti dilansir BBC , pakar ekonomi mengatakan dalam jangka pendek investor harus siap menghadapi pasar berombak.

”Yang harus kita ingat ialah pasar saham memiliki pertumbuhan yang sangat mulus dan tidak pernah terjatuh lebih dari 3% selama 15 bulan. Di sini terjadi ketidak stabilan yang tidak biasa,” ujar Jane Sydenham, kepala investasi di broker saham Rathbones.

Erin Gibbs dari S&P Global Market Intelligence mengata kan ini bukan keruntuhan eko nomi. ”Ini menunjukkan eko nomi sebenarnya menjadi lebih baik daripada yang diperkira kan. Jadi, kita perlu melakukan eva luasi ulang,” katanya.

heru febrianto/ muh shamil

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com