SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Israel Bombardir Palestina

  • Reporter:
  • Minggu, 10 Desember 2017 | 14:24
  • Dibaca : 586 kali
Israel Bombardir Palestina
Koran Sindo.

GAZA –Israel merespons kemarahan warga Palestina secara membabi buta. Kemarin negeri tersebut melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza yang mengakibatkan dua warga Palestina tewas dan 25 orang lain terluka.

Israel mengklaim serangan tersebut sebagai bentuk balasan atas peluncuran roket pejuang Islam Hamas ke arah wilayah Israel. Hamas menembakkan sedikitnya tiga roket ke kota-kota Israel dari Jalur Gaza, Jumat (8/12/2017) pada “Hari Kemarahan”. Itu sebagai bentuk protes pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

“Pesawat tempur IAF (Angkatan Udara Israel) menarget empat fasilitas milik Hamas di Jalur Gaza. Dua pabrik senjata, satu gudang senjata, dan satu kompleks militer,” demikian keterangan militer Israel, dilansir Reuters. Berdasar keterangan Kementerian Kesehatan Palestina seperti dilansir CNN, serangan udara mengakibatkan dua orang tewas dan puluh an lain terluka.

Namun, serangan tidak menciutkan semangat masyarakat Palestina. Pejabat Hamas yang tidak disebutkan namanya itu menyarankan agar rakyat Palestina tetap melanjutkan konfrontasi dengan pasukan Israel. Selain serangan udara, reaksi pasukan Israel terhadap rangkaian demonstrasi di Palestina juga memakan korban jiwa.

Dua warga Palestina tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel diperbatasan Gaza pada Jumat lalu. Aksi protes itu juga menyebabkan lebih dari 300 warga Palestina terluka dalam aksi unjuk rasa di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem. Luapan kemarahan warga Palestina merupakan reaksi atas sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel (6/12/2017).

Sikap ini juga memantik reaksi dari berbagai negara dan lembaga dunia. Reaksi keras tentu saja disampaikan negara-negara muslim. Di berbagai negara Arab dan muslim, ribuan orang turun ke jalanan untuk menyampaikan solidaritas terhadap warga Palestina dan ke marahan kepada Trump. Ribu an orang menggelar demonstrasi di Yordania, Mesir, Irak, Turki, Tunisia, dan Iran.

Demo nstrasi mendukung Palestina juga digelar di Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, dan Indonesia. Pengumuman pengakuan Trump memicu kekhawatiran di dunia Arab dan kekecewaan pada aliansi AS di Eropa. Status Yerusalem merupakan permasalahan terbesar dalam kesepakatan perdamaian antara Israel dan Palestina dari generasi ke generasi. Israel menganggap seluruh Yerusalem adalah ibu kotanya.

Sedangkan Palestina menginginkan wilayah timur Yerusalem sebagai ibu kotanya. Sebagian besar negara di dunia menganggap Yerusalem Timur yang dicaplok Israel pada Perang Timur Tengah 1967 merupakan teritorial pendudukan. Itu meliputi kota tua yang dianggap sebagai tempat suci bagi umat muslim, Yahudi, dan Kristen.

Saudi Punya Rencana Lain

Arab Saudi tidak banyak bereaksi dengan pernyataan Trump tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Tidak banyak kecaman yang diungkapkan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud. Tetapi, para pejabat Palestina mengungkapkan Riyadh selama beberapa pekan terakhir bekerja di belakang layar untuk mendorong rencana perdamaian AS.

Empat pejabat Palestina yang enggan di se but kan namanya menjelaskan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas men diskusikan tentang tawar-menawar besar yang akan diungkap pada 2018.

“Pangeran Mohammed berkata kepada Abbas: ‘Bersabarlah, kamu akan mendengar kabar baik. Proses perdamaian akan jalan terus’,” kata pejabat Palestina di lansir Reuters. Itu disam pai kan Pangeran Mohammed saat bertemu Abbas di Riyadh pada November lalu.

Hal yang sama juga diungkapkan para pejabat Saudi yang meng ungkapkan Riyadh men du kung strategi AS yang lebih luas dalam perdamaian Palestina-Israel. Kabar yang beredar bahwa Saudi juga menyarankan agar Palestina menjadikan Abu Dis sebagai ibu kota alternatif bagi Palestina. Abu Dis merupakan sebuah kota tua di Palestina yang berada dekat Yerusalem Timur.

Menurut Perjanjian Oslo, Abu Dis masuk dalam Wilayah B yang diatur bersama Israel dan Otoritas Palestina. Tapi, berbagai usulan Saudi dan AS sepertinya akan ditolak Yordania yang memiliki peran penting dalam proses perdamaian Palestina-Israel sejak 1994. Amman menegaskan tidak ada perdamaian yang dicapai tanpa Yerusalem. “Amman khawatir diabaikan oleh Saudi,” kata analis politik Yordania Oraib Rantawi.

AS Membela Diri

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nikki Haley meng ungkapkan sikap Washington sudah sangat jelas tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. “AS terus berkomitmen untuk mencapai kesepakatan damai yang abadi,” tutur Haley. Meski demikian, Haley menjelaskan, Washington memiliki kredibilitas sebagai mediator dalam perundingan Israel dan Palestina.

Dia malah menuding PBB bersikap biasa dalam persoalan Palestina-Israel. Dia menyebut PBB sebagai salah satu pihak di dunia yang terusmenerus memusuhi Israel. “Israel tidak akan pernah, dan tidak seharusnya, diintimidasi oleh PBB atau oleh kumpulan negara-negara yang terbukti tidak peduli terhadap keamanan Israel,” kata Haley.

Sedangkan Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Italia meminta AS untuk menjelaskan detail tentang proposal perdamaian Palestina- Israel. Mereka juga menganggap keputusan Trump tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel sebagai keputusan yang tidak membantu penyelesaian konflik tersebut.

(andika hendra)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com