SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Jadi Lokasi Syuting Film Asing, Sering Libatkan Warga Nongsa Jadi Figuran

Jadi Lokasi Syuting Film Asing, Sering Libatkan Warga Nongsa Jadi Figuran

Mengunjungi Infinite Studios Batam, Studio Film dan Animasi Terbesar Se-Indonesia

Batam punya studio film dan animasi terbesar se-Indonesia. Soundstage (indoor studio)-nya malah pernah terbesar se-Asia Tenggara, sebelum ditandingi oleh Johor Bahru, Malaysia. Seperti apa isi studio di lahan seluas 10 hektare yang jadi lokasi produksi film-film internasional itu?

Meri tak henti-henti mengarahkan kamera pada berbagai properti untuk keperluan syuting film yang tersebar di mana-mana, bahkan di luar lokasi soundstage. Baru saja sampai, Minggu (12/3) siang itu, pengunjung Infinite Studios yang terdiri dari para blogger siang itu sudah disuguhi berbagai properti yang menakjubkan.

“Tiang-tiang besar ini misalnya, tidak permanen. Ini bisa sewaktu-waktu dibongkar untuk keperluan syuting,” ujar Public Relation Infinite Studios, Bella Yolanda.

Penasaran, beberapa pengunjung ada yang mengetok-ketok dinding itu.

“Benar, ini nggak beton beneran,” kata salah seorang blogger.

Tak hanya tiang, lampu-lampu seperti lonceng yang tergantung di langit-langit juga menghiasi kantin, bangunan paling depan yang menghubungkan arah menuju soundstage dan studio outdoor.

Dari kantin yang jadi titik ketemu para peserta tur siang itu, Bella lalu mengajak pengunjung untuk melangkah agak ke dalam. Di dekat pintu keluar yang menghubungkan ke kantor Infinite Studios ada jam besar dan beberapa vespa tua.

“Ini juga properti film. Jam ini kemarin untuk syuting film Joker Game, film Jepang yang rilis pada 2015 lalu,” terang Bella.

Sementara vespanya adalah properti untuk syuting film 1965. Sebuah film yang mengisahkan tentang kemerdekaan Singapura. Sejak berdiri pada 2005 lalu, Infinite Studios Batam memang menjadi studio animasi yang berkembang pesat. Tak hanya industri animasi, Infinite juga merambah industri film. Banyak film berskala internasional yang diproduksi di Infinite.

“Terakhir film yang diproduksi di sini adalah Halfworlds Season 2. Film bersetting Bangkok itu dikerjakan 50 persen di sini,” kata Bella.

Film bergenre horor yang dikemas versi Hollywood itu ditayangkan di HBO Asia. Bintang-bintang ternama kawasan Asia, mulai dari Thailand, Filipina, Taiwan hingga Indonesia turut terlibat di film itu, termasuk di antaranya Arifin Putra dn Reza Rahardian. Bahkan sebelumnya, Halfworlds Season 1 malah seluruhnya diproduksi di Infinite Studios Batam.

“Kalau yang session 1 itu settingnya Jakarta, makanya syutingnya di sini, studionya dibikin set lokasi seperti di Jakarta,” tutur Bella.

Memasuki Studio Office atau kantornya Infinite Studios, poster-poster film yang telah diproduksi di tempat itu terpajang di dinding juga lorong-lorong jalan. Poster aktor Iko Uwais yang tengah bertarung dengan monster juga ada di sana. Bocorannya, film Hollywood berjudul Beyond Skyline itu akan segera tayang di bioskop dan saat ini sudah selesai syuting.

“Film itu 60 persen syuting di Los Angeles, lalu 50 persennya di Indonesia, termasuk di Solo dan Batam,” ujar Bella.

Masih di bagian bangunan office tersebut ada berbagai ruangan yang terpisah-pisah. Ada ruang wadrobe, make up, hingga soundstage 1 dan 2.

“Soundstage 1 luasnya 14 ribu meter persegi, sedangkan soundstage 2 lebih luas, 30 ribu meter persegi,” kata Bella.

Soundstage 1 sudah lumayan kosong karena properti di tempat itu sudah banyak yang dihancurkan. Setiap selesai syuting biasa set lokasinya memang dibongkar. Tak heran jika di soundstage 1 kini hanya tersisa puing-puing kabin pesawat bekas syuting film I love You from 38.000 (2016). Serta sumur untuk keperluan syuting film Headshot (2016).

