SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Intimidasi AS Tidak Berdampak Serius

  • Reporter:
  • Jumat, 22 Desember 2017 | 17:28
  • Dibaca : 147 kali
Intimidasi AS Tidak Berdampak Serius

NEW YORK – Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap membahas keputusan kontroversial Amerika Serikat (AS) tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel digelar di tengah intimidasi Washington.

Meskipun keputusan Sidang Umum PBB tidak mengikat, tapi itu akan berjalan lancar dan mudah. Mayoritas anggota PBB dipastikan menolak kebijakan Presiden AS Donald Trump tersebut. Mereka tetap akan mendukung Palestina pada Sidang Umum PBB yang digelar kemarin waktu setempat.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley memperingatkan kalau dia akan mencatat negara yang menentang keputusan AS tentang Yerusalem. Bahkan, Presiden AS mengancam akan memutuskan bantuan kepada negara yang melawan AS tersebut.

Palestina dan Turki memandang AS telah melakukan intimidasi. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengabaikan pernyataan Haley dan Trump. “Dunia telah berubah,” ujar Cavusoglu dilansir Al Jazeera . Dia mengatakan kalau dunia kini bangkit untuk melawan ketidakadilan.

“Pendapat, saya berkuasa maka saya benar telah berubah,” papar Cavusoglu. Dia menambahkan, tidak ada bangsa terhormat dan tidak bangsa terhormat yang tunduk pada tekanan tersebut. Menurut Cavusoglu, Turki memandang kalau AS yang ditinggal sendirian, kini beralih memberikan ancaman.

“Tidak ada negara terhormat dan bermartabat yang akan tunduk pada tekanan ini,” kata Cavusoglu. Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki mendukung pernyataan tersebut. “Itu adalah definisi tatanan dunia dalam politik,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, Pemerintahan AS menekan keinginan mereka terhadap realitas politik karena banyak negara menolaknya. Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga telah bertemu dengan Raja Salman di Istana Al-Yamamah di Riyadh pada Rabu (20/12/2017).

Selama pertemuan tersebut, Raja Salman menegaskan kembali dukungan Arab Saudi bagi Palestina sebagai negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Juru bicara delegasi Palestina untuk PBB Riyad Mansour memperkirakan akan mendapatkan dukungan luas untuk Yerusalem.

“Yerusalem merupakan isu yang harus diselesaikan antara Israel dan Palestina,” katanya. Mansour menegaskan dukungan untuk Palestina di Sidang Umum PBB akan mencapai 180 negara. “Mengenai kedaulatan, kita akan mendapatkan dukungan 160 negara.

Tentang isu Yerusalem, kita akan meraih 170 negara yang menentang keputusan AS,” katanya kepada Arab News . Juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres menolak berkomentar mengenai ancaman Trump dan Haley. Kemudian diplomat senior Barat yang enggan disebutkan namanya menggambarkan strategi Haley merupakan taktik yang jelek di PBB.

“Haley tidak akan menang di Sidang Umum atau Dewan Keamanan. Tapi dia akan menang pada pemungutan suara di AS,” ujar diplomat senior tersebut. Sebelumnya Presiden AS Trump mengancam akan menghentikan bantuan keuangan kepada negara-negara yang mendukung resolusi PBB untuk menentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Mereka mendapatkan jutaan dolar dan bahkan miliaran dolar dan mereka memberi suara yang menentang kita,” ancam Trump. “Biarkan mereka bersuara untuk melawan kita. Kita akan menghemat banyak. Kita tidak peduli,” katanya. Ancaman Trump tersebut disampaikan menjelang pemungutan suara di Sidang Umum PBB.

Namun, rancangan resolusi tidak menyebut Amerika Serikat secara khusus bahwa setiap keputusan tentang Yerusalem seharusnya dibatalkan. Keputusan Trump menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu sejumlah aksi unjuk rasa.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperingatkan negara anggota PBB bahwa Presiden Trump memintanya melaporkan ‘siapa yang menentang melawan kita’ pada pemungutan suara Sidang Umum PBB. Haley memperingatkan dalam sebuah surat ke belasan anggota PBB agar mereka tahu bahwa presiden dan AS melihat pemungutan suara sebagai hal pribadi.

“Presiden Trump akan memantau pemungutan suara dengan hati-hati dan sudah meminta saya melaporkan tentang negara-negara yang menentang kita,” ujar Haley. “Kami akan mencatat masing-masing semua suara dalam masalah ini,” katanya dilansir Reuters .
Israel menduduki kawasan timur kota itu yang sebelumnya dikuasai Yordania saat Perang Timur Tengah 1967. Israel kemudian menganggap seluruhnya sebagai ibu kota yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Sementara Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota dari negara masa depan dan berdasarkan Kesepakatan Oslo tahun 1993, maka status akhirnya akan ditetapkan dalam tahap berikut perundingan damai Israel-Palestina.

andika hendra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com