Sementara itu Soundstage 2 masih lumayan utuh set lokasinya jika dibandingkan soundstage 1. Set lokasinya adalah Bangkok Underground. Setting itu dibuat hanya dalam waktu 1,5 bulan itu dipakai untuk syuting film Halfworlds Season 2.

Ada beberapa ruangan sementara di sana. Di antaranya setting klub malam Bangkok. Lengkap dengan bar, kursi-kursi hingga panggung untuk hiburan. Dindingnya dibuat semirip mungkin dengan klub-klub yang ada di Bangkok Underground. Lalu di bagian belakang terdapat kerangkeng besar serta tribun tempat para penonton duduk.

“Kerangkeng itu untuk scene fighting. Saat syuting diperlukan 200-an figuran sebagai penonton adegan fighting,” kata Bella.

Untuk figuran penduduk Batu Besar sering dilibatkan. Kendati film tersebut sudah usai syuting pada November lalu, dan sudah tayang pada 22 Januari 2017 namun set lokasi itu dipertahankan hingga saat ini untuk keperluan publikasi.

“Hingga Mei mendatang set lokasi Bangkok ini belum dibongkar. Nanti kalau film selanjutnya yang mau diproduksi di sini sudah fix, ya terpaksa dibongkar dan diganti dengan setting baru sesuai filmnya,” jelas Bella.

Tak hanya klub ala Bangkok, di soundstage 2 juga ada semacam bunker penyiksaan untuk keperluan syuting film Dead Mine (2011), juga ada raungan dengan kursi dan rantai-rantai penyiksaan untuk keperluan syuting Halfworlds Season 2.

Selesai mengelilingi ruangan dan lorong-lorong gelap di Soundstage 2, peserta tur lalu diajak keluar untuk melihat backlot. Studio outdoor itu lebih terlihat seperti kota tua. Tempat itu sudah digunakan untuk syuting 5-6 film. Termasuk diantaranya, Serangoon Road (2013), Headshot (2016), Joker Game, 1965 dan beberapa film lain.

“Ini sekarang settingnya mirip China Town karena terakhir untuk syuting film yang berhubungan dengan Bangkok. Biasanya dirombak hanya dibagian yang dibutuhkan untuk di syuting saja,” kata Bella.

Namun tak menutup kemungkinan, setting kota tua itu akan dirobohkan jika film yang akan di produksi di tempat itu memiliki setting yang amat berbeda. Bangunan-bangunan di tempat itu seperti tembok-temboknya memang tidak permanen. Semua menggunakan bahan gypsum.

Di backlot tersebut terdapat halte, lampu lalu lintas, juga toko-toko beraneka ragam, mulai butik, toko obat, restoran, kafe, toko keperluan pemakaman, toko rotan dan lain-lain. Tingginya juga beragam, ada yang tingkat dua hingga tingkat tiga. Bus beraneka ukuran, mobil ambulan, kereta, becak, sepeda hingga puing-puing pesawat terdapat di tempat itu. Semuanya adalah properti syuting.

Film-film yang diproduksi di Infinite Studios Batam kebanyakan memang film berkelas internasional, meskipun banyak juga yang melibatkan artis Indonesia. Namun untuk pengerjaan properti dan set lokasi Infinite menggunakan tenaga lokal.

Demikian pula industri animasinya. Infinite Studios Batam telah memiliki 350 animator yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Ada juga yang dari luar negeri, tapi jumlahnya tak banyak. Di akhir tahun jumlah animator ini akan ditambah sehingga menjadi 450 orang.

Film animasi Meraih Mimpi (2008) dengan versi Bahasa Inggris Sing to The Dawn misalnya, juga diproduksi di Infinitie. Film itu tak hanya ditayangkan di Indonesia, tetapi juga di Singapura dan beberapa negara lain di Eropa. Sejak 2006 Infinite Studios telah memproduksi serial TV untuk klien dari Inggris (Peter Rabbit), Prancis (Garfield), dan Kanada (Franklin Turtle).

Salah satu blogger yang ikut jadi peserta tur, Danan Wahyu sempat mengatakan kekagumannya dengan standarisasi Infinite Studios yang tak kalah dengan tempat-tempat produksi di luar negeri.

“Ya buktinya Infinite bisa men-support berbagai film mancanegara. Itu kan sebuah prestasi,” ujarnya.

Danan juga menyebut tempat seperti Infinite bisa dikembangkan jadi destinasi wisata dan edukasi, sehingga ke depannya banyak anak muda yang tertarik dengan dunia film dan animasi.**

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com